canda-nabi-kitab-canda-nabi-canda-ala-nabi-canda-ala-nabi-muhammad-saw-cerita-canda-nabi-canda-nabi-dan-sufi-canda-gurau-nabi-canda-dan-gurau-nabi-hadits-canda-nabi
Rasulullah saw. selalu ceria bila bertemu sahabat-sahabatnya, saling tukar cerita dan canda. Senada dengan ungkapan istri beliau, “Bila Rasulullah saw. berada di rumah, dialah orang yang paling murah senyum dan tawa". Sesuai dengan ungkapan beliau saw., “Orang yang tidak gembira dan tidak bisa membuat orang lain gembira, adalah orang yang tidak memiliki kebaikan.”

Sifat ceria nabi juga dipersaksikan oleh salah satu sahabat utama Rasulullah yaitu Ali bin Abi Thalib. Imam Ali bin Abi Thalib r.a. mengisahkan bahwa Rasulullah saw. selalu terlihat ceria, tenang dan santai, banyak tersenyum dihadapan para sahabat, antusias dan kagum dengan pembicaraan mereka, bahkan Beliau kadang tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.

Kadang beliau melontarkan canda-canda ringan yang memikat, namun tetap dalam batas-batas kewajaran dan tidak mengandung dusta. Karenanya canda-canda beliau kebanyakan berupa kiasan dan permainan kata-kata. Beliau bersabda, “Saya memang bercanda, namun yang saya katakan adalah kebenaran.”[1]

Berikut ini adalah beberapa canda nabi yang dikisahkan para sahabat:

 

Canda Nabi Bersama Hanzhalah

Sahabat nabi yang bernama Hanzhalah bercerita,
Pada suatu kesempatan, kami bersama Rasulullah saw. (dalam satu majlis). Waktu itu, beliau memberi wejangan kepada kami, sehingga membuat hati kami tersentuh, mata kami berlinang dan kami menyadari siapa diri kami sebenarnya. Kemudian saya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, istriku mendekat, dan kami pun terbuai dengan perbincangan duniawi, dan melupakan apa yang telah kami rasakan waktu bersama Rasulullah.
Kemudian saya tersadar dan muncul perasaan dihati bahwa saya telah melakukan kemunafikan. Perasaan takut dan kelembutan hari yang asalnya terasa di majelis Rasulullah saw. sudah berubah. Lalu saya keluar rumah dan berteriak, ‘Hanzhalah telah melakukan kemunafikan’. Mendengar perkataanku tersebut, Rasulullah saw. menimpali, “Tidak, Hanzhalah tidak melakukan kemunafikan”.
Kemudian saya berkata, ‘wahai Rasulullah. Ketika kami bersamamu dan mendengarkan nasihat-nasihatmu, hati kami bergetar, mata kami berlinang dan kami tahu siapa diri kami sebenarnya. Kemudian saya pulang ke rumah dan membincangkan masalah dunia hingga kami lupa apa yang telah kami rasakan sewaktu bersamamu’.
Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Hanzhalah, kalau kamu berada dalam kondisi seperti itu terus, maka Malaikat akan menjabat tanganmu di jalan dan di pembaringanmu. Tetapi Hanzhalah, bersikaplah moderat, dengan terkadang serius dan terkadang rileks. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad.


 

Wanita Minta Bantu Untuk Naik Unta

Nabi juga pernah mencandai seorang wanita yang meminta tolong.
Suatu hari si wanita datang menghadap Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah. Mohon bantu aku naik unta.” Rasulullah menjawab, “Kamu saya bantu naik anak unta.” Wanita itu pun heran, “Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta? anak unta tidak mungkin membawaku.” Tanya wanita itu. Rasulullah menjawab, “Bukankan setiap unta itu anak unta?”

 

Tidak Ada Wanita Tua Di Surga

Ada seorang wanita tua dari kaum Anshar menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah. Saya mohon engkau berdoa kepada Allah supaya saya masuk surga.” Rasulullah menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa surga itu tidak dihuni oleh orang-orang yang sudah tua?” Mendengar sabda Rasulullah ini, wanita itu menangis.
Melihat hal ini Rasulullah tersenyum dan bersabda, “Bukankan kamu pernah membaca firman Allah SWT, ‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya’"[2].

 

Kecemburuan 'Aisyah r.a.

