social-media-icon-social-media-icon-vector-social-media-vector-social-media-marketing-adalah-social-media-influencer-social-media-sensation-social-media-definition-soci

Media Sosial, Media atau Senjata! 

Waktu berlalu begitu cepat. Tujuh tahun lalu, media sosial, seperti Facebook dan Twitter, dipuja-puja sebagai alat untuk menumbuhkan demokrasi. Namun, Kini publik global mulai ragu-ragu. Apakah medsos justru bisa menjadi bumerang bagi peradaban?

Warga dunia tentunya tidak lupa dengan Arab Spring atau musim semi Arab. Gerakan prodemokrasi di Tunisia dan Mesir yang berujung pada pergantian rezim pemerintahan menjalar di belasan negara lain dikawasan itu. Aneka pendapat hingga gerakan dan tuntutan diusulkan, digabung, diakumulasi, dan disuarakan melalui medsos. Medsos menjadi sarana perubahan.

Namun, setahun terakhir kondisinya berubah. Fungsi medsos sebagai sarana konstruktif dipertanyakan. mulai dari dugaan digunakannya medsos sebagai alat manipulasi untuk mengganggu pemilu di Amerika Serikat--tempat kelahiran aneka medsos--hingga digunakan medsos untuk perang opini dan hujatan bagi pemerintah dan lawan-lawan politik mereka.

Contohnya... kita semua tahu. Siapa sangka, konten yang di upload oleh Buni Yani tentang pidato kontroversial Gubernur DKI saat itu "Ahok" dapat mengubah sejarah politik di Indonesia. Kejadiannya begitu cepat menjadi perbincangan nasional bahkan dunia. 

Jonru Ginting yang dikenal dengan pegiat medsos diproses oleh pengadilan karena tulisan2 yang dimuat dianggap--cenderung--ujaran kebencian, hoax, dan fitnah kepada penguasa. Atau Permadi Arya alias "Ustadz Abu Janda Alboliwoody" dikenal pegiat medsos dengan komentar2-nya yang menjatuhkan kelompok Islam intoleran. Sindikat Saracen, Muslim Cyber Army, yang terkena getahnya oleh penguasa akibat tulisan2 di medsos.

"Dua layanan itu disalahgunakan dan dimanipulasi oleh orang-orang bermasalah, termasuk kalangan intelejen," kata Andrew Weisburd, Peneliti Alliance for Securing Democracy, menyebut Facebook dan Twitter. 

Manajemen Facebook dan Twitter mengakui, produk mereka "dikadali" aneka entitas Rusia untuk menyebarkan informasi bohong demi kepentingan politik tertentu. Setelah pemilu AS lalu, maka kini diduga untuk melanggengkan kekuasaan Vladimir Putin di kursi Presiden Rusia dan kroninya dalam lingkaran kekuasaan Rusia.

"Apa yang kita lihat di Kremlin dalam beberapa tahun terakhir adalah secara langsung bagi warga Rusia supaya kekuasaan Putin dan kelompoknya berlanjut," kata Weisburd.

Dalam tulisannya bagi New Policy Institute, Peneliti tim Chambers menyatakan, maraknya bot atau akun otomatis untuk membuat topik yang dipilih menjadi viral sungguh berbahaya bagi pemilihan umum dan juga bagi demokrasi itu sendiri.

"Mereka memalsukan tanda tangan petisi, hasil jajak pendapat, hingga rekomendasi," kata Chambers. Dia menegaskan, bot-bot itu menciptakan impresi bagi kalangan masyarakat pemilih, dukungan bagi para calon tertentu, hingga kebijakan yang dikehendaki. Hal itu dinilai berbahaya bagi politik dan kehidupan sosial.

Juni 2017, para peneliti Oxford University menyatakan medsos seperti Facebook dan Twitter yang seharusnya menjadi alat kebebasan berekspresi justru digunakan sebaliknya. Dua medsos itu menjadi alat penguasa mengontrol kehidupan sosial. 

Hal itu dilakukan di sejumlah negara. Caranya, penguasa mempekerjakan banyak orang bayaran untuk menyebarkan isi, opini, dan pesan sesuai yang dikehendaki penguasa. Sebaran hal-hal itu tidak semata di dalam negeri, tetapi juga publik di luar negeri atau global.

Menyasar lawan politik

Menyasar lawan2 politik penguasa menjadi sasaran serangan menggunakan medsos. Di Turki, misalnya, lawan2 politik penguasa menjadi sasaran. Akun2 medsos lawan politik itu dikeroyok akun2 medsos dari pihak penguasa.

Merujuk pengelaman di AS, opini publik "dirusak" melalui Facebook dan Twitter. Sebuah iklan dari Rusia yang beraviliasi dengan Kremlin senilai 274.000 dollar AS dipasang melalui Twitter tahun 2016. 

Akibatnya suara pemilih mengambang terpolarisasi menjelang pemilihan presiden setelah adanya iklan yang di unggah melalui medsos. Proses itu pun dinilai mengubah hasil akhir pemilu. Medsos pun menjadi pedang bermata dua.

