ghorib-dan-musykilatpengertian-ghorib-dan-musykilatayat-gharib-dan-musykilatpelajaran-ghorib-dan-musykilatghorib-musykilat-e1524056667605

Ghorib Dan Musykilat dalam Alqur'an

Pengertian Ghorib

Ghorib atau jamak groroib bila dilihat dari sisi terminologinya merupakan bentuk jama’ yang diambil dari kata غريب yang mempunyai beberapa arti, diantaranya adalah sesuatu yang tidak dikenal. ( غير مألوم), sesuatu yang aneh (شاذ), sesuatu yang sulit dimengerti/difahami. ( غريب من الكلام).

 

Bacaan-Bacaan Ghorib Beserta Alasannya

  1. Lafadz أنا (Q.S. Thoha:11-14)
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَىٰ [١١]
إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى [١٢]
وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ [١٣]
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [١٤]
  1. Lafadz لكنا (Q.S. al Kahfi: 38-39)
لَٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا [٣٨]
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا [٣٩]

Keterangan:

lafadz أنا dan لكنا apabila waqof dibaca panjang, dan apabila washol dibaca pendek.

Alasan dibaca pendek karena ketika washol karena alifnya lafadz أنا dan لكنا adalah zaidah (tambahan) yang fungsinya adalah untuk menampakkan harokat ketika dibaca waqof.[1]
  1. وملاءيه (Qs. Yunus: 75)
ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ وَهَارُونَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ [٧٥]

Keterangan:

lafadz وملاءيه lamnya dibaca pendek ketika washol maupun waqof.
Selama ini kita sering mendengar tentang alasan lam dibaca pendek, ada yang mengatakan karena وملاءيه di mudlofkan pada dhomir muttashil.

Alasan ini dapat dipatahkan dengan argument bahwa dalam ilmu nahwu tidak ada keterangan tentang penambahan huruf, sebab ilmu nahwu hanya membahas I’rob. Kalaupun ada keterangan tentang penambahan huruf atau pembuangan huruf mestinya pembahasan ada pada ilmu shorof, sementara ilmu shorof tidak membahasa tentang mudlof ilaih.

Ada juga yang mengatakan bahwa alif dari lafadz وملاءيه itu adalah ziyadah (tambahan) karena alifnya merupakan wadah daripada hamzah.
  1. قواريرا (QS. Al Insaan: 15-16)
وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا [١٥]
قَوَارِيرَ مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا [١٦]

Keterangan:

lafadz قواريرا baik yang pertama maupun kedua apabila washol maka را dibaca pendek.

Dan apabila waqof maka lafadz را dari lafadz قواريرا yang pertama dibaca panjang, sedang yang kedua dibaca pendek.

Alasan pembacaan tersebut, karena alif pada lafadz قواريرا ditambahkan untuk menampakkan fathah ketika waqof dalam rangka keseimbangan bunyi pada setiap akhir ayat sebelum dan sesudahnya. Sehingga ketika waqof masing2 kata tersebut akan diakhiri bunyi huruf alif. Sementara ketika washol tidak membutuhkan tambahan huruf alif, karena dengan adanya washol itu harokat fathah akan tampak dengan sendirinya.[2]
  1. سلسلا (QS. Al Insaan: 3-4)
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا [٣]
إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا [٤]

Keterangan:
lafadz سَلَاسِلَا apabila waqof lamnya boleh dibaca panjang dan boleh dibaca sukun dan apabila washol di baca pendek.

Alasan dibaca panjang apabila waqof adalah karena mengikuti Rosmul Ustmani (karena lafadz سَلَاسِلَا di semua mushaf ustmani di tulis dengan memakai alif). Sedangkan dibaca sukun karena mengikuti lafadznya (karena lafadz سَلَاسِلَا itu sighot muntahal jumu’ mengikuti wazan مفاعل).[3]
  1. الظُّنُونَا (QS. Al Ahzab: 10)
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا [١٠]
  1. الرَّسُولَا (QS. Al Ahzab: 66)
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا [٦٦]
  1. السَّبِيلَا (QS. Al Ahzab: 67)
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا [٦٧]

Keterangan:

lafadz  الظُّنُونَا, الرَّسُولَا, السَّبِيلَا ketiganya apabila waqof dibaca pendek dan apabila washol dibaca panjang.

