canda-nabi-canda-ala-nabi-canda-ala-nabi-muhammad-saw-cerita-canda-nabi-canda-nabi-dan-sufi-canda-gurau-nabi-canda-dan-gurau-nabi-hadits-canda-nabi-kisah-canda-nabi
Rasulullah saw. dan Nu’aiman - Nu’aiman adalah seorang Anshar. Sewaktu Perang Badar, dia turut berjihad bersama Rasulullah saw.. Di kalangan para sahabar, Nu’aiman terkenal sebagai sahabat yang suka bercanda. Sampai-sampai Rasulullah saw. sendiri bersabda, “Nu’aiman masuk surga sambil tertawa, karena dia suka membuatku tertawa.”

Kelapangan dada, keceriaan, kegembiraan, dan canda yang sering beliau perlihatkan, sama sekali tidak menyebabkan kehormatannya berkurang, bahkan sebaliknya, karisma dan keagungan beliau semakin bertambah dan semakin banyak orang yang mencintainya dan menghormatinya.

Rasulullah sebagai figur yang paripurna tidak diragukakan lagi oleh sahabat-sahabatnya bahkan musuhnya sekalipun. Siapapun yang pertama kali melihat Rasulullah maka akan takut, siapapun yang menjadi musuhnya akan segan, dan siapapun yang mengenalnya lebih dalam akan mencintai.

Rasulullah saw. selalu menganjurkan umatnya untuk bersikap fleksibel, toleran dan penuh kasih saying, beliau bersabda, “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras hati dan suka bermusuhan.”


Kisah Nu'aiman Usil Kepada Nabi dan Sahabat


Nu’aiman memang sering bercanda, hingga membuat Rasulullah tertawa dan gembira. Kisah-kisah canda di antara sebagai berikut:
Suatu ketika Rasulullah saw. mengunjungi Nu’aiman yang sedang sakit mata. Rasulullah melihatnya sedang asyik makan kurma. Beliau kemudian melontarkan pertanyaan kepadanya, “bisakah kamu makan kurma, sedang mata kamu sedang sakit?” Nu’aiman menjawab, “Saya makan dengan menggunakan mata saya yang satunya lagi.” Mendengar jawaban Nu’aiman ini, Rasulullah tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya.[1]


Suatu hari, Nu’aiman memberikan hadiah madu kepada Rasulullah saw. Madu itu dibelinya dari orang kampong. Ketika dia memberikan madu itu kepada Rasul, dia membawa serta penjual madu tersebut. Tanpa sepengetahuan Rasul, Nu’aiman menyuruh penjual tersebut meminta uang dari Rasulullah sebagai ganti harga madu itu.

Dan di saat Rasulullah sedang membagikan madu itu kepada para sahabat yang hadir di rumahnya, penjual tersebut berteriak, “Bayarlah harga maduku itu?” kamudian Rasulullah berkata, “Ini pasti pekerjaan Nu’aiman.” Lalu Rasulullah memanggilnya dan menanyainya, “Mengapa kamu lakukan ini?” Nu’aiman menjawab, “Saya ingin mendapatkan kebaikanmu wahai Rasulullah. Saya tidak punya apa-apa.” Rasulullah pun tersenyum dan akhirnya dia memberi uang kepada penjual tersebut.[2]


Ada seorang dari kampung datang menghadap Rasulullah saw., kemudian masuk masjid. Hewan tunggangannya ia tinggal di halaman. Ada sebagian sahabat yang berkata kepada Nu’aiman, “Sembelihlah hewan itu kemudian kita makan dagingnya bersama-sama. Kami ingin sekali makan daging saat ini. Nanti uang ganti ruginya biar Rasulullah yang membayar?” Nu’aiman menyanggupi permintaan sahabat itu dan akhirnya dia menyembelih hewan tersebut.

Ketika orang kampung itu keluar dari masjid, dia kaget dan menjerit karena hewan tunggangannya mati. Rasulullah pun keluar rumah dan bertanya, “Siapa yang melakukan ini?” Para sahabat menjawab, “Nu’aiman wahai Rasul.” Lalu Rasulullah mencari Nu’aiman dan mendapatinya sedang bersembunyi di balik daun kurma di dalam parit yang berada di dekat rumah Dhuba’ah bin Zubair bin ‘Abdul Muthalib. Rasulullah bisa menemukannya karena ada seorang yang memberi tahu keberadaan Nu’aiman.

