el-classico-barcelona-vs-real-madrid
Pertarungan Barcelona FC dan Real Madrid di juluki sebagai el-clasico. Pertarungan mereka bukan hanya soal sepakbola, tapi juga simbol perlawanan bangsa Catalan yang ingin merdeka dari Spanyol selama puluhan tahun. Dan Real Madrid yang merepresentasikan kerajaan Spanyol dengan lambang mahkota kerajaan di logonya.  Seperti perseteruan Timor Timur dan Indonesia pada zaman Habibie. Sebagian besar warga Catalonia berkeras menggelar rederendum kemerdekaan meski Madrid menyatakan langkah ini ilegal. Akibatnya aparat Spanyol turun tangan menghadapi warga Catalan yang ingin merdeka dengan menghalangi proses itu.

Sejak Jumat sampai Minggu, warga Catalonia aktif menjaga tempat pemungutan suara. Saat referendum, Minggu 1 Oktober 2017, ribuan orang mengantre di sejumlah TPS untuk memberikan suara, bahkan sebelum TPS dibuka. Namun, polisi memblokade sejumlah TPS dan menyita kotak suara. Perlawanan warga sipil membuat belasan ribu polisi antihuru-hara yang dikirim Madrid kerepotan. Di beberapa lokasi terjadi bentrokan. Polisi menembakan peluru karet yang membuat sejumlah warga terluka.

Catalonia, yang berpusat di Barcelona, saat ini memiliki otonomi dari Spanyol. Sejak setahun lalu mereka gencar merintis langkah kemerdekaan melalui parlemen. Koalisi Partai Demokratik Eropa Catalan yang dipimpin Charles Puigdemont, tokok penggerak kemerdekaan, menguasai mayoritas kursi parlemen dan pada bulan Juni mengumumkan referendum. Namun, Mahkamah Agung Spanyol menetapkan langkah itu melanggar konstitusi.


Penyebab perseteruan Barcelona dan Madrid


Sebab apa warga Catalonia ingin merdeka dari Spanyol? Sejarah menunjukan persaingan dan perseteruan antara Catalonia dan Madrid telah berlangsung lama. Catalonia yang memiliki penduduk berjumlah 7,5 juta orang memiliki kebudayaan dan bahasa sendiri serta merasa berbeda dengan wilayah Spanyol lainnya. Wilayah ini juga merasa telah menyumbang banyak bagi Spanyol, tetapi tidak banyak memperoleh investasi dari pemerintah pusat. Alasan serupa juga terdapat pada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Indonesia.

Referendum kemerdekaan Catalonia, sukses atau tidak, telah membuka lembaran baru bagi hubungan Madrid-Barcelona, baik dalam aspek politik maupun keamanan. Pembubaran referendum yang dilakukan Madrid hanya akan menguatkan kebencian warga Catalonia kepada pemerintah pusat meski jajak pendapat yang terakhir menunjukkan bahwa suara warga yang tak ingin merdeka masih lebih besar daripada yang pro-kemerdekaan. Namun, sikap Madrid yang keras diperkirakan akan semakin menguatkan dukungan pada gerakan pro-kemerdekaan dan meruncingkan krisis politik di Spanyol.

Referendum yang dilakukan Catalonia juga mengirimkan sinyal kuat kepada wilayah lain di Eropa yang ingin memerdekakan diri. Di antaranya gerakan kemerdekaan di Skotlandia yang gencar menuntut kemerdekaan dari Inggris pasca Brexit dan Irlandia Utara yang ingin bergabung ke Republik Irlandia. Di Belgia, wilayah Flanders yang menggunakan bahasa berbeda juga menuntut berpisah dari Belgia.

Yang pasti, krisis di Spanyol ini semakin menambah persoalan bagi Uni Eropa yang perhatiannya saat ini telah terpecah untuk menangani serangkaian krisis besar, mulai dari Brexit, migran dan pengungsi, hingga gerakan ekstrem kanan.

