jaga-lisan-kita-jaga-lisan-dan-tulisan-jaga-lisan-jaga-hati-jaga-lisanmu-dalam-islam-jaga-lisan-jaga-ucapan
Jaga lisan dalam konteks sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari menjaga tulisan. Dalam kehidupan nyata mungkin agak lebih mudah menjaga lisan karena kita bertemu langsung dengan manusia. Tapi dalam dunia maya, yang disebut Netizen, sekelompok warga yang tak memiliki batas teritorial dan tak memiliki Raja, tulisan-tulisan jahat yang banyak menimbulkan masalah berkeliaran.
Baca Juga: Media Sosial, Media atau Senjata!
Jika dulur yang budiman membaca artikel diatas maka sobat akan temukan bahwa media sosial bisa menjadi senjata yang mematikan. Bisa memporak-porandakan.

Dengan akun2 bot (akun2 yg gk jelas), akun2 itu bisa menghancurkan reputasi seseorang. Menghujat sana-sini seolah-olah menjadi manusia yang paling sempurna di muka bumi.

Apakah memang teknologi dibuat untuk memudahkan kehidupan manusia, atau untuk menghancurkan kemanusiaan?

Salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang adalah selalu menghiasi mulutnya (dan jempolnya) dengan kata-kata yang baik dan menahan diri dari mengeluarkan kata-kata buruk.

Menata pembicaraan merupakan satu jneis kebajikan yang mempunyai manfaat yang besar, tidak hanya bagi orang lain yang melakukannya, namun juga bagi orang yang mengonsumsinya.

Sabda Rasulullah saw. dalam riwayat Muslim No. 67,


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam . . .”

Dalam hadits ini Rasulullah saw. sang panutan dalam bersikap dalam era apapun, menegaskan bahwa diam, tidak komentar, jauh lebih baik daripada berkata kotor, tidak berguna, hoax, dan menuduh-nuduh. 

Lalu bagaimana untuk mengidentifikasi baik buruknya perkataan? kita sering melontarkan sesuatu yang menurut kita biasa maka hal itu baik untuk dilakukan.

Padahal seperti kata Gus Mus, "Untuk mengukur dalamnya sungai jangan pakai tubuh manusia. Tetapi pakailah meteran. Dalam agama meteran itu adalah Qur'an dan Sunnah.

Agar dulur2 bisa dapat gambaran ukuran itu, maka ada hadist dalam riwayat Bukhari. Rasulullah saw. bersabda,


{ إنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعَالى مَا يُلقِي لهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّه بهَا دَرَجاتٍ، وَإنَّ الْعبْدَ لَيَتَكلَّمُ بالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ تَعالى لا يُلْقي لهَا بَالًا يهِوي بهَا في جَهَنَّم . رواه البخاري }

"Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang diridhai Allah yang dia anggap perkatannya itu biasa-biasa saja, maka Allah akan mengangkat derajatnya disebabkan perkataan baiknya. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka yang ia anggap biasa saja, maka dia dilemparkan ke dalam jahannam sebab perkataan buruknya.” (HR. Bukhari).

Dari Sabda Rasul diatas dapat dipahami bahwa tidak semua hal buruk yang biasa kita ungkapkan adalah hal baik, justru jika dipandang buruk oleh Allah kebiasaan itu akan menjerumuskan kita ke neraka jahannam.

Juga sebaliknya, segala hal baik walaupun kita anggap biasa saja, tetapi Allah meridlainya, maka perkataan baiknya menjadikan terangkatnya derajat di sisi Allah SWT.

Hadist Riwayat Ahmad no. 13071,


{ لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه، ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه }

“Iman seseorang tidak sempurna kecuali bila hatinya telah lurus (bersih). Dan hati seseorang tidak akan lurus kecuali jika lisannya telah terjaga (dari ucapan yang kotor dan keji).”

Imam Ath Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang hamba tidak akan sampai pada tingkat keimanan hakiki kecuali setelah dia mampu menjaga lisannya.”

Jadi dulur-dulur, mari kita jaga ucapan kita. Sebab Allah sangat memperhitungkan segala apa yang kita ucapkan dan lakukan. Kebaikan sekecil apapun yang hingga kita anggap remeh, malah bisa menjadikan derajat kita naik disisi Allah.