Kemudian Rasulullah menyuruhnya keluar, dan terlihat wajah Nu’aiman penuh debu. Rasulullah bertanya, “mengapa kamu lakukan ini?” Nu’aiman menjawab, “orang-orang yang menunjukan persembunyiankulah yang menyuruhku melakukan ini wahai Rasul.” Setelah mendengar jawaban itu, Rasulullah menghapus debu yang ada di wajah Nu’aiman sambil tersenyum, lalu beliau mengganti harga unta yang terlanjur disembelih tersebut.[3]


Suatu hari Abu bakar r.a. bersama Nu’aiman bin ‘Amr al-Anshari dan Suwaibith bin Harmalah pergi ke Bashrah untuk keperluan dagang. Waktu itu keperluan perjalanan Suwaibith ditanggung oleh Abu Bakar r.a., sedangkan Nu’aiman tidak.

Ketika Abu Bakar sedang pergi memisahkan diri dari rombongan, Nu’aiman mendekati Suwaibith dan berkata, “Suwaibith, saya perlu makanan!” Suwaibith menjawab, “Nanti, tunggu Abu Bakar datang dulu.” Kemudian dengan maksud bercanda Nu’aiman berkata, “Suwaibith, saya akan bikin kamu jengkel.”

Ketika rombongan ini melewati satu kaum, Nu’aiman berkata kepada mereka, “Apakah kalian berminat membeli budak milik-ku?”

Mereka menjawab, “Ya”. Lalu Nu’aiman berkata, “Tapi saya harap kalian tahu, budakku ini banyak omongnya. Nandi dia akan bilang bahwa dia bukan budak dan mengaku sebagai orang merdeka. Namun bila kalian bermaksud menyedekahkannya maka jangan beli.”

Mereka menjawab, “Kami akan membelinya dan kami tidak akan menggubris ucapannya.” Akhirnya, mereka sepakat untuk membeli budak yang ditawarkan Nu’aiman itu dengan diganti sepuluh ekor unta yang masih muda.

Sepuluh unta tersebut kemudian digiring oleh Nu’aiman, dan dia menunjukkan budak yang ditawarkannya, yaitu Suwaibith. Orang-orang tersebut kemudian mendekati Suwaibith dan berkata, “Kami telah membelimu.” Suwaibith terkejut dan berkata, “Dia (Nu’aiman) bohong. Saya adalah orang merdeka.”

Namun orang2 tidak percaya dengan perkataan Suwaibith itu, dan mereka mengatakan apa yang telah diceritakan oleh Nu’aiman mengenai watak budaknya itu. Kemudian mereka membawa Suwaibith ke perkampungan mereka.

Ketika Abu Bakar r.a. datang, Nu’aiman menceritakan semua kejadian yang terjadi. Abu Bakar r.a. dan kawan-kawannya yang lain akhirnya memutuskan untuk pergi menemui kaum yang telah membawa Suwaibith tersebut, dan memberi tahu bahwa Nu’aiman hanya bercanda.

Setelah sepuluh unta yang dibawa Nu’aiman dikembalikan kepada kaum tersebut, Suwaibith pun akhirnya dilepaskan.

Sekembali mereka ke Madinah, mereka menceritakan semuanya itu kepada Rasulullah. Mendengar cerita itu, Rasul pun tidak bisa menahan tawa, saking lucunya. Kepergian Abu Bakar r.a. ke Bashrah ini terjadi setahun sebelum meninggalnya Rasulullah saw..[4]


Pada masa Rasulullah saw. ada seorang wanita yang suka membuat sayyidah ‘Aisyah r.a. tertawa. Wanita itu bernama Suwaida’. Selain ‘Aisyah r.a., Rasulullah saw. juga sering dibuat tertawa oleh Suwaida’ ini.

Suatu ketika, Nabi merasa kehilangan Suwaida’ karena lama tidak terlihat lagi. Rasulullah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah. Ada apa dengan Suwaida’. (lama tidak terlihat)?”

“Dia sedang sakit.” Jawab ‘Aisyah singkat.

