pengertian-babad-dan-contohnya,-pengertian-babad-tanah-jawi,-pengertian-babad-dan-hikayat,-pengertian-babad-cirebon,-pengertian-babadontot,-pengertian-babad-demak

Babad Sebagai Sumber Sejarah Islam Di Nusantara

Penulisan sejarah Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan teks babad sebagai salah satu sumber sejarah. Sebagaimana Islamisasi di tanah Jawa yang digerakkan oleh Wali Songo banyak diungkap dalam teks babad. Peran Wali Songo di pesisir utara Jawa dalam sumber babad telah banyak memberikan gambaran tentang kapan dan bagaimana Islam masuk ke tanah Jawa, termasuk tentang siapa dan bagaimana Islam disebarkan dan disemaikan di lingkungan masyarakat Jawa.

Babad Demak, Babad Gersik, Babad Majapahit, Babad Cirebon dan Babad Tanah Jawi, dalam berbagai versinya, merupakan sumber historiografi Islam Nusantara yang penting dalam memberikan gambaran kesejarahan proses interaksi antara Islam dan kebudayaan Jawa. Demikian juga halnya tentang interaksi dan reaksinya. Babad Demak, Babad Majapahit, Babad Jaka Tingkir. Babad Pajang, Babad Cirebon, Babad Tanah Jawi dan beberapa serat, seperti Serat Sunan Bonang, Pitutur Seh Bari, Serat Siti Jenar, Serat Cabolek dan Serat Centhini banyak menggambarkan tentang dialog antara Islam dan tradisi budaya lokal.

Mengenai kapan Islam masuk ke tanah Jawa, sumber-sumber Babad menceritakan bahwa komunitas Islam telah tumbuh di lingkungan kota pelabuhan Surabaya, Gresik dan Tuban sekalipun Kerajaan Hindu Majapahit masih berkuasa. Kota-kota pelabuhan Kerajaan Majapait itu sesungguhnya telah tumbuh sejak akhir abad ke-13 dan meningkat pada abad ke-15-16, serta telah memiliki jaringan pelayaran dan perdagangan dengan Pasai dan Malaka, serta daerah Maluku dan Nusa Tenggara Timur. 

Baca Juga: Pengertian Babad: Karya Sastra atau Sejarah?

Sumber Babad juga menjelaskan bahwa penyebaran Islam dilakukan oleh para mubalig atau da’i yang terkenal dengan sebutan Wali yang dalam tradisi Jawa lebih dikenal sebagai “Wali Songo” (Wali Sembilan). Mereka yang banyak disebut dalam Babad antara lain ialah Sunan Ngampel-Denta, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati, Sunan Muria, Sunan Dradjat, Sunan Tembayat, Sunan Wali Lanang (Sunan Malik Ibrahim), dan Sunan Seh Siti Jenar. (Suryo, 2000:4)

Dalam sumber historiografi Jawa, baik dalam bentuk Babad maupun Serat istilah santri, kiai atau ulama telah lama dikenal, terutama dalam kaitan penggambaran proses masuknya Islam dan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Selain itu, babad sebagai sumber lokal banyak memberikan gambaran tentang bagaimana orang Jawa memberikan penghargaan dan penghormatan tinggi kepada raja, guru atau kiai, di samping kepada orang tua atau orang yang dipandang tua, sebagai bagian dari pandangan budayanya. Ada pertanda bahwa pandangan ini merupakan kecenderungan umum yang berlaku dalam kebudayaan Asia.

Demikian pula kepercayaan tentang adanya kelebihan (karomah) dan barokah yang dimiliki oleh para wali, kiai, atau ulama banyak dijumpai dalam sumber-sumber lokal sejarah Jawa. Tidak mengherankan, apabila orang Jawa menempatkan kiai sebagai golongan pemimpin yang kharismatik, seperti halnya Ulama di lingkungan masyarakat Islam lainnya. (Suryo, 2000:5).

