canda-nabi-kitab-canda-nabi-canda-ala-nabi-canda-ala-nabi-muhammad-saw-cerita-canda-nabi-canda-nabi-dan-sufi-canda-gurau-nabi-canda-dan-gurau-nabi-hadits-canda-nabi-kis
Rasulullah adalah figur pemimpin dengan segala keseriusan, kesalehan, kecerdasan, kejujuran, keberanian, dan akhlak yang amat tinggi. Namun, tentu kita tahu bahwa Rasulullah saw. juga manusia dengan kecenderungan sifat-sifat manusiawi. Beliau makan, minum, tidur, memiliki kesedihan, gembira termasuk di dalamnya canda dan tawa.

Keseriusan sangat dibutuhkan untuk memimpin, ketegasan juga dibutuhkan untuk memerintah, kesalehan dibutuhkan untuk memberi contoh dan menjadi petunjuk bagi orang lain. Namun Rasulullah tetaplah manusia yang terkadang membutuhkan rileks, membuat canda dan menikmati tawa dari sahabat-sahabatnya. Tidak percaya? Mari kita buktikan.


Figur Riang Gembira


Bila kita mempelajari ajaran Rasul saw, yang dirangkum dalam kitab2 hadist, kita akan mendapati bahwa sikap ceria, gembira, bertutur kata yang baik adalah sikap-sikap yang sangat dianjurkan di saat kita berinteraksi dengan orang lain.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzarr r.a. disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

{ وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ }

“Jangan sekali-kali kalian menganggap remeh suatu kebajikan, meski hanya berupa bermanis muka ketika bertemu dengan kawanmu.” (HR. Muslim, No. 4760).

dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Adi bin Hatim r.a., Rasulullah saw. Bersabda,

{ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ }

“Lindungilah diri kalian dari neraka meski hanya dengan (menyedakahkan) sebiji kurma, bila tidak punya maka cukup dengan tutur kata yang baik.” (HR. Bukhari, No. 6058)

Bahkan diri kita saja ketika melihat orang lain terhadap kita dengan ekspresi ceria maka tanpa sadar itu akan merubah suasana kita menjadi ceria. Kemudian bertanya dimulai dari hal-hal sepele, kita jawab dengan jawaban yang bisa memunculkan banyak pembahasan lain.

Hal tersebut mengindikasikan  terwujudnya rasa aman, nyaman, dan menumbuhkan kepercayaan.

Seorang tidak perlu lagi merasa curiga terhadap orang lain. Dengan sikap seperti itu akan tumbuh rasa cinta dan persaudaraan hati setiap mukmin. Dengan sikap ini pula kita memenuhi seruan Allah SWT dalam firman-Nya,

(وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ … ﴿الحجر: ٨٨

“… dan berendah hatilah engkau terhadap orang beriman.” (QS. Al-Hijr, Ayat 88).

Bisa disimpulkan bahwa membicarakan hal-hal yang baik bersama orang lain termasuk sedekah, begitu juga sikap ceria di hadapan orang lain, juga termasuk sedekah. Hal ini menunjukan makna sedekah sangat luas, tidak terbatas pada harta semata.

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah saw. Tidak pernah bermuka masam atau cemberut. Wajah beliau selalu terlihat ceria dengan hiasan senyum indah di bibirnya.

Senyum dan tawa adalah salah satu kecenderungan manusia yang sangat bermanfaat bagi diri dan sekitar. Dengan senyum suasana begitu sejuk, dengan tawa suasana menjadi hangat, dengan keceriaan suasana menjadi aman dan menumbuhkan kepercayaan. Dari sanalah toleransi, kerukunan, persatuan dalam perbedaan dimulai.

Alhamdulillah, bangsa kita dalam hal budaya adalah bangsa yang banyak senyumnya. Kalau kita dengar komentar dari ulama-ulama arab, mereka memuji bangsa Indonesia sebagai bangsa pengemal hadits nabi yaitu murah senyum. Bangsa kita juga dikenal sangat ramah oleh turis asing.

Lihat saja orang-orang yang berjalan pada banyak negara maju, seperti Jepang dan Korea atau bangsa2 yg dikenal maju lainnya. Ketika berjalan mereka terlihat begitu masam mukanya, terlihat cemberut, dan berjalan cepat.

Itu mereka lakukan mungkin karena tuntutan yang mengharuskan fokus di pekerjaan, disiplin waktu, malah menjadi seakan tidak punya waktu lagi untuk orang lain. Tapi hal itulah yang membuat mereka menjadi negara kaya raya. 