Sahabat Anas bin Malik r.a. yang menjadi pembantu Rasulullah meriwayatkan hadist yang berkenaan dengan canda beliau.
“Pada suatu hari, sebagian sahabat duduk bersama Rasulullah saw. di rumah ‘Aisyah. Kemudian sebuah nampan (berisi makanan) didatangkan dari rumah Ummu Salamah dan diletakkan di hadapan Rasulullah. Kamudian Rasulullah mempersilahkan sahabat untuk mengambil hidangan yang ada di nampan tersebut.
Setelah beliau mengambil, kami turut mengambil dan kami pun makan bersama-sama. Sementara itu, ‘Aisyah sedang tergesa-gesa membuat makanan. Dia tahu bahwa nampan Ummu Salamah ada di tengah-tengah tamu. Setelah selesai membuat makanan, ‘Aisyah datang dan meletakkan makanan itu (di tengah-tengah kami), dan mengambil nampan milik Ummu Salamah, kemudian memecahnya.
Rasulullah saw. bersabda, ‘Makanlah kalian dari nampan ‘Aisyah dengan menyebut asma Allah. Ibu kalian sedang cemburu’. Setelah selesai, Rasulullah memberikan nampan ‘Aisyah kepada Ummu Salamah dan bersabda, ‘Makanan diganti makanan, dan tempat (nampan) diganti tempat (nampan)’.”[3]

 

Panggilan Unik Untuk Anas r.a.

Suatu hari, Rasulullah saw. memanggil Anas r.a. dengan kalimat,
“Wahai orang yang punya dua telinga!” dengan maksud bercanda, tetapi ungkapan Rasulullah ini benar adanya, karena sahabat Anas r.a. memang memiliki dua telinga.

 

Umair dan Nughair

Kisah canda nabi yang lain yaitu dengan merubah kata dalam bentuk sighot tashgir (menjadikan kata itu mengandung arti “kecil”). Sahabat Anas r.a. mempunyai saudara bernama Umair.

Dia punya burung peliharaan kecil bernama Nughar. Umair senang bermain-main dengan burung itu. Namun, suatu ketika burung itu mati, dan Umair menghadap Rasulullah dengan raut muka yang sedih.
Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Ada apa dengan Umair?” Salah satu dari mereka menjawab, “Burung Nughar-nya mati”. Rasulullah berkata kepada Umair, Umair, apa yang telah dilakukan oleh Nughair?”
Rasulullah menggunakan tashgir (menganut wazan فُعَيْلٌ sehingga maknanya menjadi “Nughar kecil”) sehingga seirama dengan nama Umair.

 

Seorang Wanita Kaget Mata Suaminya Putih

Pada suatu hari, Rasulullah saw. berkata kepada seorang wanita Anshar,
“Cepat susul suamimu. Di kedua matanya terdapat (bintik) putih” Dengan rasa khawatir, wanita itu pun bergegas menyusul suaminya. Setelah bertemu dengan suaminya, sang suami bertanya, “Kamu ini kenapa?” Wanita itu menjawab, “Rasulullah memberi tahuku bahwa di kedua matamu ada (bintik) putih.” Sang suami pun berkata, “Memang di kedua mataku ada (bintik) putih, tetapi (kan) bukan karena sakit.”

 

Siapa Mau Beli Budak?

Ada seorang sahabat bernama Zuhair. Dia suka memberi hadiah barang2 pilihan yang diperoleh dari kampung kepada Rasulullah. Sebagai gantinya, Rasulullah juga sering memberinya hadiah berupa barang2 pilihan dari kota.
Suatu hari Rasulullah mendapatinya sedang berdiri di pasar. Kemudian Rasulullah mendatanginya dari arah belakang dan mendekapnya dari belakang. Zuhair merasa bahwa yang mendekapnya adalah Rasulullah saw., karena itu dia malah menekan punggungnya ke dada beliau, dengan maksud ngalap berkah.
Kamudian Rasulullah saw. berkata, “Siapa yang hendak membeli budak?” Zuhair pun berkata, “ Wahai Rasul, berarti engkau menganggapku barang yang tidak laku.” Rasulullah menjawab, “Tetapi engkau bukanlah barang yang tidak laku di hadapan Allah.”.

