Trump mengisyaratkan untuk menetapkan tarif impor hingga 25% atas barang-barang dari China disambut kekhawatiran dari berbagai pihak melalui Twitter-nya (3 April 2018). Rencana tersebut dikhawatirkan akan memicu perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Kekhawatiran itu beralasan, sebab, China juga mengancam akan menaikan bea impor kedelai, mobil, pesawat terbang, daging, dan bahan kimia dari AS sebagai respons atas pernyataan Trump. Besaran kenaikannya juga 25% dan pernyataan itu sehari setelah cuitan Trump.

Namun untuk pelaksanaan masih menunggu AS. Lantas, apakah keputusan tersebut tepat jika di tinjau dari ke dua sisi yaitu bagi AS dan China?


Bagi Amerika Serikat 


Trump mengatakan sangat besar defisit perdagangan bagi AS dengan China, paling besar di antara mitra dagang lain. Pada 2017, total perdagangan China ke AS adalah USD 506 miliar. Sedangkan total perdagangan AS ke China tidak sampai seperempatnya.

Sekilas angka-angka itu tampak merugikan AS. Tapi belum tentu juga. Faktanya banyak perusahaan dari AS yang memindahkan produksinya ke China. Dari hanya 10% pada awal 90-an menjadi 60% pada 2010 (Lardy 2014). Bahkan, perusahaan-perusahaan itu mengekspor produknya ke AS juga.

Sekitar 65% dari total ekspor China ke AS diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asing. Banyak diantara mereka adalah perusahaan asal AS sendiri. Terbanyak dilakukan perusahaan2 ritel murah, misalnya Hallmark dan Wal-Mart.
Dengan diberlakukan hambatan tarif 25% maka, barang2 dari China akan mahal dan merugikan perusahaan2 AS yang memproduksi di China maupun yang mengonsumsi di AS melalui impor.

Sikap proteksi AS dapat merugikan perusahaan2 AS yang beroperasi di China. Sebagai ilustrasi, pada 2016, perusahaan2 tersebut memasarkan produknya ke China senilai USD 166,6 milirar dan melayani ekspor ke negara2 lain senilai USD 37,5 miliar (Athukorala 2017).

Jika pemerintah China membatasi gerak perusahaan2 ini, AS bakal merugi karena justru keunggulan kompetitif perusahaan2 tersebut ada karena memindahkan basis produksinya ke China.


Bagaimana dari sisi China?


China juga akan dirugikan. Ekonomi China banyak bergantung pada ekspor. Data Bank Dunia menunjukan bahwa rasio ekspor terhadap PDB China adalah 33%. Itu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan rata2 rasio ekspor negara lain. Misal, AS, India, Brazil yang hanya 10%. AS adalah salah satu tujuan utama ekspor China. Hambatan tarif akan mengganggu perusahaan2 milik China yang melakukan ekspor ke AS.

Meski begitu, posisi XI Jinping tidak akan se-getir Trump. Xi Jinping baru saja diangkat tanpa batasan waktu berkuasa. Dia juga menguasai pasar dan media dalam negeri.

Gelombang protes di dalam negeri tidak akan banyak muncul dan bisa dikendalikan. Begitu juga soal harga, Jinping bisa memberikan subsidi dan tetap memberikan dukungan dana kepada perusahaan2 China yang dirugikan dari perang dagang tersebut.

Ancaman bahwa China akan memberikan hambatan tarif kepada produk AS, misalnya kedelai, daging babi, mobil, pesawat terbang, dan bahan2 kimia, justru akan membahayakan perolehan suara Partai Republik karena berpotensi menghilangkan suara pemilih tradisional dari kalangan petani. Dan sudah banyak muncul protes di dalam negeri dari kalangan petani kedelai dan peternak babi.

Tekanan juga muncul dari industri pesawat terbang Boeing dan pasar saham Wall Street. Upaya untuk menarik simpati menjelang Pemilu 2018 malah bisa menjadi boomerang bagi Trump jika diteruskan.

Selain mitra dagang, saat ini China adalah kreditor terbesar AS dan pemegang utang AS terbesar kedua. Jika perang dagang terjadi, bisa jadi China akan melepas kredit dan surat utang AS. Lalu, mereka mengalihkan dananya ke negara2 Eropa, Asia, dan Afrika.

Apalagi, saat ini China getol-getolnya membangun berbagai macam infrastuktur untuk menghidupkan kembali jalur sutera modern yang menghubungkan Asia dan Eropa. Pelepasan kredit dan surat utang akan mengganggu kondisi ekonomi AS.