 

Sumbangsih Babad dalam Peradaban Islam Di Nusantara

Sumber-sumber babad menurut sejarawan Islam Agus Sunyoto (2016:193-199) telah mengungkapkan fakta sejarah yang menarik misalnya dalam Babad Ngampeldenta diungkap bahwa pengangkatan Raden Rahmat secara resmi sebagai Imam di Surabaya dengan gelar sunan dan kedudukan wali di Ngampeldenta dilakukan oleh Raja Majapahit. Dengan demikian, Raden Rahmat lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngampel. 

Begitu juga dalam Babad Tanah Jawi dituturkan bagaimana Raden Rahmat atau Sunan Ampel dalam upaya memperkuat kekerabatan untuk tujuan dakwah menikahkan Khalifah Usen (nama tempat di Rusia selatan dekat Samarkand) dengan putri Arya Baribin, Adipati Madura.

Dari tilikan teks babad dapat diketahui salah satu hasil proses Islamisasi di Nusantara khususnya di Jawa yang cukup penting adalah lahirnya unsur tradisi keagamaan santri dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat Jawa. Tradisi keagamaan santri ini bersama dengan unsur pesantren dan kiai telah menjadi inti terbentuknya Tradisi Besar (Great Tradition) Islam di Jawa, yang pada hakekatnya merupakan hasil akulturasi antara Islam dan tradisi pra-Islam di Jawa.

Selain itu, Islamisasi di Jawa juga telah melahirkan sebuah tradisi besar Kraton Islam-Jawa, yang menjadikan keduanya, yaitu tradisi santri dan tradisi Kraton, sebagai bagian (subkultur) yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan Jawa. (Suryo, 2000:1) Tradisi keagamaan santri terlihat dalam Babad Demak yang menggambarkan bagaimana Sunan Ampel sebagai guru memberikan ajaran esoteris kepada muridnya Raden Paku (Sunan Giri) yaitu ilmu tasawuf yang didasarkan pada ilmu kalbu sebagaimana dituturkan dalam kalimat berikut:

Jeng sinuhun angandika aris/ mengko raden sira ingsun wejang/ ilmu ingkang sayektine / den dhemit anggonipun/ para raden karepe iki/ ana lafadz kang endah/ dhemit enggonipun/ mengkana unining lafadz/ paran raden karepe puniki/ tegese bi nasrih_//

Raden Paku matur awot sari/ mangsa borong ing ngarsa sampeyan/ dereng dugi kula angger/ ing rahos kang punika/ Sunan Ampel ngandika aris/ bisa nara bisaha/ lah jawaben kulup/ raden paku atur sembah sigra jawab bi ru’yatil fuad/ punika atur kula//

Jeng sinuhun angandika malih/ fa innama tuwallau fatsamma wajhullah paran artine/ rahaden nembah atur/ kabiran alhamdulillah/ lan malih katsiran/ katur pukulun fa subhanallahi bukratan wa ashila inni wajjahtu puniki/ wajhiya mangga karsa//

Apan lafadz tunggale puniki// atur kula dhumateng sampeyan/ jeng sunan pangandikane/ ya bener raden iku/ idhepira dipun tubail/ den jeneng idhepira/ nembah ira iku/ raden cinandhak kang asta/ dipun wejang ilmu ingkang sidiq-sidiq ru’yah kang karu’yatan//

Berdasarkan Babad Demak diatas menurut penafsiran Sjamsudduha ajaran Sunan Ampel berangkat dari tiga kata: bi nasrih, tubadil, dan daim dengan kata kunci bi ru’yatil fuad. Ilmu yang diajarkan itu hanya bisa dipahami melalui mata hati atau mata batin. Inti ajarannya pada fa innama tuwallau fatsamma wajhullah. Kabiran alhamdulillah katsiran, fa subhanallahi bukratan wa ashila, inni wajjahtu wajhiya. (Sunyoto, 2016:200).

