parinah-parinah-tki-parinah-london-parinah-tki-di-london-partinah-tkw-banyumas-parinah-tki-indonesia-parinah-inggris-parinah-tki-london
Parinah, perempuan asal Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, dikabarkan menjadi modern slavery di Bringhton, Inggris. TKI yang kini berusia 50 tahun itu kini telah pulang ke Indonesia.
Sunarti, anak sulung Parinah menceritakan bahwa ibundanya pergi ke Arab Saudi pada 1999. Dia berangkat bersama seorang temannya melalui jasa penyalur TKI di Jakarta. Tetapi, setelah bertahun-tahun Parinah tidak pernah ada kabar.
Bahkan teman karibnya uang berangkat bersama Parinah hanya bertahan selama 4 bulan. Dia pulang karena tidak betah.


Parinah Kirim Surat Untuk Pertama Kalinya 


Sunarti menceritakan, bahwa ibunya kirim surat pada 2005, isinya meminta dibantu pulang, karena tidak betah. Kabarnya, sejak 2004 Parinah tidak berada di Saudi, tetapi ia dipekerjakan di Inggris.

Lantaran masiih kecil dan tak tahu prosedur pemulangan ibunya, Sunarti tidak melakukan upaya apa-apa. Dia dan kedua adiknya, Parsin (kini berusia 33) dan Nur Hamdan (kini berusia 29 tahun), saat itu hanya kebingungan. Mereka hanya memiliki Petunjuk nama majikan serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

Pada 2005, Parinah mengirim surat beserta bukti transfer ke rekening Bank BRI milik adik Parinah senilai 500 poundsterling. Kebetulan ketiga anak parinah di asuh oelh orang tuanya di bantu adik Parinah lantaran sudah berpisah dengan suami.


Kirim Surat Kedua Kalinya Baru Pada 2018


Parinah baru melayangkan surat kembali 13 tahun kemudian. Parinah yang diketahui bekerja kepada dr Alaa M. Ali Abdallah berkirim surat pada 18 Januari 2018. Surat dengan tulisan tangan di sebuah kertas putih berlogo klub sepakbola Inggris itu diterima keluarga pada 28 Januari 2018.

Lagi-lagi Parinah meminta keluarganya untuk membawa pulang dirinya. Dalam surat berisi selembar uang 20 poundsterling itu, Parinah mengaku tidak betah.

Setelah membaca semua isi surat itu, Parsin dan Hamdan memberanikan diri pergi ke Kantor Imigrasi Cilacap. Kantor tersebut dituju lantaran sang ibu memperoleh paspor di situ. “dua hari berturut-turut sejak 29 Januari kami ke Cilacap mengurus pemulangan ibu. PJTKI penyalur ibu sudah tutup, dan teman ibu waktu berangkat ke Saudi saya ajak,” ujar Parsin.

Meski tidak lama bekerja di Saudi, teman Parinah itu membantu banyak. Berawal dari keterangannya, informasi majikan Parinah mulai dikantongi petugas. Setelah melapor ke Kantor Imigrasi Cilacap, Parsin dan Hamdan mulai menemukan titik terang. Keduanya mendapat arahan ke mana dan bagaimana membantu pemulangan ibunya.


Usaha itu akhirnya membuahkan hasil


Pada 5 maret 2018, datang surat dari Dirjen Protokol dan Konsuler Kemenlu Indonesia. Surat pemberitahuan itu menyatakan bahwa KBRI Inggris sudah menghubungi majikan Parinah. Namun, majikan Parinah tidak kooperatif dengan mengabaikan telepon dari KBRI.

Akhirnya, KBRI London meminta bantuan aparat hokum setempat, dalam hal ini kepolisian di Brighton, Sussex, Inggris, agar pengguna jasa Parinah diproses hukum. Dan pada 5 April, Parinah berhasil dikeluarkan dari rumah majikannya. Pada hari itu juga, majikan parinah ditangkap dengan tuduhan modern slavery atau perbudakan modern.

“pada 17 April, ada telepon masuk dari nomor luar negeri. Setelah saya angkat, ternyata itu dari ibu. Dia sudah diselamatkan. Sejak saat itu komunikasi selalu lancar, bahkan sampai kirim foto dan lainnya,” ujar Parsin.

Dalam komunikasi itu, keluarga di rumah mendapat sedikit gambaran tentang apa yang dialami Parinah. Selama ini Parinah tidak mendapatkan gaji dari majikannya. Hanya makan, dan tidak boleh pergi jika tidak dengan anggota keluarga majikan.

Parinah di pulangkan pada tanggal 10 April pukul 10.00 waktu London. Mengetahui ibunya hendak pulang, keluarga sudah siap menyambut di rumah. Menggelar syukuran kecil-kecilan menyambut kepulangan orang tuanya.

Parinah Disambut Keluarganya 

Parinah dibasuh oleh anak ketiganya (Nurhamdan). Ketika pulang ke rumah anak pertamanya di Desa Nusawungu, Cilacap 12 April 2018. 
Parinah memeluk anak pertamanya (Sunarti).