Media Sosial, Media atau Senjata!

social-media-icon-social-media-icon-vector-social-media-vector-social-media-marketing-adalah-social-media-influencer-social-media-sensation-social-media-definition-soci

Media Sosial, Media atau Senjata! 

Waktu berlalu begitu cepat. Tujuh tahun lalu, media sosial, seperti Facebook dan Twitter, dipuja-puja sebagai alat untuk menumbuhkan demokrasi. Namun, Kini publik global mulai ragu-ragu. Apakah medsos justru bisa menjadi bumerang bagi peradaban?

Warga dunia tentunya tidak lupa dengan Arab Spring atau musim semi Arab. Gerakan prodemokrasi di Tunisia dan Mesir yang berujung pada pergantian rezim pemerintahan menjalar di belasan negara lain dikawasan itu. Aneka pendapat hingga gerakan dan tuntutan diusulkan, digabung, diakumulasi, dan disuarakan melalui medsos. Medsos menjadi sarana perubahan.

Namun, setahun terakhir kondisinya berubah. Fungsi medsos sebagai sarana konstruktif dipertanyakan. mulai dari dugaan digunakannya medsos sebagai alat manipulasi untuk mengganggu pemilu di Amerika Serikat--tempat kelahiran aneka medsos--hingga digunakan medsos untuk perang opini dan hujatan bagi pemerintah dan lawan-lawan politik mereka.

Contohnya... kita semua tahu. Siapa sangka, konten yang di upload oleh Buni Yani tentang pidato kontroversial Gubernur DKI saat itu "Ahok" dapat mengubah sejarah politik di Indonesia. Kejadiannya begitu cepat menjadi perbincangan nasional bahkan dunia. 

Jonru Ginting yang dikenal dengan pegiat medsos diproses oleh pengadilan karena tulisan2 yang dimuat dianggap--cenderung--ujaran kebencian, hoax, dan fitnah kepada penguasa. Atau Permadi Arya alias "Ustadz Abu Janda Alboliwoody" dikenal pegiat medsos dengan komentar2-nya yang menjatuhkan kelompok Islam intoleran. Sindikat Saracen, Muslim Cyber Army, yang terkena getahnya oleh penguasa akibat tulisan2 di medsos.

"Dua layanan itu disalahgunakan dan dimanipulasi oleh orang-orang bermasalah, termasuk kalangan intelejen," kata Andrew Weisburd, Peneliti Alliance for Securing Democracy, menyebut Facebook dan Twitter. 

Manajemen Facebook dan Twitter mengakui, produk mereka "dikadali" aneka entitas Rusia untuk menyebarkan informasi bohong demi kepentingan politik tertentu. Setelah pemilu AS lalu, maka kini diduga untuk melanggengkan kekuasaan Vladimir Putin di kursi Presiden Rusia dan kroninya dalam lingkaran kekuasaan Rusia.

"Apa yang kita lihat di Kremlin dalam beberapa tahun terakhir adalah secara langsung bagi warga Rusia supaya kekuasaan Putin dan kelompoknya berlanjut," kata Weisburd.

Dalam tulisannya bagi New Policy Institute, Peneliti tim Chambers menyatakan, maraknya bot atau akun otomatis untuk membuat topik yang dipilih menjadi viral sungguh berbahaya bagi pemilihan umum dan juga bagi demokrasi itu sendiri.

"Mereka memalsukan tanda tangan petisi, hasil jajak pendapat, hingga rekomendasi," kata Chambers. Dia menegaskan, bot-bot itu menciptakan impresi bagi kalangan masyarakat pemilih, dukungan bagi para calon tertentu, hingga kebijakan yang dikehendaki. Hal itu dinilai berbahaya bagi politik dan kehidupan sosial.

Juni 2017, para peneliti Oxford University menyatakan medsos seperti Facebook dan Twitter yang seharusnya menjadi alat kebebasan berekspresi justru digunakan sebaliknya. Dua medsos itu menjadi alat penguasa mengontrol kehidupan sosial. 

Hal itu dilakukan di sejumlah negara. Caranya, penguasa mempekerjakan banyak orang bayaran untuk menyebarkan isi, opini, dan pesan sesuai yang dikehendaki penguasa. Sebaran hal-hal itu tidak semata di dalam negeri, tetapi juga publik di luar negeri atau global.

Menyasar lawan politik

Menyasar lawan2 politik penguasa menjadi sasaran serangan menggunakan medsos. Di Turki, misalnya, lawan2 politik penguasa menjadi sasaran. Akun2 medsos lawan politik itu dikeroyok akun2 medsos dari pihak penguasa.

Merujuk pengelaman di AS, opini publik "dirusak" melalui Facebook dan Twitter. Sebuah iklan dari Rusia yang beraviliasi dengan Kremlin senilai 274.000 dollar AS dipasang melalui Twitter tahun 2016. 

Akibatnya suara pemilih mengambang terpolarisasi menjelang pemilihan presiden setelah adanya iklan yang di unggah melalui medsos. Proses itu pun dinilai mengubah hasil akhir pemilu. Medsos pun menjadi pedang bermata dua.

No comments