Dari teks-teks babad diatas memperlihatkan Islamisasi di Jawa telah melahirkan peradaban santri sebagaimana pernyataan Benda (1983:12-14) yang menyebutkan bahwa peradaban santri memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan agama, masyarakat dan politik.

Sementara Geertz (1976) memandang kehadiran Islam di Jawa telah menjadikan terbentuknya varian sosio-kultural masyarakat Islam di Jawa yang disebut Santri, yang berbeda dari tradisi sosio-kultural lainnya, yaitu Abangan dan Priyayi. Dari perspektif historis menunjukkan bahwa tradisi Santri secara berkelanjutan telah menjadi basis kekuatan sosial politik pada masa awal pendirian kerajaan Islam Demak, Cirebon dan Banten di daerah pesisir utara Jawa dan pada masa kerajaan Mataram Islam di daerah pedalaman Jawa. (Suryo, 2000:2).

Menurut Suryo (2000:6) Ampeldenta atau Ampelkuning di Surabaya, yang terletak tidak jauh dari Gresik, sebagaimana disebut-sebut dalam Babad Demak dan Babad Majapahit dan Para Wali, merupakan komunitas Islam dan pesantren pertama, yang didirikan oleh Raden Rakhmat atau Sunan Ngampel. Pendirian pemukiman itu dilakukan atas ijin raja Majapahit Brawijaya.
Demikian pula penyiaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Ngampel. Sekalipun Brawijaya sendiri belum mau masuk agama Islam, tetapi ia tidak melarang rakyat Majapahit masuk Islam dan berguru kepada Sunan Ngampel. Di dalam Babad Demak disebutkan sebagai berikut:

“Dyan Rahmat pinrenah mungging/ Ngampeldenta sengga katong/ Nenggya Sunan ing Ngampel jejulukipun/ Sang Nata wus Anglilani/ ngadekaken Jumungah wektu/ karseng narpa tan mangeni/ marang sagung kang ponang wong/ Kang asama Islam anut gama Rasul/ nging sang Nata dereng arsi/ tan winarna lamenipun/ kang dhedhukuh Ngampelgadhing/ tangkar-tumangkar wus argon_//.”

(Terjemahan bebas: “Raden Rakhmat diperintah oleh raja (Brawijaya) agar bermukim di Ampeldenta, yang kemudian bergelar Sunan Ngampel. Sang raja telah mengijinkan mendirikan Jamaah Sholat Jum’at dan raja juga tidak melarang terhadap setiap orang Islam untuk menjalankan perintah ajaran agamanya. Sekalipun demikian sang raja belum mau masuk Islam. Tidak lama desa Ngampelgading (Ampeldenta) berkembang menjadi pemukiman besar”). Seperti halnya Babad Demak, Babad Majapahit dan Para Wali, juga menceritakan hal yang sama seperti berikut dibawah ini.

“Kawarnaa Njeng Sunan Ngampelgading/ Wus lami nggennya dhedhukuh/ Sampun tengkar-tumangkar/ Langkung arja yata wau dhukuhipun/ Agemah dadi negara, Kathah ingkang sobat murid_//.”

(Terjemahan bebas:” diceritakan bahwa Kanjeng Sunan Ngampel, telah lama membangun pemukiman, lama-kelamaan penduduknya berkembang banyak, hidupnya makmur, dan tumbuh menjadi sebuah kota pesantren yang banyak dikunjungi oleh para santri dari jauh”).

Suryo (2000:6-7) juga menyatakan bahwa Pesantren Ampel Denta berkembang pesat tidak hanya menjadi tempat belajar para santri yang berasal dari daerah sekitarnya, termasuk keluarga raja Majapahit yang masuk Islam, tetapi juga tempat belajar para santri yang datang dari jauh, misalnya Raden Patah (putra Brawijaya dengan Putri Cina), sebelum menjadi Sultan Demak, dan bersama dengan adiknya Raden Husen yang datang dari Palembang (putra Aria Damar dengan putri Cina).