Perang Dagang AS dan China

Trump mengisyaratkan untuk menetapkan tarif impor hingga 25% atas barang-barang dari China disambut kekhawatiran dari berbagai pihak melalui Twitter-nya (3 April 2018). Rencana tersebut dikhawatirkan akan memicu perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Kekhawatiran itu beralasan, sebab, China juga mengancam akan menaikan bea impor kedelai, mobil, pesawat terbang, daging, dan bahan kimia dari AS sebagai respons atas pernyataan Trump. Besaran kenaikannya juga 25% dan pernyataan itu sehari setelah cuitan Trump.

Namun untuk pelaksanaan masih menunggu AS. Lantas, apakah keputusan tersebut tepat jika di tinjau dari ke dua sisi yaitu bagi AS dan China?


Bagi Amerika Serikat 


Trump mengatakan sangat besar defisit perdagangan bagi AS dengan China, paling besar di antara mitra dagang lain. Pada 2017, total perdagangan China ke AS adalah USD 506 miliar. Sedangkan total perdagangan AS ke China tidak sampai seperempatnya.

Sekilas angka-angka itu tampak merugikan AS. Tapi belum tentu juga. Faktanya banyak perusahaan dari AS yang memindahkan produksinya ke China. Dari hanya 10% pada awal 90-an menjadi 60% pada 2010 (Lardy 2014). Bahkan, perusahaan-perusahaan itu mengekspor produknya ke AS juga.

Sekitar 65% dari total ekspor China ke AS diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asing. Banyak diantara mereka adalah perusahaan asal AS sendiri. Terbanyak dilakukan perusahaan2 ritel murah, misalnya Hallmark dan Wal-Mart.
Dengan diberlakukan hambatan tarif 25% maka, barang2 dari China akan mahal dan merugikan perusahaan2 AS yang memproduksi di China maupun yang mengonsumsi di AS melalui impor.

Sikap proteksi AS dapat merugikan perusahaan2 AS yang beroperasi di China. Sebagai ilustrasi, pada 2016, perusahaan2 tersebut memasarkan produknya ke China senilai USD 166,6 milirar dan melayani ekspor ke negara2 lain senilai USD 37,5 miliar (Athukorala 2017).

Jika pemerintah China membatasi gerak perusahaan2 ini, AS bakal merugi karena justru keunggulan kompetitif perusahaan2 tersebut ada karena memindahkan basis produksinya ke China.


Bagaimana dari sisi China?


China juga akan dirugikan. Ekonomi China banyak bergantung pada ekspor. Data Bank Dunia menunjukan bahwa rasio ekspor terhadap PDB China adalah 33%. Itu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan rata2 rasio ekspor negara lain. Misal, AS, India, Brazil yang hanya 10%. AS adalah salah satu tujuan utama ekspor China. Hambatan tarif akan mengganggu perusahaan2 milik China yang melakukan ekspor ke AS.

Meski begitu, posisi XI Jinping tidak akan se-getir Trump. Xi Jinping baru saja diangkat tanpa batasan waktu berkuasa. Dia juga menguasai pasar dan media dalam negeri.

Gelombang protes di dalam negeri tidak akan banyak muncul dan bisa dikendalikan. Begitu juga soal harga, Jinping bisa memberikan subsidi dan tetap memberikan dukungan dana kepada perusahaan2 China yang dirugikan dari perang dagang tersebut.

Ancaman bahwa China akan memberikan hambatan tarif kepada produk AS, misalnya kedelai, daging babi, mobil, pesawat terbang, dan bahan2 kimia, justru akan membahayakan perolehan suara Partai Republik karena berpotensi menghilangkan suara pemilih tradisional dari kalangan petani. Dan sudah banyak muncul protes di dalam negeri dari kalangan petani kedelai dan peternak babi.

Tekanan juga muncul dari industri pesawat terbang Boeing dan pasar saham Wall Street. Upaya untuk menarik simpati menjelang Pemilu 2018 malah bisa menjadi boomerang bagi Trump jika diteruskan.

Selain mitra dagang, saat ini China adalah kreditor terbesar AS dan pemegang utang AS terbesar kedua. Jika perang dagang terjadi, bisa jadi China akan melepas kredit dan surat utang AS. Lalu, mereka mengalihkan dananya ke negara2 Eropa, Asia, dan Afrika.

Apalagi, saat ini China getol-getolnya membangun berbagai macam infrastuktur untuk menghidupkan kembali jalur sutera modern yang menghubungkan Asia dan Eropa. Pelepasan kredit dan surat utang akan mengganggu kondisi ekonomi AS.

No comments