Jaga Lisan Jaga Tulisan, Tanda Kualitas Iman

jaga-lisan-kita-jaga-lisan-dan-tulisan-jaga-lisan-jaga-hati-jaga-lisanmu-dalam-islam-jaga-lisan-jaga-ucapan
Jaga lisan dalam konteks sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari menjaga tulisan. Dalam kehidupan nyata mungkin agak lebih mudah menjaga lisan karena kita bertemu langsung dengan manusia. Tapi dalam dunia maya, yang disebut Netizen, sekelompok warga yang tak memiliki batas teritorial dan tak memiliki Raja, tulisan-tulisan jahat yang banyak menimbulkan masalah berkeliaran.
Baca Juga: Media Sosial, Media atau Senjata!
Jika dulur yang budiman membaca artikel diatas maka sobat akan temukan bahwa media sosial bisa menjadi senjata yang mematikan. Bisa memporak-porandakan.

Dengan akun2 bot (akun2 yg gk jelas), akun2 itu bisa menghancurkan reputasi seseorang. Menghujat sana-sini seolah-olah menjadi manusia yang paling sempurna di muka bumi.

Apakah memang teknologi dibuat untuk memudahkan kehidupan manusia, atau untuk menghancurkan kemanusiaan?

Salah satu tanda kesempurnaan iman seseorang adalah selalu menghiasi mulutnya (dan jempolnya) dengan kata-kata yang baik dan menahan diri dari mengeluarkan kata-kata buruk.

Menata pembicaraan merupakan satu jneis kebajikan yang mempunyai manfaat yang besar, tidak hanya bagi orang lain yang melakukannya, namun juga bagi orang yang mengonsumsinya.

Sabda Rasulullah saw. dalam riwayat Muslim No. 67,


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam . . .”

Dalam hadits ini Rasulullah saw. sang panutan dalam bersikap dalam era apapun, menegaskan bahwa diam, tidak komentar, jauh lebih baik daripada berkata kotor, tidak berguna, hoax, dan menuduh-nuduh. 

Lalu bagaimana untuk mengidentifikasi baik buruknya perkataan? kita sering melontarkan sesuatu yang menurut kita biasa maka hal itu baik untuk dilakukan.

Padahal seperti kata Gus Mus, "Untuk mengukur dalamnya sungai jangan pakai tubuh manusia. Tetapi pakailah meteran. Dalam agama meteran itu adalah Qur'an dan Sunnah.

Agar dulur2 bisa dapat gambaran ukuran itu, maka ada hadist dalam riwayat Bukhari. Rasulullah saw. bersabda,


{ إنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعَالى مَا يُلقِي لهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّه بهَا دَرَجاتٍ، وَإنَّ الْعبْدَ لَيَتَكلَّمُ بالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ تَعالى لا يُلْقي لهَا بَالًا يهِوي بهَا في جَهَنَّم . رواه البخاري }

"Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang diridhai Allah yang dia anggap perkatannya itu biasa-biasa saja, maka Allah akan mengangkat derajatnya disebabkan perkataan baiknya. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka yang ia anggap biasa saja, maka dia dilemparkan ke dalam jahannam sebab perkataan buruknya.” (HR. Bukhari).

Dari Sabda Rasul diatas dapat dipahami bahwa tidak semua hal buruk yang biasa kita ungkapkan adalah hal baik, justru jika dipandang buruk oleh Allah kebiasaan itu akan menjerumuskan kita ke neraka jahannam.

Juga sebaliknya, segala hal baik walaupun kita anggap biasa saja, tetapi Allah meridlainya, maka perkataan baiknya menjadikan terangkatnya derajat di sisi Allah SWT.

Hadist Riwayat Ahmad no. 13071,


{ لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه، ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه }

“Iman seseorang tidak sempurna kecuali bila hatinya telah lurus (bersih). Dan hati seseorang tidak akan lurus kecuali jika lisannya telah terjaga (dari ucapan yang kotor dan keji).”

Imam Ath Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang hamba tidak akan sampai pada tingkat keimanan hakiki kecuali setelah dia mampu menjaga lisannya.”

Jadi dulur-dulur, mari kita jaga ucapan kita. Sebab Allah sangat memperhitungkan segala apa yang kita ucapkan dan lakukan. Kebaikan sekecil apapun yang hingga kita anggap remeh, malah bisa menjadikan derajat kita naik disisi Allah.

No comments