Para putra Sunan Ngampel sendiri juga menjadi santri di Ampeldenta, sebelum menjadi tokoh Wali dan pendiri pesantren di Giri, Tuban, Muria dan lainnya. Menurut Babad Demak, Sunan Ngampel menjadi salah satu induk kerabat Wali. Perkawinannya dengan Dyah Manila putri Arya Teja di Tuban, Sunan Ngampel menurunkan Sunan Bonang, Prabu Satmata atau Sunan Giri, Syaikh Benthong atau Syaikh Bondan yang kemudian menjadi Sunan Kudus, Syaikh Maulana Iskak atau Sunan Muria, dan seorang putri yang menjadi istri Raden Patah, Sultan Demak.

Sunan Giri kemudian mendirikan Pesantren Giri, yang pada masa kemudian dapat menggantikan kedudukan pesantren Ampel Denta, setelah Sunan Ngampel wafat. Sunan Giri juga digambarkan tampil menjadi pemuka para Wali Sembilan dan Dewan Para Wali, selain menjadi pemimpin spiritual-keagamaan. Karena itu perannya dalam proses Islamisasi di Jawa dan di luar Jawa cukup besar. Dalam hubungan ini, Babad memberikan petunjuk tentang adanya hubungan kekerabatan antara sesama para wali dan hubungan kekerabatan para wali dengan para elite kerajaan.

Sumber-sumber Babad juga telah memberikan rekaman yang tak ternilai dalam memberikan gambaran historis tentang proses Islamisasi di Jawa sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan Islam di Nusantara. Sebagaiman dalam Babad Gresik dituturkan peran Pesantren Giri dalam proses Islamisasi cukup luas, tidak hanya terbatas di daerah pedalaman Jawa Timur, melainkan juga ke daerah Kalimantan Timur, Maluku, Lombok, dan Sumbawa sejalan dengan arus perdagangan di Nusantara. Sehingga Wiselius dan de Graaf menyebut Pesantren Giri sebagai “Kerajaan Ulama” atau “Geestelijke Heeren” yang didirikan pada tahun 1478. Disebut demikian, karena kekuasaan para ulama di Giri ini hampir menyerupai kekuasaan raja yang memiliki istana (kraton atau kedaton), para pengikut, dan penjaga keamanan keraton. (Suryo: 2000: 7-8).

Hasil proses penyebaran Islam di Nusantara terutama di Jawa dari sumber-sumber babad juga telah melahirkan kreativitas intelektual di lingkungan pesantren di Pesisir Utara Jawa pada sekitar abad ke-16 sampai ke-17. Menurut Suryo (2000: 10) karya Babad dan Serat yang ditulis dalam bentuk tembang macapat, dan dengan aksara Arab Pegon, merupakan ciri karya sastra Pesisiran.

Selain itu, cerita dalam karya sastra tersebut banyak yang mengambil tema tentang riwayat sekitar Nabi, Sahabat, dan para keluarganya serta para Wali di Jawa. Babad Ceribon, Babad Demak Pesisiran, Serat Yusuf, dan Serat Pertimah, merupakan contoh dari karya sastra Pesisiran, yang sampai sekitar 1950-an masih digemari sebagai bahan acara macapatan oleh sebagian masyarakat pedesaan di bekas Karesidenan Pekalongan. Semuanya ditulis dengan aksara pegon dan dengan gaya bahasa Pesisiran. Ciri ini tidak ditemukan dalam karya sastra bentuk tembang di kraton pedalaman Jawa baik Surakarta dan Yogyakarta. 
Baca Juga: Mengenal Ilmu Falak (Astronomi Islam)

Arik Dwijayanto & Dawam Multazam

Sumber: Kemenag, Ensiklopedia Islam Nusantara (Jakarta: 2018)