Dalam hal ini Allah SWT mengingatkan,

(لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ ﴿الحجر: ٨٨

"Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka . . . ." (QS. Al-Hijr, Ayat 88).

Sebaliknya, di negara yang mayoritas muslim, dengan kesederhanaanya justru akan membuat kehidupan sosial warga negara semakin tinggi. Mereka terlihat bahagia dengan hal2 sederhana dari yang mereka berikan atau yang mereka dapatkan.

Rasulullah juga terkadang suka bercanda atau bersenda gurau dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Kadang juga, beliau merasa terhibur dengan senda gurau para sahabat yang berjuang bersamanya. Apa yang dikatakan oleh Sayyidah ‘Aisyah r.a. bahwa, “Bila Rasulullah dihadapkan pada dua perkara, maka beliau memilih yang teringan dari keduanya . . . ”. (HR. Bukhari, No. 5661).

Istri beliau ini, juga berkata, “bila Rasulullah saw. berada di rumah, dialah orang yang paling murah senyum dan tawa.”

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. mengisahkan bahwa Rasulullah saw. selalu terlihat ceria, tenang dan santai, banyak tersenyum dihadapan para sahabat, antusias dan kagum dengan pembicaraan mereka, bahkan Beliau kadang tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.

Sebagian sahabat mengatakan bahwa tawa Nabi hanya sebatas senyuman, namun sebagian lain mengisahkan, terkadang Beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Namun yang jelas, disaat tertawa, Beliau selalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.[1]


Rilekskan Jiwa dan Hati

Beliau juga berpesan kepada para sahabat untuk sesekali merilekskan jiwa dan hati. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Beliau bersabda, “Istirahatkanlah hati kalian sesaat demi sesaat, karena bila hati telah tumpul (lelah) maka ia akan buta.”

Pada kesempatan lain, beliau juga bersabda, “orang yang tidak gembira dan tidak bisa membuat orang lain gembira, adalah orang yang tidak memiliki kebaikan.”

Lanjutan Artikel:
Bagian 1: Canda Tawa Nabi. Kisah-kisah canda nabi dengan para sahabat
Bagian 2: Canda Nabi Bersama Sahabat
Bagian 3: Canda nabi bersama Nu’aiman

[1] Kanzul-‘Ummal,

Canda Tawa Nabi. Ternyata Rasulullah Sangat Ceria Lho!

canda-nabi-kitab-canda-nabi-canda-ala-nabi-canda-ala-nabi-muhammad-saw-cerita-canda-nabi-canda-nabi-dan-sufi-canda-gurau-nabi-canda-dan-gurau-nabi-hadits-canda-nabi-kis
Rasulullah adalah figur pemimpin dengan segala keseriusan, kesalehan, kecerdasan, kejujuran, keberanian, dan akhlak yang amat tinggi. Namun, tentu kita tahu bahwa Rasulullah saw. juga manusia dengan kecenderungan sifat-sifat manusiawi. Beliau makan, minum, tidur, memiliki kesedihan, gembira termasuk di dalamnya canda dan tawa.

Keseriusan sangat dibutuhkan untuk memimpin, ketegasan juga dibutuhkan untuk memerintah, kesalehan dibutuhkan untuk memberi contoh dan menjadi petunjuk bagi orang lain. Namun Rasulullah tetaplah manusia yang terkadang membutuhkan rileks, membuat canda dan menikmati tawa dari sahabat-sahabatnya. Tidak percaya? Mari kita buktikan.


Figur Riang Gembira


Bila kita mempelajari ajaran Rasul saw, yang dirangkum dalam kitab2 hadist, kita akan mendapati bahwa sikap ceria, gembira, bertutur kata yang baik adalah sikap-sikap yang sangat dianjurkan di saat kita berinteraksi dengan orang lain.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzarr r.a. disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

{ وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ }

“Jangan sekali-kali kalian menganggap remeh suatu kebajikan, meski hanya berupa bermanis muka ketika bertemu dengan kawanmu.” (HR. Muslim, No. 4760).

dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Adi bin Hatim r.a., Rasulullah saw. Bersabda,

{ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ }

“Lindungilah diri kalian dari neraka meski hanya dengan (menyedakahkan) sebiji kurma, bila tidak punya maka cukup dengan tutur kata yang baik.” (HR. Bukhari, No. 6058)

Bahkan diri kita saja ketika melihat orang lain terhadap kita dengan ekspresi ceria maka tanpa sadar itu akan merubah suasana kita menjadi ceria. Kemudian bertanya dimulai dari hal-hal sepele, kita jawab dengan jawaban yang bisa memunculkan banyak pembahasan lain.