Kemudian Rasulullah menjenguk ke rumahnya. Sesampainya di sana, ternyata Suwaida’ sedang sakit parah, tinggal menunggu kematiannya saja. Rasulullah berpesan kepada keluarganya, “Bila ia meninggal, beri tahu saya!”

Ketika Suwaida’ sampai ajalnya, keluarganya memberi kabar kepada Rasulullah saw.. Rasul kemudian datang ke rumah Suwaida’ untuk bertakziah dan menshalatinya,

kemudian Rasulullah bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya dia sangat antusias untuk membuatku tertawa (sehingga saya bahagia), (oleh karena itu) aku mohon padamu, behagiakanlah dia!”[5]

Kadang Rasulullah saw. menemukan hal-hal yang menggelitik hati di saat beliau sedang serius atau marah sekalipun.
Suatu hari ada seorang kampung datang menghadap Rasulullah saw.. Pada waktu itu, Rasulullah sedang terlihat marah. Orang kampung itu hendak mengajukan satu pertanyaan kepada Rasulullah saw., namun para sahabat yang ada di majelis itu melarangnya karena situasinya menurut mereka tidak tepat.

Namun, orang kampung itu tetap memaksa dan berkata, “Biarkan saya bertanya. Demi Dzat yang benar2 mengutus beliau sebagai Nabi, saya akan berusaha membuatnya tersenyum.”

Kemudian dia mengarahkan pembicaraannya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah. Saya dengar bahwa Dajjal akan datang dengan membawa roti, di saat manusia dalam kondisi kelaparan.

Bagaimana menurutmu (mana yang baik bagiku), saya menolak tawaran rotinya, demi melindungi keimanan saya meski diriku nantinya kurus dan binasa, atau saya ambil saja rotinya, hingga setelah saya merasa kenyang, saya akan tetap beriman kepada Allah dan tidak percaya kepada Dajjal?”

Mendengar pertanyaan orang kampung ini, Rasulullah pun tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya, kemudian beliau bersabda,

“Jangan (kamu makan roti itu). Allah akan memberimu rezeki yang bisa mencukupimu sebagaimana Dia memberi rezeki orang-orang mukmin lainnya.”[6]


Rasulullah saw. sangat senang dengan kaum Anshar, karenanya beliau sering bercanda dengan mereka.

Kelapangan dada, keceriaan, kegembiraan, dan canda yang sering beliau perlihatkan, sama sekali tidak menyebabkan kehormatannya berkurang, bahkan sebaliknya, karisma dan keagungan beliau semakin bertambah dan semakin banyak orang yang mencintainya dan menghormatinya.

Sayyidina Ali r.a. pernah berkata, “Siapa yang baru kenal dengan Rasulullah maka dia akan merasa takut. Namun semakin jauh orang mengenalnya maka semakin besar kecintaan yang tumbuh di hari.”

Sahabat yang lain berkata, “Dulu, sekarang dan yang akan datang, tidak ada seorang pun yang bisa menandingi beliau.”

Kecintaan sahabat kepada Rasulullah saw. sangat besar, hingga mereka sering menceritakan perasaannya itu kepada orang lain. Di akhir hayatnya, sahabat ‘Amr bin Ash r.a. pernah berkata kepada putranya, “Tidak ada orang yang saya cintai melebihi Rasulullah saw..

Dan tidak ada orang yang saya hormati melebihi beliau. Saya tidak pernah sanggup memenuhi mata ini dengan sosok agung beliau, karena keagungannya.
Bila saya ditanya tentang sifat-sifatnya maka saya tidak akan mampu menggambarkannya karena saya tidak pernah memenuhi pandangan mata saya ini dengan sosok agungnya.” 