Lanjutan Artikel:
Bagian 1: Canda Tawa Nabi. Kisah-kisah canda nabi dengan para sahabat
Bagian 2: Canda Nabi Bersama Sahabat
Bagian 3: Canda nabi bersama Nu’aiman


[1] Al-Waaqi’ah 35-27
[2]Nihayatul-Irbi, 4/1
[3] Lihat Syarh az-Zurqaani, 4/270

Canda Nabi Bersama Para Sahabat

canda-nabi-kitab-canda-nabi-canda-ala-nabi-canda-ala-nabi-muhammad-saw-cerita-canda-nabi-canda-nabi-dan-sufi-canda-gurau-nabi-canda-dan-gurau-nabi-hadits-canda-nabi
Rasulullah saw. selalu ceria bila bertemu sahabat-sahabatnya, saling tukar cerita dan canda. Senada dengan ungkapan istri beliau, “Bila Rasulullah saw. berada di rumah, dialah orang yang paling murah senyum dan tawa". Sesuai dengan ungkapan beliau saw., “Orang yang tidak gembira dan tidak bisa membuat orang lain gembira, adalah orang yang tidak memiliki kebaikan.”

Sifat ceria nabi juga dipersaksikan oleh salah satu sahabat utama Rasulullah yaitu Ali bin Abi Thalib. Imam Ali bin Abi Thalib r.a. mengisahkan bahwa Rasulullah saw. selalu terlihat ceria, tenang dan santai, banyak tersenyum dihadapan para sahabat, antusias dan kagum dengan pembicaraan mereka, bahkan Beliau kadang tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.

Kadang beliau melontarkan canda-canda ringan yang memikat, namun tetap dalam batas-batas kewajaran dan tidak mengandung dusta. Karenanya canda-canda beliau kebanyakan berupa kiasan dan permainan kata-kata. Beliau bersabda, “Saya memang bercanda, namun yang saya katakan adalah kebenaran.”[1]

Berikut ini adalah beberapa canda nabi yang dikisahkan para sahabat:

 

Canda Nabi Bersama Hanzhalah

Sahabat nabi yang bernama Hanzhalah bercerita,
Pada suatu kesempatan, kami bersama Rasulullah saw. (dalam satu majlis). Waktu itu, beliau memberi wejangan kepada kami, sehingga membuat hati kami tersentuh, mata kami berlinang dan kami menyadari siapa diri kami sebenarnya. Kemudian saya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, istriku mendekat, dan kami pun terbuai dengan perbincangan duniawi, dan melupakan apa yang telah kami rasakan waktu bersama Rasulullah.
Kemudian saya tersadar dan muncul perasaan dihati bahwa saya telah melakukan kemunafikan. Perasaan takut dan kelembutan hari yang asalnya terasa di majelis Rasulullah saw. sudah berubah. Lalu saya keluar rumah dan berteriak, ‘Hanzhalah telah melakukan kemunafikan’. Mendengar perkataanku tersebut, Rasulullah saw. menimpali, “Tidak, Hanzhalah tidak melakukan kemunafikan”.
Kemudian saya berkata, ‘wahai Rasulullah. Ketika kami bersamamu dan mendengarkan nasihat-nasihatmu, hati kami bergetar, mata kami berlinang dan kami tahu siapa diri kami sebenarnya. Kemudian saya pulang ke rumah dan membincangkan masalah dunia hingga kami lupa apa yang telah kami rasakan sewaktu bersamamu’.
Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Hanzhalah, kalau kamu berada dalam kondisi seperti itu terus, maka Malaikat akan menjabat tanganmu di jalan dan di pembaringanmu. Tetapi Hanzhalah, bersikaplah moderat, dengan terkadang serius dan terkadang rileks. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad.


 

Wanita Minta Bantu Untuk Naik Unta

Nabi juga pernah mencandai seorang wanita yang meminta tolong.
Suatu hari si wanita datang menghadap Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah. Mohon bantu aku naik unta.” Rasulullah menjawab, “Kamu saya bantu naik anak unta.” Wanita itu pun heran, “Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta? anak unta tidak mungkin membawaku.” Tanya wanita itu. Rasulullah menjawab, “Bukankan setiap unta itu anak unta?”

 

Tidak Ada Wanita Tua Di Surga

Ada seorang wanita tua dari kaum Anshar menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah. Saya mohon engkau berdoa kepada Allah supaya saya masuk surga.” Rasulullah menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa surga itu tidak dihuni oleh orang-orang yang sudah tua?” Mendengar sabda Rasulullah ini, wanita itu menangis.
Melihat hal ini Rasulullah tersenyum dan bersabda, “Bukankan kamu pernah membaca firman Allah SWT, ‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya’"[2].

 

Kecemburuan 'Aisyah r.a.