Babad: Sumber Sejarah Islamisasi Di Nusantara

pengertian-babad-dan-contohnya,-pengertian-babad-tanah-jawi,-pengertian-babad-dan-hikayat,-pengertian-babad-cirebon,-pengertian-babadontot,-pengertian-babad-demak

Babad Sebagai Sumber Sejarah Islam Di Nusantara

Penulisan sejarah Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan teks babad sebagai salah satu sumber sejarah. Sebagaimana Islamisasi di tanah Jawa yang digerakkan oleh Wali Songo banyak diungkap dalam teks babad. Peran Wali Songo di pesisir utara Jawa dalam sumber babad telah banyak memberikan gambaran tentang kapan dan bagaimana Islam masuk ke tanah Jawa, termasuk tentang siapa dan bagaimana Islam disebarkan dan disemaikan di lingkungan masyarakat Jawa.

Babad Demak, Babad Gersik, Babad Majapahit, Babad Cirebon dan Babad Tanah Jawi, dalam berbagai versinya, merupakan sumber historiografi Islam Nusantara yang penting dalam memberikan gambaran kesejarahan proses interaksi antara Islam dan kebudayaan Jawa. Demikian juga halnya tentang interaksi dan reaksinya. Babad Demak, Babad Majapahit, Babad Jaka Tingkir. Babad Pajang, Babad Cirebon, Babad Tanah Jawi dan beberapa serat, seperti Serat Sunan Bonang, Pitutur Seh Bari, Serat Siti Jenar, Serat Cabolek dan Serat Centhini banyak menggambarkan tentang dialog antara Islam dan tradisi budaya lokal.

Mengenai kapan Islam masuk ke tanah Jawa, sumber-sumber Babad menceritakan bahwa komunitas Islam telah tumbuh di lingkungan kota pelabuhan Surabaya, Gresik dan Tuban sekalipun Kerajaan Hindu Majapahit masih berkuasa. Kota-kota pelabuhan Kerajaan Majapait itu sesungguhnya telah tumbuh sejak akhir abad ke-13 dan meningkat pada abad ke-15-16, serta telah memiliki jaringan pelayaran dan perdagangan dengan Pasai dan Malaka, serta daerah Maluku dan Nusa Tenggara Timur. 

Baca Juga: Pengertian Babad: Karya Sastra atau Sejarah?

Sumber Babad juga menjelaskan bahwa penyebaran Islam dilakukan oleh para mubalig atau da’i yang terkenal dengan sebutan Wali yang dalam tradisi Jawa lebih dikenal sebagai “Wali Songo” (Wali Sembilan). Mereka yang banyak disebut dalam Babad antara lain ialah Sunan Ngampel-Denta, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati, Sunan Muria, Sunan Dradjat, Sunan Tembayat, Sunan Wali Lanang (Sunan Malik Ibrahim), dan Sunan Seh Siti Jenar. (Suryo, 2000:4)

Dalam sumber historiografi Jawa, baik dalam bentuk Babad maupun Serat istilah santri, kiai atau ulama telah lama dikenal, terutama dalam kaitan penggambaran proses masuknya Islam dan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Selain itu, babad sebagai sumber lokal banyak memberikan gambaran tentang bagaimana orang Jawa memberikan penghargaan dan penghormatan tinggi kepada raja, guru atau kiai, di samping kepada orang tua atau orang yang dipandang tua, sebagai bagian dari pandangan budayanya. Ada pertanda bahwa pandangan ini merupakan kecenderungan umum yang berlaku dalam kebudayaan Asia.

Demikian pula kepercayaan tentang adanya kelebihan (karomah) dan barokah yang dimiliki oleh para wali, kiai, atau ulama banyak dijumpai dalam sumber-sumber lokal sejarah Jawa. Tidak mengherankan, apabila orang Jawa menempatkan kiai sebagai golongan pemimpin yang kharismatik, seperti halnya Ulama di lingkungan masyarakat Islam lainnya. (Suryo, 2000:5).