Alasanya apabila waqof di baca pendek karena alif pada ketiga lafadz tersebut digunakan dalam rangka penampakan harokat fathah untuk keseimbangan bunyi pada setiap akhir ayat sebelum dan sesudahnya sehingga ketika waqof masing2 kata tersebut akan diakhiri bunyi huruf alif.

Sedangkan alasan dibaca panjang ketika washol karena washol tidak membutuhkan tambahan huruf alif, karena dengan adanya washol itu harokat fathah akan tampak dengan sendirinya.[4]
  1. Imalah
Adalah mengucapkan fathah dengan mendekati kasroh.[5]
Adapun alasan bacaan imalah adalah alasan dari sisi periwayatan semata. Dengan kata lain, menurut qiroah Imam Ashim riwayat dari Imam Hafash, lafadz مَجْرَاهَا dibaca imalah.

Tujuan iamalah menurut Ibnu Jazari:

Tujuan imalah adalah untuk menginformasikan bahwa asalnya alif adalah ya’. Atau mengingatkan atas perubahan Alif pada ya’ dalam satu tempat atau penyesuaian Alif pada Kasroh yang berdampingan dengan Alif atau ya’.[6]
Adapun ayat yang didalamnya terdapat bacaan imalah adalah surat al Hud ayat 41:

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ [٤١]

10. Isymam

Adalah mengumpulkan dua bibir dengan tanpa suara setelah membuang harokat sebagai isyarat bahwa yang dibuang adalah dhommah.[7]

Adapun cara bacanya adalah menyempurnakan fathah dan dhommah dengan memajukan bibir ditengah-tengah membaca ghunnahnya Nun Tsydid.

Sedangkan alasan pembacaan ismam ini selain alasan periwayatan qiroat imam Hafs karena untuk menampakkan harokat dhommah, sebab aslinya lafadz لاتأمنا adalah لاتأمننا (la ta’manuna) kemudian huruf nun pertama di idghomkan pada huruf kedua sehingga huruf nun pertama yang berharokat dhommah ini harus disukunkan karena idghom. Lalu agar harokat dhommah itu tampak, maka di baca secara isymam.

Bunyi ayat yang di dalamnya ada bacaan isymam adalah surat yusuf ayat 11 sebagai berikut:
أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [١٢]

11. Tashil

Membaca tengah2 antara hamzah dan alif, hamzah itu berbunyi sedangkan alif itu tidak berbunyi, jadi membacanya tengah2 diantara keduanya seperti ha’ yang samar.[8]

Memang alasan perubahan huruf hamzah disini dalam rangka memudahkan bunyi huruf, sebab bangsa arab kesulitan ketika harus membunyikan huruf hamzah berjajar.

Bunyi ayat yang terdapat tashil adalah surat fushilat ayat 44 sebagai berikut:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
  • Lafadz ويبصط (QS. Al Baqoroh: 245) dan بصطه (QS. Al A’rof: 69)
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ٢٤٥
أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ٦٩

Keterangan: cara membaca lafadz ويبصط dan بصطه adalah kedua-duanya shod dibaca sin.

Sedangkan alasan pembacaanya hanyalah alasan periwayatannya semata (menurut qiro’at imam ‘ashim riwayat imam hafsh kedua-duanya shod di baca sin), karena dilihat dari sisi maknanya sama. Di samping itu kedua-duanya baik memakai sin ataupun shod sama2 terpakai dari sisi penggunaan kebahasaannya.[9]
  • Lafadz المصيطرون (QS. Ath Thur: 37)
أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ ٣٧

Keterangan: lafadz الْمُصَيْطِرُونَ boleh dibaca shod dan boleh dibaca sin.
Sedangkan alasan pembacaanya hanyalah alasan periwayatan semata (menurut qiro’at imam ‘ashim riwayat imam hafsh kedua-duanya shod di baca sin),  karena dilihat dari sisi maknanya sama.

