S-400 Russia Membuktikan Ketangguhannya di Suriah

Sistem rudal pertahanan udara S-400 Rusia menjadi ramai diperbincangkan setelah Moskow mengancam akan menembak jatuh setiap peluru kendali (rudal) Amerika Serikat yang ditembakkan ke Suriah. Sebab, sistem anti-pesawat tercanggih Moskow itu jadi pelindung terkuat bagi rezim Presiden Bashar Al-Assad saat ini.

Administrasi Donald Trump sudah bernafsu ingin menggempur rezim Assad atas tuduhan melakukan serangan senjata kimia di Douma, Ghouta timur, pada Sabtu pekan lalu yang dilaporkan menewaskan puluhan orang. Suriah dan Russia menyangkal rezim Assad sebagai pelaku dan menuduh serangan itu rekayasa LSM White Helmets dan kelompok Jaish al-Islam untuk memfitnah rezim Assad agar diserang negara-negara Barat.

Awalnya, Duta Besar Rusia untuk Lebanon, Alexander Zasypkin, memperingatkan Washington untuk tidak menyerang Suriah karena akan direspons oleh militer Moskow."Jika ada serangan oleh Amerika, maka... rudal akan jatuh dan bahkan sumber dari mana misil di tembakkan (akan ditargetkan)," kata Zasypkin yang disiarkan stasiun televisi al-Manar, media yang dikelola Hizbullah Lebanon, kemarin.

"Bentrokan harus dikesampingkan dan oleh karena itu kami siap untuk mengadakan negosiasi," ujar diplomat Rusia ini.
Peringatan diplomat Moskow ini rupanya menyinggung perasaan Presiden Trump. Pemimpin Amerika itu justru menantang balik Rusia untuk bersiap menyambut rudal Washington yang dia klaim bagus, baru dan "pintar".

"Rusia bersumpah akan menembak jatuh semua rudal yang ditembakkan ke Suriah. Bersiaplah Rusia, karena mereka akan datang, bagus, baru dan "pintar," tulis Trump melalui akun Twitter-nya, @realDonaldTrump.

Kicauan Trump di unggah setelah pemerintah Rusia mengancam memberikan reaksi keras kepada Amerika jika negara tersebut menyerang Suriah dalam kaitan tudingan melakukan serangan kimia. Rusia adalah sekutu Assad dan mengerahkan personel militernya di Suriah.

"Anda tidak seharusnya bermitra dengan binatang pembunuh gas yang membunuh orang-orangnya dan menikmatinya!," lanjut Trump menyindir Presiden Assad yang dituduh melakukan serangan senjata kimia di Douma.

Selama S-400 dirancang untuk menghancurkan pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik, termasuk rudal jarak menengah. Sistem pertahanan ini juga dapat digunakan untuk melawan serangan darat.

S-400 pertama kali dikenalkan ke Suriah pada tahun 2015. Peralatan ini dklaim mampu menjadi "payung" udara Suriah hingga radius 248 mil. Kelebihan lainnya, mampu menembak hingga 80 target secara bersamaan dan rudal ditembakkan dapat melesat lebih dari 10.000 mph.

China dan beberapa negara Arab seperti Iran, Turki dan Arab Saudi telah tertarik dengan sistem pertahanan uang harga per unitnya mencapai USD400 juta tersebut.

Rusia pada mulanya mengerahkan S-400 ke pangkalannya di Khemeimin, Suriah, untuk mencegah Turki setelah jet tempur Ankara menembak jatuh sebuah pesawat pembom Moskow pada November 2015 lalu.

Efektif atau tidaknya sistem pertahanan kebanggaan Kremlin ini untuk melindungi rezim Assad dari gempuran rudal AS masih perlu pembuktian nyata. Fakta bahwa S-400 belum terlibat langsung dalam pertempuran, melainkan hanya dalam taraf uji coba.

Sejatinya, sistem pertahanan udara manapun di dunia belum tentu sempurna. Sebagai contoh, sistem rudal pertahanan Patriot AS pernah dilaporkan gagal diandalkan dalam menjatuhkan rudal musuh, seperti dalam kasus rudal balistik Houthi di Yaman terhadap Riyadh, Arab Saudi, yang menewaskan seorang warga Mesir belum lama ini.