 

Sumbangsih Babad dalam Peradaban Islam Di Nusantara

Sumber-sumber babad menurut sejarawan Islam Agus Sunyoto (2016:193-199) telah mengungkapkan fakta sejarah yang menarik misalnya dalam Babad Ngampeldenta diungkap bahwa pengangkatan Raden Rahmat secara resmi sebagai Imam di Surabaya dengan gelar sunan dan kedudukan wali di Ngampeldenta dilakukan oleh Raja Majapahit. Dengan demikian, Raden Rahmat lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngampel. 

Begitu juga dalam Babad Tanah Jawi dituturkan bagaimana Raden Rahmat atau Sunan Ampel dalam upaya memperkuat kekerabatan untuk tujuan dakwah menikahkan Khalifah Usen (nama tempat di Rusia selatan dekat Samarkand) dengan putri Arya Baribin, Adipati Madura.

Dari tilikan teks babad dapat diketahui salah satu hasil proses Islamisasi di Nusantara khususnya di Jawa yang cukup penting adalah lahirnya unsur tradisi keagamaan santri dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat Jawa. Tradisi keagamaan santri ini bersama dengan unsur pesantren dan kiai telah menjadi inti terbentuknya Tradisi Besar (Great Tradition) Islam di Jawa, yang pada hakekatnya merupakan hasil akulturasi antara Islam dan tradisi pra-Islam di Jawa.

Selain itu, Islamisasi di Jawa juga telah melahirkan sebuah tradisi besar Kraton Islam-Jawa, yang menjadikan keduanya, yaitu tradisi santri dan tradisi Kraton, sebagai bagian (subkultur) yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan Jawa. (Suryo, 2000:1) Tradisi keagamaan santri terlihat dalam Babad Demak yang menggambarkan bagaimana Sunan Ampel sebagai guru memberikan ajaran esoteris kepada muridnya Raden Paku (Sunan Giri) yaitu ilmu tasawuf yang didasarkan pada ilmu kalbu sebagaimana dituturkan dalam kalimat berikut:

Jeng sinuhun angandika aris/ mengko raden sira ingsun wejang/ ilmu ingkang sayektine / den dhemit anggonipun/ para raden karepe iki/ ana lafadz kang endah/ dhemit enggonipun/ mengkana unining lafadz/ paran raden karepe puniki/ tegese bi nasrih_//

Raden Paku matur awot sari/ mangsa borong ing ngarsa sampeyan/ dereng dugi kula angger/ ing rahos kang punika/ Sunan Ampel ngandika aris/ bisa nara bisaha/ lah jawaben kulup/ raden paku atur sembah sigra jawab bi ru’yatil fuad/ punika atur kula//

Jeng sinuhun angandika malih/ fa innama tuwallau fatsamma wajhullah paran artine/ rahaden nembah atur/ kabiran alhamdulillah/ lan malih katsiran/ katur pukulun fa subhanallahi bukratan wa ashila inni wajjahtu puniki/ wajhiya mangga karsa//

Apan lafadz tunggale puniki// atur kula dhumateng sampeyan/ jeng sunan pangandikane/ ya bener raden iku/ idhepira dipun tubail/ den jeneng idhepira/ nembah ira iku/ raden cinandhak kang asta/ dipun wejang ilmu ingkang sidiq-sidiq ru’yah kang karu’yatan//

Berdasarkan Babad Demak diatas menurut penafsiran Sjamsudduha ajaran Sunan Ampel berangkat dari tiga kata: bi nasrih, tubadil, dan daim dengan kata kunci bi ru’yatil fuad. Ilmu yang diajarkan itu hanya bisa dipahami melalui mata hati atau mata batin. Inti ajarannya pada fa innama tuwallau fatsamma wajhullah. Kabiran alhamdulillah katsiran, fa subhanallahi bukratan wa ashila, inni wajjahtu wajhiya. (Sunyoto, 2016:200).