Hal tersebut mengindikasikan  terwujudnya rasa aman, nyaman, dan menumbuhkan kepercayaan.

Seorang tidak perlu lagi merasa curiga terhadap orang lain. Dengan sikap seperti itu akan tumbuh rasa cinta dan persaudaraan hati setiap mukmin. Dengan sikap ini pula kita memenuhi seruan Allah SWT dalam firman-Nya,

(وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ … ﴿الحجر: ٨٨

“… dan berendah hatilah engkau terhadap orang beriman.” (QS. Al-Hijr, Ayat 88).

Bisa disimpulkan bahwa membicarakan hal-hal yang baik bersama orang lain termasuk sedekah, begitu juga sikap ceria di hadapan orang lain, juga termasuk sedekah. Hal ini menunjukan makna sedekah sangat luas, tidak terbatas pada harta semata.

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah saw. Tidak pernah bermuka masam atau cemberut. Wajah beliau selalu terlihat ceria dengan hiasan senyum indah di bibirnya.

Senyum dan tawa adalah salah satu kecenderungan manusia yang sangat bermanfaat bagi diri dan sekitar. Dengan senyum suasana begitu sejuk, dengan tawa suasana menjadi hangat, dengan keceriaan suasana menjadi aman dan menumbuhkan kepercayaan. Dari sanalah toleransi, kerukunan, persatuan dalam perbedaan dimulai.

Alhamdulillah, bangsa kita dalam hal budaya adalah bangsa yang banyak senyumnya. Kalau kita dengar komentar dari ulama-ulama arab, mereka memuji bangsa Indonesia sebagai bangsa pengemal hadits nabi yaitu murah senyum. Bangsa kita juga dikenal sangat ramah oleh turis asing.

Lihat saja orang-orang yang berjalan pada banyak negara maju, seperti Jepang dan Korea atau bangsa2 yg dikenal maju lainnya. Ketika berjalan mereka terlihat begitu masam mukanya, terlihat cemberut, dan berjalan cepat.

Itu mereka lakukan mungkin karena tuntutan yang mengharuskan fokus di pekerjaan, disiplin waktu, malah menjadi seakan tidak punya waktu lagi untuk orang lain. Tapi hal itulah yang membuat mereka menjadi negara kaya raya. 

Dalam hal ini Allah SWT mengingatkan,

(لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ ﴿الحجر: ٨٨

"Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka . . . ." (QS. Al-Hijr, Ayat 88).

Sebaliknya, di negara yang mayoritas muslim, dengan kesederhanaanya justru akan membuat kehidupan sosial warga negara semakin tinggi. Mereka terlihat bahagia dengan hal2 sederhana dari yang mereka berikan atau yang mereka dapatkan.

Rasulullah juga terkadang suka bercanda atau bersenda gurau dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Kadang juga, beliau merasa terhibur dengan senda gurau para sahabat yang berjuang bersamanya. Apa yang dikatakan oleh Sayyidah ‘Aisyah r.a. bahwa, “Bila Rasulullah dihadapkan pada dua perkara, maka beliau memilih yang teringan dari keduanya . . . ”. (HR. Bukhari, No. 5661).

Istri beliau ini, juga berkata, “bila Rasulullah saw. berada di rumah, dialah orang yang paling murah senyum dan tawa.”

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. mengisahkan bahwa Rasulullah saw. selalu terlihat ceria, tenang dan santai, banyak tersenyum dihadapan para sahabat, antusias dan kagum dengan pembicaraan mereka, bahkan Beliau kadang tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.

Sebagian sahabat mengatakan bahwa tawa Nabi hanya sebatas senyuman, namun sebagian lain mengisahkan, terkadang Beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Namun yang jelas, disaat tertawa, Beliau selalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.[1]


Rilekskan Jiwa dan Hati

Beliau juga berpesan kepada para sahabat untuk sesekali merilekskan jiwa dan hati. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Beliau bersabda, “Istirahatkanlah hati kalian sesaat demi sesaat, karena bila hati telah tumpul (lelah) maka ia akan buta.”

Pada kesempatan lain, beliau juga bersabda, “orang yang tidak gembira dan tidak bisa membuat orang lain gembira, adalah orang yang tidak memiliki kebaikan.”

Lanjutan Artikel:
Bagian 1: Canda Tawa Nabi. Kisah-kisah canda nabi dengan para sahabat
Bagian 2: Canda Nabi Bersama Sahabat
Bagian 3: Canda nabi bersama Nu’aiman

[1] Kanzul-‘Ummal,

No comments