Menurut ibn al Juzi yang menukil keterangan dari az-zujjaj mengatakan bahwa aslinya الْمُصَيْطِرُونَ adalah sin, dan semua sin yang setelahnya tho’ maka bisa diganti shod.
  • Lafadz بمصيطر (QS. Al Ghosyiah: 21-22)
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ ﴿٢١﴾ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ ﴿٢٢

Keterangan: lafadz بِمُصَيْطِرٍ shodnya tetap dibaca shod.
Alasan pembacaanya sama seperti halnya lafadz الْمُصَيْطِرُونَ, hanya saja periwayatan untuk lafadz بِمُصَيْطِرٍ ini hanya boleh dibaca shod. Jadi, alasan pembacaan ini tidak lain hanyalah alasan periwayatan semata.
  • Lafadz بِئْسَ الِاسْمُ (QS. Al Hujurot: 11)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿١١
Keterangan: lafadz بِئْسَ الِاسْمُ apabila washol huruf lam di baca kasroh dan huruf sin tetap dalam posisinya yaitu dibaca sukun, sedangkan kedua hamzah washol tidak terbaca, dan apabila diwaqofkan pada lafadz بِئْسَ (waqof ikhtibary) dan dimulai dari lafadz الِاسْمُ maka ada dua cara membacanya:
  1. hamzah washol dibaca fathah dan lam di baca kasroh
  2. lam dibaca kasroh tanpa memakai hamzah washol[10]
 kalimat بِئْسَ الِاسْمُ ini sering disebut dengan istilah bacaan naql.
  • Saktah (السكت)
 Menurut Imam Mursyifi, saktah adalah memutus suara dalam masa yang kurang dari masanya waqof tanpa bernafas dengan niat kembali membaca seketika itu.[11]

Adapun saktah menurut bacaan Imam Ashim riwayat Imam Hafsh terdapat pada empat tempat:

1) surat Al Kahfi ayat 1

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ۜ ﴿١﴾قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا﴿٢

2) surat yasiin ayat 52

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ ﴿٥٢

Lafadz عِوَجًا dan مِنْ مَرْقَدِنَا selain bisa di baca saktah juga diperbolehkan waqof, karena waqof pada lafadz عِوَجًا dan مِنْ مَرْقَدِنَا merupakan waqof taam (sempurna).

3) surat al Qiyamah ayat 27

وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ ﴿٢٧

4) surat Muthoffifin ayat 14

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿١٤

Berbada dengan kedua tempat bacaan saktah yang sebelumnya, maka kedua lafadz ini, baik مَنْ رَاقٍ maupun بَلْ رَانَ harus dibaca saktah karena tidak memungkinkan untuk dibaca waqof. Sebab waqof pada kedua lafadz tersebut masih belum taam. Dengan demikian maka harus dibaca washol, dan apabila di baca washol maka harus dibaca saktah dan harus di idzharkan agar tampak bahwa keduanya masing-masing terdiri dari dua kalimat.

[1] Abu al-baqo’ al ‘abkary, imla’ ma bihi ar-rohman, maktabah syamilah: hal. 108 juz. 1
[2] A. Dzul Hilmi Ghozali, makalah disampaikan dalam rangka pembinaan guru TPQ Kab. Mojokerto di gedung serbaguna Kemdiknas Mojokerto 13 Oktober 2009
[3] Ali an-Nury ash-Shofaqisy, ghoits an-Naf’I fi al-Qiroati as-sab’i, Beirut: Dar al-Fikr, hal. 129
[4] A. Dzul Hilmi Ghozali, hal. 2, bandingkan dengan Ali bin Ahmad al-Wahidi, al Muharror al Wajiz, juz 5 hal. 295 maktabah syamilah
[5] Sayyid Alawi bin Sayyid Abbas, Faidlu al-Khobir Wa Kholashot al Taqrir, Surabaya: al Hidayah, 1960, hal. 90
[6] Ibnu Jazari, an-nasyr fi al-qiroati al al-asyr, maktabah syamilah, juz 1 hal. 36
[7] Ibid, hal. 83
[8] A. Dzul Hilmi Ghozali, Op. Cit, hal. 3
[9] A. Dzul Hilmi Ghozali, Op. Cit, hal. 5
[10] Abdul Fattah al Murshify, Hidayatul Qori, maktabah syamilah
[11] Al-Murshify, Hidayatul Qori, maktabah syamilah