Dari teks-teks babad diatas memperlihatkan Islamisasi di Jawa telah melahirkan peradaban santri sebagaimana pernyataan Benda (1983:12-14) yang menyebutkan bahwa peradaban santri memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan agama, masyarakat dan politik.

Sementara Geertz (1976) memandang kehadiran Islam di Jawa telah menjadikan terbentuknya varian sosio-kultural masyarakat Islam di Jawa yang disebut Santri, yang berbeda dari tradisi sosio-kultural lainnya, yaitu Abangan dan Priyayi. Dari perspektif historis menunjukkan bahwa tradisi Santri secara berkelanjutan telah menjadi basis kekuatan sosial politik pada masa awal pendirian kerajaan Islam Demak, Cirebon dan Banten di daerah pesisir utara Jawa dan pada masa kerajaan Mataram Islam di daerah pedalaman Jawa. (Suryo, 2000:2).

Menurut Suryo (2000:6) Ampeldenta atau Ampelkuning di Surabaya, yang terletak tidak jauh dari Gresik, sebagaimana disebut-sebut dalam Babad Demak dan Babad Majapahit dan Para Wali, merupakan komunitas Islam dan pesantren pertama, yang didirikan oleh Raden Rakhmat atau Sunan Ngampel. Pendirian pemukiman itu dilakukan atas ijin raja Majapahit Brawijaya.
Demikian pula penyiaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Ngampel. Sekalipun Brawijaya sendiri belum mau masuk agama Islam, tetapi ia tidak melarang rakyat Majapahit masuk Islam dan berguru kepada Sunan Ngampel. Di dalam Babad Demak disebutkan sebagai berikut:

“Dyan Rahmat pinrenah mungging/ Ngampeldenta sengga katong/ Nenggya Sunan ing Ngampel jejulukipun/ Sang Nata wus Anglilani/ ngadekaken Jumungah wektu/ karseng narpa tan mangeni/ marang sagung kang ponang wong/ Kang asama Islam anut gama Rasul/ nging sang Nata dereng arsi/ tan winarna lamenipun/ kang dhedhukuh Ngampelgadhing/ tangkar-tumangkar wus argon_//.”

(Terjemahan bebas: “Raden Rakhmat diperintah oleh raja (Brawijaya) agar bermukim di Ampeldenta, yang kemudian bergelar Sunan Ngampel. Sang raja telah mengijinkan mendirikan Jamaah Sholat Jum’at dan raja juga tidak melarang terhadap setiap orang Islam untuk menjalankan perintah ajaran agamanya. Sekalipun demikian sang raja belum mau masuk Islam. Tidak lama desa Ngampelgading (Ampeldenta) berkembang menjadi pemukiman besar”). Seperti halnya Babad Demak, Babad Majapahit dan Para Wali, juga menceritakan hal yang sama seperti berikut dibawah ini.

“Kawarnaa Njeng Sunan Ngampelgading/ Wus lami nggennya dhedhukuh/ Sampun tengkar-tumangkar/ Langkung arja yata wau dhukuhipun/ Agemah dadi negara, Kathah ingkang sobat murid_//.”

(Terjemahan bebas:” diceritakan bahwa Kanjeng Sunan Ngampel, telah lama membangun pemukiman, lama-kelamaan penduduknya berkembang banyak, hidupnya makmur, dan tumbuh menjadi sebuah kota pesantren yang banyak dikunjungi oleh para santri dari jauh”).

Suryo (2000:6-7) juga menyatakan bahwa Pesantren Ampel Denta berkembang pesat tidak hanya menjadi tempat belajar para santri yang berasal dari daerah sekitarnya, termasuk keluarga raja Majapahit yang masuk Islam, tetapi juga tempat belajar para santri yang datang dari jauh, misalnya Raden Patah (putra Brawijaya dengan Putri Cina), sebelum menjadi Sultan Demak, dan bersama dengan adiknya Raden Husen yang datang dari Palembang (putra Aria Damar dengan putri Cina).