Sahabat Anas bin Malik r.a. yang menjadi pembantu Rasulullah meriwayatkan hadist yang berkenaan dengan canda beliau.
“Pada suatu hari, sebagian sahabat duduk bersama Rasulullah saw. di rumah ‘Aisyah. Kemudian sebuah nampan (berisi makanan) didatangkan dari rumah Ummu Salamah dan diletakkan di hadapan Rasulullah. Kamudian Rasulullah mempersilahkan sahabat untuk mengambil hidangan yang ada di nampan tersebut.
Setelah beliau mengambil, kami turut mengambil dan kami pun makan bersama-sama. Sementara itu, ‘Aisyah sedang tergesa-gesa membuat makanan. Dia tahu bahwa nampan Ummu Salamah ada di tengah-tengah tamu. Setelah selesai membuat makanan, ‘Aisyah datang dan meletakkan makanan itu (di tengah-tengah kami), dan mengambil nampan milik Ummu Salamah, kemudian memecahnya.
Rasulullah saw. bersabda, ‘Makanlah kalian dari nampan ‘Aisyah dengan menyebut asma Allah. Ibu kalian sedang cemburu’. Setelah selesai, Rasulullah memberikan nampan ‘Aisyah kepada Ummu Salamah dan bersabda, ‘Makanan diganti makanan, dan tempat (nampan) diganti tempat (nampan)’.”[3]

 

Panggilan Unik Untuk Anas r.a.

Suatu hari, Rasulullah saw. memanggil Anas r.a. dengan kalimat,
“Wahai orang yang punya dua telinga!” dengan maksud bercanda, tetapi ungkapan Rasulullah ini benar adanya, karena sahabat Anas r.a. memang memiliki dua telinga.

 

Umair dan Nughair

Kisah canda nabi yang lain yaitu dengan merubah kata dalam bentuk sighot tashgir (menjadikan kata itu mengandung arti “kecil”). Sahabat Anas r.a. mempunyai saudara bernama Umair.

Dia punya burung peliharaan kecil bernama Nughar. Umair senang bermain-main dengan burung itu. Namun, suatu ketika burung itu mati, dan Umair menghadap Rasulullah dengan raut muka yang sedih.
Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Ada apa dengan Umair?” Salah satu dari mereka menjawab, “Burung Nughar-nya mati”. Rasulullah berkata kepada Umair, Umair, apa yang telah dilakukan oleh Nughair?”
Rasulullah menggunakan tashgir (menganut wazan فُعَيْلٌ sehingga maknanya menjadi “Nughar kecil”) sehingga seirama dengan nama Umair.

 

Seorang Wanita Kaget Mata Suaminya Putih

Pada suatu hari, Rasulullah saw. berkata kepada seorang wanita Anshar,
“Cepat susul suamimu. Di kedua matanya terdapat (bintik) putih” Dengan rasa khawatir, wanita itu pun bergegas menyusul suaminya. Setelah bertemu dengan suaminya, sang suami bertanya, “Kamu ini kenapa?” Wanita itu menjawab, “Rasulullah memberi tahuku bahwa di kedua matamu ada (bintik) putih.” Sang suami pun berkata, “Memang di kedua mataku ada (bintik) putih, tetapi (kan) bukan karena sakit.”

 

Siapa Mau Beli Budak?

Ada seorang sahabat bernama Zuhair. Dia suka memberi hadiah barang2 pilihan yang diperoleh dari kampung kepada Rasulullah. Sebagai gantinya, Rasulullah juga sering memberinya hadiah berupa barang2 pilihan dari kota.
Suatu hari Rasulullah mendapatinya sedang berdiri di pasar. Kemudian Rasulullah mendatanginya dari arah belakang dan mendekapnya dari belakang. Zuhair merasa bahwa yang mendekapnya adalah Rasulullah saw., karena itu dia malah menekan punggungnya ke dada beliau, dengan maksud ngalap berkah.
Kamudian Rasulullah saw. berkata, “Siapa yang hendak membeli budak?” Zuhair pun berkata, “ Wahai Rasul, berarti engkau menganggapku barang yang tidak laku.” Rasulullah menjawab, “Tetapi engkau bukanlah barang yang tidak laku di hadapan Allah.”.

Lanjutan Artikel:
Bagian 1: Canda Tawa Nabi. Kisah-kisah canda nabi dengan para sahabat
Bagian 2: Canda Nabi Bersama Sahabat
Bagian 3: Canda nabi bersama Nu’aiman


[1] Al-Waaqi’ah 35-27
[2]Nihayatul-Irbi, 4/1
[3] Lihat Syarh az-Zurqaani, 4/270

No comments