Ghorib Dan Musykilat Alqur'an

ghorib-dan-musykilatpengertian-ghorib-dan-musykilatayat-gharib-dan-musykilatpelajaran-ghorib-dan-musykilatghorib-musykilat-e1524056667605

Ghorib Dan Musykilat dalam Alqur'an

Pengertian Ghorib

Ghorib atau jamak groroib bila dilihat dari sisi terminologinya merupakan bentuk jama’ yang diambil dari kata غريب yang mempunyai beberapa arti, diantaranya adalah sesuatu yang tidak dikenal. ( غير مألوم), sesuatu yang aneh (شاذ), sesuatu yang sulit dimengerti/difahami. ( غريب من الكلام).

 

Bacaan-Bacaan Ghorib Beserta Alasannya

  1. Lafadz أنا (Q.S. Thoha:11-14)
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَىٰ [١١]
إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى [١٢]
وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ [١٣]
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [١٤]
  1. Lafadz لكنا (Q.S. al Kahfi: 38-39)
لَٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا [٣٨]
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا [٣٩]

Keterangan:

lafadz أنا dan لكنا apabila waqof dibaca panjang, dan apabila washol dibaca pendek.

Alasan dibaca pendek karena ketika washol karena alifnya lafadz أنا dan لكنا adalah zaidah (tambahan) yang fungsinya adalah untuk menampakkan harokat ketika dibaca waqof.[1]
  1. وملاءيه (Qs. Yunus: 75)
ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ وَهَارُونَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ [٧٥]

Keterangan:

lafadz وملاءيه lamnya dibaca pendek ketika washol maupun waqof.
Selama ini kita sering mendengar tentang alasan lam dibaca pendek, ada yang mengatakan karena وملاءيه di mudlofkan pada dhomir muttashil.

Alasan ini dapat dipatahkan dengan argument bahwa dalam ilmu nahwu tidak ada keterangan tentang penambahan huruf, sebab ilmu nahwu hanya membahas I’rob. Kalaupun ada keterangan tentang penambahan huruf atau pembuangan huruf mestinya pembahasan ada pada ilmu shorof, sementara ilmu shorof tidak membahasa tentang mudlof ilaih.

Ada juga yang mengatakan bahwa alif dari lafadz وملاءيه itu adalah ziyadah (tambahan) karena alifnya merupakan wadah daripada hamzah.
  1. قواريرا (QS. Al Insaan: 15-16)
وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا [١٥]
قَوَارِيرَ مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا [١٦]

Keterangan:

lafadz قواريرا baik yang pertama maupun kedua apabila washol maka را dibaca pendek.

Dan apabila waqof maka lafadz را dari lafadz قواريرا yang pertama dibaca panjang, sedang yang kedua dibaca pendek.

Alasan pembacaan tersebut, karena alif pada lafadz قواريرا ditambahkan untuk menampakkan fathah ketika waqof dalam rangka keseimbangan bunyi pada setiap akhir ayat sebelum dan sesudahnya. Sehingga ketika waqof masing2 kata tersebut akan diakhiri bunyi huruf alif. Sementara ketika washol tidak membutuhkan tambahan huruf alif, karena dengan adanya washol itu harokat fathah akan tampak dengan sendirinya.[2]
  1. سلسلا (QS. Al Insaan: 3-4)
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا [٣]
إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا [٤]

Keterangan:
lafadz سَلَاسِلَا apabila waqof lamnya boleh dibaca panjang dan boleh dibaca sukun dan apabila washol di baca pendek.

Alasan dibaca panjang apabila waqof adalah karena mengikuti Rosmul Ustmani (karena lafadz سَلَاسِلَا di semua mushaf ustmani di tulis dengan memakai alif). Sedangkan dibaca sukun karena mengikuti lafadznya (karena lafadz سَلَاسِلَا itu sighot muntahal jumu’ mengikuti wazan مفاعل).[3]
  1. الظُّنُونَا (QS. Al Ahzab: 10)
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا [١٠]
  1. الرَّسُولَا (QS. Al Ahzab: 66)
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا [٦٦]
  1. السَّبِيلَا (QS. Al Ahzab: 67)
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا [٦٧]

Keterangan:

lafadz  الظُّنُونَا, الرَّسُولَا, السَّبِيلَا ketiganya apabila waqof dibaca pendek dan apabila washol dibaca panjang.