Sistem Patriot juga tak digunakan Jepang ketika rudal balistik Korea Utara beberapa kali melintasi wilayah udara atau langit Jepang beberapa waktu lalu. Sistem rudal pertahanan THAAD dan sistem rudal pertahanan Aegis juga belum teruji dalam pertempuran.

Berbeda halnya dengan sistem pertahanan Iron Dome Israel yang pernah terlibat pertempuran langsung dengan Hamas. Itu pun memiliki kelemahan, di mana beberapa waktu lalu sistem Iron Dome terkecoh oleh suara senapan mesin Hamas yang dikira serangan roket.

Kembali ke S-400 Rusia. Meski diklaim mampu membidik 80 target rudal secara bersamaan, namun rezim Suriah kali ini diancam oleh militer tiga negara. Yakni, AS, Inggris, dan Perancis. Bahkan, Arab Saudi juga menyatakan siap ikut jika diminta sekutunya.

Sebaliknya, jika S-400 Rusia terbukti jadi "payung" pelindung rezim Assad dari gempuran militer tiga negara itu, maka tidak mungkin mata dunia tidak akan terpikat pada sistem rudal pertahanan kebanggan Kremlin tersebut.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, rudal "cerdas" seharusnya terbang ke arah teroris, bukan ke pemerintah. Damaskus dan Moskow merujuk pada pemberontak yang menyerang rezim Assad yang disebutnya teroris. Pemerintah Suriah dan Rusia menegaskan, laporan adanya serangan gas beracun di Kota Douma adalah palsu.

Bagaimana dengan korban Douma?

Dalam kesempatan terpisah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan 43 orang tewas dalam serangan Sabtu lalu di kota Douma. WHO menyebutkan adanya gejala konsisten akibat terpapar bahan kimia, dan lebih dari 500 korban seluruhnya telah diobati. WHO mendesak dibukanya akses untuk menyelidiki kasus ini di Douma.

Bukan hanya di Suriah, Moskow, dan Washington juga saling jegal di Dewan Keamanan PBB untuk pengusutan penyelidikan internasional terhadap serangan senjata kimia di Suriah.

Sumber:
  1. sindonews
  2. korantempo

Akhirnya! S-400 Rusia Membuktikan Ketangguhannya

S-400 Russia Membuktikan Ketangguhannya di Suriah

Sistem rudal pertahanan udara S-400 Rusia menjadi ramai diperbincangkan setelah Moskow mengancam akan menembak jatuh setiap peluru kendali (rudal) Amerika Serikat yang ditembakkan ke Suriah. Sebab, sistem anti-pesawat tercanggih Moskow itu jadi pelindung terkuat bagi rezim Presiden Bashar Al-Assad saat ini.

Administrasi Donald Trump sudah bernafsu ingin menggempur rezim Assad atas tuduhan melakukan serangan senjata kimia di Douma, Ghouta timur, pada Sabtu pekan lalu yang dilaporkan menewaskan puluhan orang. Suriah dan Russia menyangkal rezim Assad sebagai pelaku dan menuduh serangan itu rekayasa LSM White Helmets dan kelompok Jaish al-Islam untuk memfitnah rezim Assad agar diserang negara-negara Barat.

Awalnya, Duta Besar Rusia untuk Lebanon, Alexander Zasypkin, memperingatkan Washington untuk tidak menyerang Suriah karena akan direspons oleh militer Moskow."Jika ada serangan oleh Amerika, maka... rudal akan jatuh dan bahkan sumber dari mana misil di tembakkan (akan ditargetkan)," kata Zasypkin yang disiarkan stasiun televisi al-Manar, media yang dikelola Hizbullah Lebanon, kemarin.

"Bentrokan harus dikesampingkan dan oleh karena itu kami siap untuk mengadakan negosiasi," ujar diplomat Rusia ini.
Peringatan diplomat Moskow ini rupanya menyinggung perasaan Presiden Trump. Pemimpin Amerika itu justru menantang balik Rusia untuk bersiap menyambut rudal Washington yang dia klaim bagus, baru dan "pintar".

"Rusia bersumpah akan menembak jatuh semua rudal yang ditembakkan ke Suriah. Bersiaplah Rusia, karena mereka akan datang, bagus, baru dan "pintar," tulis Trump melalui akun Twitter-nya, @realDonaldTrump.