Kisah Parinah. Korban Perbudakan Modern selama 19 tahun

parinah-parinah-tki-parinah-london-parinah-tki-di-london-partinah-tkw-banyumas-parinah-tki-indonesia-parinah-inggris-parinah-tki-london
Parinah, perempuan asal Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, dikabarkan menjadi modern slavery di Bringhton, Inggris. TKI yang kini berusia 50 tahun itu kini telah pulang ke Indonesia.
Sunarti, anak sulung Parinah menceritakan bahwa ibundanya pergi ke Arab Saudi pada 1999. Dia berangkat bersama seorang temannya melalui jasa penyalur TKI di Jakarta. Tetapi, setelah bertahun-tahun Parinah tidak pernah ada kabar.
Bahkan teman karibnya uang berangkat bersama Parinah hanya bertahan selama 4 bulan. Dia pulang karena tidak betah.


Parinah Kirim Surat Untuk Pertama Kalinya 


Sunarti menceritakan, bahwa ibunya kirim surat pada 2005, isinya meminta dibantu pulang, karena tidak betah. Kabarnya, sejak 2004 Parinah tidak berada di Saudi, tetapi ia dipekerjakan di Inggris.

Lantaran masiih kecil dan tak tahu prosedur pemulangan ibunya, Sunarti tidak melakukan upaya apa-apa. Dia dan kedua adiknya, Parsin (kini berusia 33) dan Nur Hamdan (kini berusia 29 tahun), saat itu hanya kebingungan. Mereka hanya memiliki Petunjuk nama majikan serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

Pada 2005, Parinah mengirim surat beserta bukti transfer ke rekening Bank BRI milik adik Parinah senilai 500 poundsterling. Kebetulan ketiga anak parinah di asuh oelh orang tuanya di bantu adik Parinah lantaran sudah berpisah dengan suami.


Kirim Surat Kedua Kalinya Baru Pada 2018


Parinah baru melayangkan surat kembali 13 tahun kemudian. Parinah yang diketahui bekerja kepada dr Alaa M. Ali Abdallah berkirim surat pada 18 Januari 2018. Surat dengan tulisan tangan di sebuah kertas putih berlogo klub sepakbola Inggris itu diterima keluarga pada 28 Januari 2018.

Lagi-lagi Parinah meminta keluarganya untuk membawa pulang dirinya. Dalam surat berisi selembar uang 20 poundsterling itu, Parinah mengaku tidak betah.

Setelah membaca semua isi surat itu, Parsin dan Hamdan memberanikan diri pergi ke Kantor Imigrasi Cilacap. Kantor tersebut dituju lantaran sang ibu memperoleh paspor di situ. “dua hari berturut-turut sejak 29 Januari kami ke Cilacap mengurus pemulangan ibu. PJTKI penyalur ibu sudah tutup, dan teman ibu waktu berangkat ke Saudi saya ajak,” ujar Parsin.

Meski tidak lama bekerja di Saudi, teman Parinah itu membantu banyak. Berawal dari keterangannya, informasi majikan Parinah mulai dikantongi petugas. Setelah melapor ke Kantor Imigrasi Cilacap, Parsin dan Hamdan mulai menemukan titik terang. Keduanya mendapat arahan ke mana dan bagaimana membantu pemulangan ibunya.


Usaha itu akhirnya membuahkan hasil


Pada 5 maret 2018, datang surat dari Dirjen Protokol dan Konsuler Kemenlu Indonesia. Surat pemberitahuan itu menyatakan bahwa KBRI Inggris sudah menghubungi majikan Parinah. Namun, majikan Parinah tidak kooperatif dengan mengabaikan telepon dari KBRI.

Akhirnya, KBRI London meminta bantuan aparat hokum setempat, dalam hal ini kepolisian di Brighton, Sussex, Inggris, agar pengguna jasa Parinah diproses hukum. Dan pada 5 April, Parinah berhasil dikeluarkan dari rumah majikannya. Pada hari itu juga, majikan parinah ditangkap dengan tuduhan modern slavery atau perbudakan modern.

“pada 17 April, ada telepon masuk dari nomor luar negeri. Setelah saya angkat, ternyata itu dari ibu. Dia sudah diselamatkan. Sejak saat itu komunikasi selalu lancar, bahkan sampai kirim foto dan lainnya,” ujar Parsin.

Dalam komunikasi itu, keluarga di rumah mendapat sedikit gambaran tentang apa yang dialami Parinah. Selama ini Parinah tidak mendapatkan gaji dari majikannya. Hanya makan, dan tidak boleh pergi jika tidak dengan anggota keluarga majikan.

Parinah di pulangkan pada tanggal 10 April pukul 10.00 waktu London. Mengetahui ibunya hendak pulang, keluarga sudah siap menyambut di rumah. Menggelar syukuran kecil-kecilan menyambut kepulangan orang tuanya.

Parinah Disambut Keluarganya 

Parinah dibasuh oleh anak ketiganya (Nurhamdan). Ketika pulang ke rumah anak pertamanya di Desa Nusawungu, Cilacap 12 April 2018. 
Parinah memeluk anak pertamanya (Sunarti).


No comments