Bagian 1: Canda Tawa Nabi. Kisah-kisah canda nabi dengan para sahabat
Bagian 2: Canda Nabi Bersama Sahabat
Bagian 3: Canda nabi bersama Nu’aiman

[1] Al- ‘Aqd al-Farid, 6/381
[2] Al-‘Istii’aab, hlm. 1529
[3] Sirah al-Halabiyyah, jilid 2 hlm. 375
[4] Al-Istii’aab, hlm. 1526
[5] Al-Aqd al-Fariid, jilid 3 hlm. 307
[6] Ihyaa’ Ulumiddin

Canda Nabi Dan Nu'aiman

canda-nabi-canda-ala-nabi-canda-ala-nabi-muhammad-saw-cerita-canda-nabi-canda-nabi-dan-sufi-canda-gurau-nabi-canda-dan-gurau-nabi-hadits-canda-nabi-kisah-canda-nabi
Rasulullah saw. dan Nu’aiman - Nu’aiman adalah seorang Anshar. Sewaktu Perang Badar, dia turut berjihad bersama Rasulullah saw.. Di kalangan para sahabar, Nu’aiman terkenal sebagai sahabat yang suka bercanda. Sampai-sampai Rasulullah saw. sendiri bersabda, “Nu’aiman masuk surga sambil tertawa, karena dia suka membuatku tertawa.”

Kelapangan dada, keceriaan, kegembiraan, dan canda yang sering beliau perlihatkan, sama sekali tidak menyebabkan kehormatannya berkurang, bahkan sebaliknya, karisma dan keagungan beliau semakin bertambah dan semakin banyak orang yang mencintainya dan menghormatinya.

Rasulullah sebagai figur yang paripurna tidak diragukakan lagi oleh sahabat-sahabatnya bahkan musuhnya sekalipun. Siapapun yang pertama kali melihat Rasulullah maka akan takut, siapapun yang menjadi musuhnya akan segan, dan siapapun yang mengenalnya lebih dalam akan mencintai.

Rasulullah saw. selalu menganjurkan umatnya untuk bersikap fleksibel, toleran dan penuh kasih saying, beliau bersabda, “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras hati dan suka bermusuhan.”


Kisah Nu'aiman Usil Kepada Nabi dan Sahabat


Nu’aiman memang sering bercanda, hingga membuat Rasulullah tertawa dan gembira. Kisah-kisah canda di antara sebagai berikut:
Suatu ketika Rasulullah saw. mengunjungi Nu’aiman yang sedang sakit mata. Rasulullah melihatnya sedang asyik makan kurma. Beliau kemudian melontarkan pertanyaan kepadanya, “bisakah kamu makan kurma, sedang mata kamu sedang sakit?” Nu’aiman menjawab, “Saya makan dengan menggunakan mata saya yang satunya lagi.” Mendengar jawaban Nu’aiman ini, Rasulullah tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya.[1]


Suatu hari, Nu’aiman memberikan hadiah madu kepada Rasulullah saw. Madu itu dibelinya dari orang kampong. Ketika dia memberikan madu itu kepada Rasul, dia membawa serta penjual madu tersebut. Tanpa sepengetahuan Rasul, Nu’aiman menyuruh penjual tersebut meminta uang dari Rasulullah sebagai ganti harga madu itu.

Dan di saat Rasulullah sedang membagikan madu itu kepada para sahabat yang hadir di rumahnya, penjual tersebut berteriak, “Bayarlah harga maduku itu?” kamudian Rasulullah berkata, “Ini pasti pekerjaan Nu’aiman.” Lalu Rasulullah memanggilnya dan menanyainya, “Mengapa kamu lakukan ini?” Nu’aiman menjawab, “Saya ingin mendapatkan kebaikanmu wahai Rasulullah. Saya tidak punya apa-apa.” Rasulullah pun tersenyum dan akhirnya dia memberi uang kepada penjual tersebut.[2]


Ada seorang dari kampung datang menghadap Rasulullah saw., kemudian masuk masjid. Hewan tunggangannya ia tinggal di halaman. Ada sebagian sahabat yang berkata kepada Nu’aiman, “Sembelihlah hewan itu kemudian kita makan dagingnya bersama-sama. Kami ingin sekali makan daging saat ini. Nanti uang ganti ruginya biar Rasulullah yang membayar?” Nu’aiman menyanggupi permintaan sahabat itu dan akhirnya dia menyembelih hewan tersebut.

Ketika orang kampung itu keluar dari masjid, dia kaget dan menjerit karena hewan tunggangannya mati. Rasulullah pun keluar rumah dan bertanya, “Siapa yang melakukan ini?” Para sahabat menjawab, “Nu’aiman wahai Rasul.” Lalu Rasulullah mencari Nu’aiman dan mendapatinya sedang bersembunyi di balik daun kurma di dalam parit yang berada di dekat rumah Dhuba’ah bin Zubair bin ‘Abdul Muthalib. Rasulullah bisa menemukannya karena ada seorang yang memberi tahu keberadaan Nu’aiman.