Alasanya apabila waqof di baca pendek karena alif pada ketiga lafadz tersebut digunakan dalam rangka penampakan harokat fathah untuk keseimbangan bunyi pada setiap akhir ayat sebelum dan sesudahnya sehingga ketika waqof masing2 kata tersebut akan diakhiri bunyi huruf alif.

Sedangkan alasan dibaca panjang ketika washol karena washol tidak membutuhkan tambahan huruf alif, karena dengan adanya washol itu harokat fathah akan tampak dengan sendirinya.[4]
  1. Imalah
Adalah mengucapkan fathah dengan mendekati kasroh.[5]
Adapun alasan bacaan imalah adalah alasan dari sisi periwayatan semata. Dengan kata lain, menurut qiroah Imam Ashim riwayat dari Imam Hafash, lafadz مَجْرَاهَا dibaca imalah.

Tujuan iamalah menurut Ibnu Jazari:

Tujuan imalah adalah untuk menginformasikan bahwa asalnya alif adalah ya’. Atau mengingatkan atas perubahan Alif pada ya’ dalam satu tempat atau penyesuaian Alif pada Kasroh yang berdampingan dengan Alif atau ya’.[6]
Adapun ayat yang didalamnya terdapat bacaan imalah adalah surat al Hud ayat 41:

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ [٤١]

10. Isymam

Adalah mengumpulkan dua bibir dengan tanpa suara setelah membuang harokat sebagai isyarat bahwa yang dibuang adalah dhommah.[7]

Adapun cara bacanya adalah menyempurnakan fathah dan dhommah dengan memajukan bibir ditengah-tengah membaca ghunnahnya Nun Tsydid.

Sedangkan alasan pembacaan ismam ini selain alasan periwayatan qiroat imam Hafs karena untuk menampakkan harokat dhommah, sebab aslinya lafadz لاتأمنا adalah لاتأمننا (la ta’manuna) kemudian huruf nun pertama di idghomkan pada huruf kedua sehingga huruf nun pertama yang berharokat dhommah ini harus disukunkan karena idghom. Lalu agar harokat dhommah itu tampak, maka di baca secara isymam.

Bunyi ayat yang di dalamnya ada bacaan isymam adalah surat yusuf ayat 11 sebagai berikut:
أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [١٢]

11. Tashil

Membaca tengah2 antara hamzah dan alif, hamzah itu berbunyi sedangkan alif itu tidak berbunyi, jadi membacanya tengah2 diantara keduanya seperti ha’ yang samar.[8]

Memang alasan perubahan huruf hamzah disini dalam rangka memudahkan bunyi huruf, sebab bangsa arab kesulitan ketika harus membunyikan huruf hamzah berjajar.

Bunyi ayat yang terdapat tashil adalah surat fushilat ayat 44 sebagai berikut:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
  • Lafadz ويبصط (QS. Al Baqoroh: 245) dan بصطه (QS. Al A’rof: 69)
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ٢٤٥
أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ٦٩

Keterangan: cara membaca lafadz ويبصط dan بصطه adalah kedua-duanya shod dibaca sin.

Sedangkan alasan pembacaanya hanyalah alasan periwayatannya semata (menurut qiro’at imam ‘ashim riwayat imam hafsh kedua-duanya shod di baca sin), karena dilihat dari sisi maknanya sama. Di samping itu kedua-duanya baik memakai sin ataupun shod sama2 terpakai dari sisi penggunaan kebahasaannya.[9]
  • Lafadz المصيطرون (QS. Ath Thur: 37)
أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ ٣٧

Keterangan: lafadz الْمُصَيْطِرُونَ boleh dibaca shod dan boleh dibaca sin.
Sedangkan alasan pembacaanya hanyalah alasan periwayatan semata (menurut qiro’at imam ‘ashim riwayat imam hafsh kedua-duanya shod di baca sin),  karena dilihat dari sisi maknanya sama.