Kicauan Trump di unggah setelah pemerintah Rusia mengancam memberikan reaksi keras kepada Amerika jika negara tersebut menyerang Suriah dalam kaitan tudingan melakukan serangan kimia. Rusia adalah sekutu Assad dan mengerahkan personel militernya di Suriah.

"Anda tidak seharusnya bermitra dengan binatang pembunuh gas yang membunuh orang-orangnya dan menikmatinya!," lanjut Trump menyindir Presiden Assad yang dituduh melakukan serangan senjata kimia di Douma.

Selama S-400 dirancang untuk menghancurkan pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik, termasuk rudal jarak menengah. Sistem pertahanan ini juga dapat digunakan untuk melawan serangan darat.

S-400 pertama kali dikenalkan ke Suriah pada tahun 2015. Peralatan ini dklaim mampu menjadi "payung" udara Suriah hingga radius 248 mil. Kelebihan lainnya, mampu menembak hingga 80 target secara bersamaan dan rudal ditembakkan dapat melesat lebih dari 10.000 mph.

China dan beberapa negara Arab seperti Iran, Turki dan Arab Saudi telah tertarik dengan sistem pertahanan uang harga per unitnya mencapai USD400 juta tersebut.

Rusia pada mulanya mengerahkan S-400 ke pangkalannya di Khemeimin, Suriah, untuk mencegah Turki setelah jet tempur Ankara menembak jatuh sebuah pesawat pembom Moskow pada November 2015 lalu.

Efektif atau tidaknya sistem pertahanan kebanggaan Kremlin ini untuk melindungi rezim Assad dari gempuran rudal AS masih perlu pembuktian nyata. Fakta bahwa S-400 belum terlibat langsung dalam pertempuran, melainkan hanya dalam taraf uji coba.

Sejatinya, sistem pertahanan udara manapun di dunia belum tentu sempurna. Sebagai contoh, sistem rudal pertahanan Patriot AS pernah dilaporkan gagal diandalkan dalam menjatuhkan rudal musuh, seperti dalam kasus rudal balistik Houthi di Yaman terhadap Riyadh, Arab Saudi, yang menewaskan seorang warga Mesir belum lama ini.

Sistem Patriot juga tak digunakan Jepang ketika rudal balistik Korea Utara beberapa kali melintasi wilayah udara atau langit Jepang beberapa waktu lalu. Sistem rudal pertahanan THAAD dan sistem rudal pertahanan Aegis juga belum teruji dalam pertempuran.

Berbeda halnya dengan sistem pertahanan Iron Dome Israel yang pernah terlibat pertempuran langsung dengan Hamas. Itu pun memiliki kelemahan, di mana beberapa waktu lalu sistem Iron Dome terkecoh oleh suara senapan mesin Hamas yang dikira serangan roket.

Kembali ke S-400 Rusia. Meski diklaim mampu membidik 80 target rudal secara bersamaan, namun rezim Suriah kali ini diancam oleh militer tiga negara. Yakni, AS, Inggris, dan Perancis. Bahkan, Arab Saudi juga menyatakan siap ikut jika diminta sekutunya.

Sebaliknya, jika S-400 Rusia terbukti jadi "payung" pelindung rezim Assad dari gempuran militer tiga negara itu, maka tidak mungkin mata dunia tidak akan terpikat pada sistem rudal pertahanan kebanggan Kremlin tersebut.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, rudal "cerdas" seharusnya terbang ke arah teroris, bukan ke pemerintah. Damaskus dan Moskow merujuk pada pemberontak yang menyerang rezim Assad yang disebutnya teroris. Pemerintah Suriah dan Rusia menegaskan, laporan adanya serangan gas beracun di Kota Douma adalah palsu.

Bagaimana dengan korban Douma?

Dalam kesempatan terpisah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan 43 orang tewas dalam serangan Sabtu lalu di kota Douma. WHO menyebutkan adanya gejala konsisten akibat terpapar bahan kimia, dan lebih dari 500 korban seluruhnya telah diobati. WHO mendesak dibukanya akses untuk menyelidiki kasus ini di Douma.

Bukan hanya di Suriah, Moskow, dan Washington juga saling jegal di Dewan Keamanan PBB untuk pengusutan penyelidikan internasional terhadap serangan senjata kimia di Suriah.

Sumber:
  1. sindonews
  2. korantempo

No comments