Kemudian Rasulullah menyuruhnya keluar, dan terlihat wajah Nu’aiman penuh debu. Rasulullah bertanya, “mengapa kamu lakukan ini?” Nu’aiman menjawab, “orang-orang yang menunjukan persembunyiankulah yang menyuruhku melakukan ini wahai Rasul.” Setelah mendengar jawaban itu, Rasulullah menghapus debu yang ada di wajah Nu’aiman sambil tersenyum, lalu beliau mengganti harga unta yang terlanjur disembelih tersebut.[3]


Suatu hari Abu bakar r.a. bersama Nu’aiman bin ‘Amr al-Anshari dan Suwaibith bin Harmalah pergi ke Bashrah untuk keperluan dagang. Waktu itu keperluan perjalanan Suwaibith ditanggung oleh Abu Bakar r.a., sedangkan Nu’aiman tidak.

Ketika Abu Bakar sedang pergi memisahkan diri dari rombongan, Nu’aiman mendekati Suwaibith dan berkata, “Suwaibith, saya perlu makanan!” Suwaibith menjawab, “Nanti, tunggu Abu Bakar datang dulu.” Kemudian dengan maksud bercanda Nu’aiman berkata, “Suwaibith, saya akan bikin kamu jengkel.”

Ketika rombongan ini melewati satu kaum, Nu’aiman berkata kepada mereka, “Apakah kalian berminat membeli budak milik-ku?”

Mereka menjawab, “Ya”. Lalu Nu’aiman berkata, “Tapi saya harap kalian tahu, budakku ini banyak omongnya. Nandi dia akan bilang bahwa dia bukan budak dan mengaku sebagai orang merdeka. Namun bila kalian bermaksud menyedekahkannya maka jangan beli.”

Mereka menjawab, “Kami akan membelinya dan kami tidak akan menggubris ucapannya.” Akhirnya, mereka sepakat untuk membeli budak yang ditawarkan Nu’aiman itu dengan diganti sepuluh ekor unta yang masih muda.

Sepuluh unta tersebut kemudian digiring oleh Nu’aiman, dan dia menunjukkan budak yang ditawarkannya, yaitu Suwaibith. Orang-orang tersebut kemudian mendekati Suwaibith dan berkata, “Kami telah membelimu.” Suwaibith terkejut dan berkata, “Dia (Nu’aiman) bohong. Saya adalah orang merdeka.”

Namun orang2 tidak percaya dengan perkataan Suwaibith itu, dan mereka mengatakan apa yang telah diceritakan oleh Nu’aiman mengenai watak budaknya itu. Kemudian mereka membawa Suwaibith ke perkampungan mereka.

Ketika Abu Bakar r.a. datang, Nu’aiman menceritakan semua kejadian yang terjadi. Abu Bakar r.a. dan kawan-kawannya yang lain akhirnya memutuskan untuk pergi menemui kaum yang telah membawa Suwaibith tersebut, dan memberi tahu bahwa Nu’aiman hanya bercanda.

Setelah sepuluh unta yang dibawa Nu’aiman dikembalikan kepada kaum tersebut, Suwaibith pun akhirnya dilepaskan.

Sekembali mereka ke Madinah, mereka menceritakan semuanya itu kepada Rasulullah. Mendengar cerita itu, Rasul pun tidak bisa menahan tawa, saking lucunya. Kepergian Abu Bakar r.a. ke Bashrah ini terjadi setahun sebelum meninggalnya Rasulullah saw..[4]


Pada masa Rasulullah saw. ada seorang wanita yang suka membuat sayyidah ‘Aisyah r.a. tertawa. Wanita itu bernama Suwaida’. Selain ‘Aisyah r.a., Rasulullah saw. juga sering dibuat tertawa oleh Suwaida’ ini.

Suatu ketika, Nabi merasa kehilangan Suwaida’ karena lama tidak terlihat lagi. Rasulullah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah. Ada apa dengan Suwaida’. (lama tidak terlihat)?”

“Dia sedang sakit.” Jawab ‘Aisyah singkat.