Menurut ibn al Juzi yang menukil keterangan dari az-zujjaj mengatakan bahwa aslinya الْمُصَيْطِرُونَ adalah sin, dan semua sin yang setelahnya tho’ maka bisa diganti shod.
  • Lafadz بمصيطر (QS. Al Ghosyiah: 21-22)
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ ﴿٢١﴾ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ ﴿٢٢

Keterangan: lafadz بِمُصَيْطِرٍ shodnya tetap dibaca shod.
Alasan pembacaanya sama seperti halnya lafadz الْمُصَيْطِرُونَ, hanya saja periwayatan untuk lafadz بِمُصَيْطِرٍ ini hanya boleh dibaca shod. Jadi, alasan pembacaan ini tidak lain hanyalah alasan periwayatan semata.
  • Lafadz بِئْسَ الِاسْمُ (QS. Al Hujurot: 11)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿١١
Keterangan: lafadz بِئْسَ الِاسْمُ apabila washol huruf lam di baca kasroh dan huruf sin tetap dalam posisinya yaitu dibaca sukun, sedangkan kedua hamzah washol tidak terbaca, dan apabila diwaqofkan pada lafadz بِئْسَ (waqof ikhtibary) dan dimulai dari lafadz الِاسْمُ maka ada dua cara membacanya:
  1. hamzah washol dibaca fathah dan lam di baca kasroh
  2. lam dibaca kasroh tanpa memakai hamzah washol[10]
 kalimat بِئْسَ الِاسْمُ ini sering disebut dengan istilah bacaan naql.
  • Saktah (السكت)
 Menurut Imam Mursyifi, saktah adalah memutus suara dalam masa yang kurang dari masanya waqof tanpa bernafas dengan niat kembali membaca seketika itu.[11]

Adapun saktah menurut bacaan Imam Ashim riwayat Imam Hafsh terdapat pada empat tempat:

1) surat Al Kahfi ayat 1

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ۜ ﴿١﴾قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا﴿٢

2) surat yasiin ayat 52

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ ﴿٥٢

Lafadz عِوَجًا dan مِنْ مَرْقَدِنَا selain bisa di baca saktah juga diperbolehkan waqof, karena waqof pada lafadz عِوَجًا dan مِنْ مَرْقَدِنَا merupakan waqof taam (sempurna).

3) surat al Qiyamah ayat 27

وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ ﴿٢٧

4) surat Muthoffifin ayat 14

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ﴿١٤

Berbada dengan kedua tempat bacaan saktah yang sebelumnya, maka kedua lafadz ini, baik مَنْ رَاقٍ maupun بَلْ رَانَ harus dibaca saktah karena tidak memungkinkan untuk dibaca waqof. Sebab waqof pada kedua lafadz tersebut masih belum taam. Dengan demikian maka harus dibaca washol, dan apabila di baca washol maka harus dibaca saktah dan harus di idzharkan agar tampak bahwa keduanya masing-masing terdiri dari dua kalimat.

[1] Abu al-baqo’ al ‘abkary, imla’ ma bihi ar-rohman, maktabah syamilah: hal. 108 juz. 1
[2] A. Dzul Hilmi Ghozali, makalah disampaikan dalam rangka pembinaan guru TPQ Kab. Mojokerto di gedung serbaguna Kemdiknas Mojokerto 13 Oktober 2009
[3] Ali an-Nury ash-Shofaqisy, ghoits an-Naf’I fi al-Qiroati as-sab’i, Beirut: Dar al-Fikr, hal. 129
[4] A. Dzul Hilmi Ghozali, hal. 2, bandingkan dengan Ali bin Ahmad al-Wahidi, al Muharror al Wajiz, juz 5 hal. 295 maktabah syamilah
[5] Sayyid Alawi bin Sayyid Abbas, Faidlu al-Khobir Wa Kholashot al Taqrir, Surabaya: al Hidayah, 1960, hal. 90
[6] Ibnu Jazari, an-nasyr fi al-qiroati al al-asyr, maktabah syamilah, juz 1 hal. 36
[7] Ibid, hal. 83
[8] A. Dzul Hilmi Ghozali, Op. Cit, hal. 3
[9] A. Dzul Hilmi Ghozali, Op. Cit, hal. 5
[10] Abdul Fattah al Murshify, Hidayatul Qori, maktabah syamilah
[11] Al-Murshify, Hidayatul Qori, maktabah syamilah

No comments