Ternyata! Perseteruan Barcelona vs Madrid Bukan Hanya Soal Sepakbola

el-classico-barcelona-vs-real-madrid
Pertarungan Barcelona FC dan Real Madrid di juluki sebagai el-clasico. Pertarungan mereka bukan hanya soal sepakbola, tapi juga simbol perlawanan bangsa Catalan yang ingin merdeka dari Spanyol selama puluhan tahun. Dan Real Madrid yang merepresentasikan kerajaan Spanyol dengan lambang mahkota kerajaan di logonya.  Seperti perseteruan Timor Timur dan Indonesia pada zaman Habibie. Sebagian besar warga Catalonia berkeras menggelar rederendum kemerdekaan meski Madrid menyatakan langkah ini ilegal. Akibatnya aparat Spanyol turun tangan menghadapi warga Catalan yang ingin merdeka dengan menghalangi proses itu.

Sejak Jumat sampai Minggu, warga Catalonia aktif menjaga tempat pemungutan suara. Saat referendum, Minggu 1 Oktober 2017, ribuan orang mengantre di sejumlah TPS untuk memberikan suara, bahkan sebelum TPS dibuka. Namun, polisi memblokade sejumlah TPS dan menyita kotak suara. Perlawanan warga sipil membuat belasan ribu polisi antihuru-hara yang dikirim Madrid kerepotan. Di beberapa lokasi terjadi bentrokan. Polisi menembakan peluru karet yang membuat sejumlah warga terluka.

Catalonia, yang berpusat di Barcelona, saat ini memiliki otonomi dari Spanyol. Sejak setahun lalu mereka gencar merintis langkah kemerdekaan melalui parlemen. Koalisi Partai Demokratik Eropa Catalan yang dipimpin Charles Puigdemont, tokok penggerak kemerdekaan, menguasai mayoritas kursi parlemen dan pada bulan Juni mengumumkan referendum. Namun, Mahkamah Agung Spanyol menetapkan langkah itu melanggar konstitusi.


Penyebab perseteruan Barcelona dan Madrid


Sebab apa warga Catalonia ingin merdeka dari Spanyol? Sejarah menunjukan persaingan dan perseteruan antara Catalonia dan Madrid telah berlangsung lama. Catalonia yang memiliki penduduk berjumlah 7,5 juta orang memiliki kebudayaan dan bahasa sendiri serta merasa berbeda dengan wilayah Spanyol lainnya. Wilayah ini juga merasa telah menyumbang banyak bagi Spanyol, tetapi tidak banyak memperoleh investasi dari pemerintah pusat. Alasan serupa juga terdapat pada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Indonesia.

Referendum kemerdekaan Catalonia, sukses atau tidak, telah membuka lembaran baru bagi hubungan Madrid-Barcelona, baik dalam aspek politik maupun keamanan. Pembubaran referendum yang dilakukan Madrid hanya akan menguatkan kebencian warga Catalonia kepada pemerintah pusat meski jajak pendapat yang terakhir menunjukkan bahwa suara warga yang tak ingin merdeka masih lebih besar daripada yang pro-kemerdekaan. Namun, sikap Madrid yang keras diperkirakan akan semakin menguatkan dukungan pada gerakan pro-kemerdekaan dan meruncingkan krisis politik di Spanyol.

Referendum yang dilakukan Catalonia juga mengirimkan sinyal kuat kepada wilayah lain di Eropa yang ingin memerdekakan diri. Di antaranya gerakan kemerdekaan di Skotlandia yang gencar menuntut kemerdekaan dari Inggris pasca Brexit dan Irlandia Utara yang ingin bergabung ke Republik Irlandia. Di Belgia, wilayah Flanders yang menggunakan bahasa berbeda juga menuntut berpisah dari Belgia.

Yang pasti, krisis di Spanyol ini semakin menambah persoalan bagi Uni Eropa yang perhatiannya saat ini telah terpecah untuk menangani serangkaian krisis besar, mulai dari Brexit, migran dan pengungsi, hingga gerakan ekstrem kanan.

No comments