Kemudian Rasulullah menjenguk ke rumahnya. Sesampainya di sana, ternyata Suwaida’ sedang sakit parah, tinggal menunggu kematiannya saja. Rasulullah berpesan kepada keluarganya, “Bila ia meninggal, beri tahu saya!”

Ketika Suwaida’ sampai ajalnya, keluarganya memberi kabar kepada Rasulullah saw.. Rasul kemudian datang ke rumah Suwaida’ untuk bertakziah dan menshalatinya,

kemudian Rasulullah bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya dia sangat antusias untuk membuatku tertawa (sehingga saya bahagia), (oleh karena itu) aku mohon padamu, behagiakanlah dia!”[5]

Kadang Rasulullah saw. menemukan hal-hal yang menggelitik hati di saat beliau sedang serius atau marah sekalipun.
Suatu hari ada seorang kampung datang menghadap Rasulullah saw.. Pada waktu itu, Rasulullah sedang terlihat marah. Orang kampung itu hendak mengajukan satu pertanyaan kepada Rasulullah saw., namun para sahabat yang ada di majelis itu melarangnya karena situasinya menurut mereka tidak tepat.

Namun, orang kampung itu tetap memaksa dan berkata, “Biarkan saya bertanya. Demi Dzat yang benar2 mengutus beliau sebagai Nabi, saya akan berusaha membuatnya tersenyum.”

Kemudian dia mengarahkan pembicaraannya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah. Saya dengar bahwa Dajjal akan datang dengan membawa roti, di saat manusia dalam kondisi kelaparan.

Bagaimana menurutmu (mana yang baik bagiku), saya menolak tawaran rotinya, demi melindungi keimanan saya meski diriku nantinya kurus dan binasa, atau saya ambil saja rotinya, hingga setelah saya merasa kenyang, saya akan tetap beriman kepada Allah dan tidak percaya kepada Dajjal?”

Mendengar pertanyaan orang kampung ini, Rasulullah pun tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya, kemudian beliau bersabda,

“Jangan (kamu makan roti itu). Allah akan memberimu rezeki yang bisa mencukupimu sebagaimana Dia memberi rezeki orang-orang mukmin lainnya.”[6]


Rasulullah saw. sangat senang dengan kaum Anshar, karenanya beliau sering bercanda dengan mereka.

Kelapangan dada, keceriaan, kegembiraan, dan canda yang sering beliau perlihatkan, sama sekali tidak menyebabkan kehormatannya berkurang, bahkan sebaliknya, karisma dan keagungan beliau semakin bertambah dan semakin banyak orang yang mencintainya dan menghormatinya.

Sayyidina Ali r.a. pernah berkata, “Siapa yang baru kenal dengan Rasulullah maka dia akan merasa takut. Namun semakin jauh orang mengenalnya maka semakin besar kecintaan yang tumbuh di hari.”

Sahabat yang lain berkata, “Dulu, sekarang dan yang akan datang, tidak ada seorang pun yang bisa menandingi beliau.”

Kecintaan sahabat kepada Rasulullah saw. sangat besar, hingga mereka sering menceritakan perasaannya itu kepada orang lain. Di akhir hayatnya, sahabat ‘Amr bin Ash r.a. pernah berkata kepada putranya, “Tidak ada orang yang saya cintai melebihi Rasulullah saw..

Dan tidak ada orang yang saya hormati melebihi beliau. Saya tidak pernah sanggup memenuhi mata ini dengan sosok agung beliau, karena keagungannya.
Bila saya ditanya tentang sifat-sifatnya maka saya tidak akan mampu menggambarkannya karena saya tidak pernah memenuhi pandangan mata saya ini dengan sosok agungnya.” 

Bagian 1: Canda Tawa Nabi. Kisah-kisah canda nabi dengan para sahabat
Bagian 2: Canda Nabi Bersama Sahabat
Bagian 3: Canda nabi bersama Nu’aiman

[1] Al- ‘Aqd al-Farid, 6/381
[2] Al-‘Istii’aab, hlm. 1529
[3] Sirah al-Halabiyyah, jilid 2 hlm. 375
[4] Al-Istii’aab, hlm. 1526
[5] Al-Aqd al-Fariid, jilid 3 hlm. 307
[6] Ihyaa’ Ulumiddin

No comments