Para putra Sunan Ngampel sendiri juga menjadi santri di Ampeldenta, sebelum menjadi tokoh Wali dan pendiri pesantren di Giri, Tuban, Muria dan lainnya. Menurut Babad Demak, Sunan Ngampel menjadi salah satu induk kerabat Wali. Perkawinannya dengan Dyah Manila putri Arya Teja di Tuban, Sunan Ngampel menurunkan Sunan Bonang, Prabu Satmata atau Sunan Giri, Syaikh Benthong atau Syaikh Bondan yang kemudian menjadi Sunan Kudus, Syaikh Maulana Iskak atau Sunan Muria, dan seorang putri yang menjadi istri Raden Patah, Sultan Demak.

Sunan Giri kemudian mendirikan Pesantren Giri, yang pada masa kemudian dapat menggantikan kedudukan pesantren Ampel Denta, setelah Sunan Ngampel wafat. Sunan Giri juga digambarkan tampil menjadi pemuka para Wali Sembilan dan Dewan Para Wali, selain menjadi pemimpin spiritual-keagamaan. Karena itu perannya dalam proses Islamisasi di Jawa dan di luar Jawa cukup besar. Dalam hubungan ini, Babad memberikan petunjuk tentang adanya hubungan kekerabatan antara sesama para wali dan hubungan kekerabatan para wali dengan para elite kerajaan.

Sumber-sumber Babad juga telah memberikan rekaman yang tak ternilai dalam memberikan gambaran historis tentang proses Islamisasi di Jawa sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan Islam di Nusantara. Sebagaiman dalam Babad Gresik dituturkan peran Pesantren Giri dalam proses Islamisasi cukup luas, tidak hanya terbatas di daerah pedalaman Jawa Timur, melainkan juga ke daerah Kalimantan Timur, Maluku, Lombok, dan Sumbawa sejalan dengan arus perdagangan di Nusantara. Sehingga Wiselius dan de Graaf menyebut Pesantren Giri sebagai “Kerajaan Ulama” atau “Geestelijke Heeren” yang didirikan pada tahun 1478. Disebut demikian, karena kekuasaan para ulama di Giri ini hampir menyerupai kekuasaan raja yang memiliki istana (kraton atau kedaton), para pengikut, dan penjaga keamanan keraton. (Suryo: 2000: 7-8).

Hasil proses penyebaran Islam di Nusantara terutama di Jawa dari sumber-sumber babad juga telah melahirkan kreativitas intelektual di lingkungan pesantren di Pesisir Utara Jawa pada sekitar abad ke-16 sampai ke-17. Menurut Suryo (2000: 10) karya Babad dan Serat yang ditulis dalam bentuk tembang macapat, dan dengan aksara Arab Pegon, merupakan ciri karya sastra Pesisiran.

Selain itu, cerita dalam karya sastra tersebut banyak yang mengambil tema tentang riwayat sekitar Nabi, Sahabat, dan para keluarganya serta para Wali di Jawa. Babad Ceribon, Babad Demak Pesisiran, Serat Yusuf, dan Serat Pertimah, merupakan contoh dari karya sastra Pesisiran, yang sampai sekitar 1950-an masih digemari sebagai bahan acara macapatan oleh sebagian masyarakat pedesaan di bekas Karesidenan Pekalongan. Semuanya ditulis dengan aksara pegon dan dengan gaya bahasa Pesisiran. Ciri ini tidak ditemukan dalam karya sastra bentuk tembang di kraton pedalaman Jawa baik Surakarta dan Yogyakarta. 
Baca Juga: Mengenal Ilmu Falak (Astronomi Islam)

Arik Dwijayanto & Dawam Multazam

Sumber: Kemenag, Ensiklopedia Islam Nusantara (Jakarta: 2018)

No comments