sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia-setelah-masa-kemerdekaansejarah-pendidikan-islam-di-indonesia-pada-masa-orde-baru

Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia

Pendidikan Islam Masa Kebangkitan


Pada permulaan abad ke-20 terjadi beberapa perubahan di dunia Islam yang pada prinsipnya adalah suatu gerakan untuk merespon penjajahan yang dilakukan oleh dunia Barat.Gerakan tersebut bermula dari gerakan pembaharuan yang muncul di Timur Tengah. Pemerintah Belanda susah berusaha membendung imbas gerakan tersebut baik yang berkaitan dengan perjalanan ibadah Haji, maupun buku-buku terbitan Timur Tengah. 

Hanya saja para tokoh muslim di Indonesia masih mendapatkan brosur-brosur atau majalah yang berisi pemikiran pembaharuan Islam di Timur Tengah. Berikut akan dikemukakan beberapa jumlah organisasi yang berkembang pada masa kebangkitan yang diantara sebagian dari usahanya itu ialah mengupayakan perbaikan dan pengembangan Pendidikan Islam dengan tujuan membebaskan umat Islam dari kebodohan dan keterbelakangan. 

  1. Al Jami’ah al-Khairiyah

Organisasi ini didirikan di Jakarta oeh tokoh-tokoh Islam keturunan Arab pada tahun 1901 Medan baru diakui oleh Belanda pada tanggal 17 Juli 1905 M. Al-Jami’ah Al-Khairiyah adalah organisasi Islam pertama di Indonesia yang aktivitasorganisasi diselenggarakan dengn system Barat. Diantara program kegiatan organsasi al-Jam’iyah ialah mendirikan sekolah-sekolah dan mengirimkan para pelajar ke Turki untuk melanjutkan studi.


Kurikulum sekolah-sekolah al-Khairiyah terdiri dari mata pelajaran umum dan agama, bahasa Arab dan Melayu sebagai bahasa pengantar, sementara bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Dalam hal pemenuhan tenaga pengajar, organisasi ini merekrut beberapa tenaga dari Indonesia dengan kriteria tertentu, misalnya Muhammad Manshur yang pernah mengajar di lembaga tersebut tahun 1907 M, selain itu para pengajar banyak didatangkan dari Luar Negeri, seperti Al-Hasyimi dri Tunis, Ahmad Syurkati dari Sudan dan Syeikh Abu Hamid dari Makkah.


Sesudah tahun 1910 M, dalam organisasi ini timbul perselisihan yang bermula dari kasus yang ditimbulkan dari sikap feodalistik yang meminta hak istimewa dalam hidup bermasyarakat. Permintaan tersebut muncul dari mereka yang mengaku sebagai keturunan nabi, juga masalah larangan perkawinan antara anak sayid dengan non sayid. Pro kontra tentang berbagai persoalan tersebut berakhir dengan perpecahan dalam tubuh organisasi. Mereka yang tidak sefaham dengan permintaan menghormati sayyid dikelompokan sebagai kelompok reformis dan selanjutnya mendirikan organisasi sendiri yang bernama Al-Irsyad.

  1. Muhammadiyah


muhammadiyah
Salah satu organisasi Islam yang mempunyai peran penting dalam pendidikan Islam di Indonesia adalah Muhammadiyah. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 M, atau bertepatan dengan tanggal 6 dhulhijjah 1330 H. oleh kyai Haji Ahmad Dahlan. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah mempunyai beberapa ciri :

  1. Sebagai gerakan Islam
  2. Sebagai gerakan dakwah
  3. Sebagai gerakan Tajdid

kh-ahmad-dahlan
Sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah memperjuangkan organisasinya berdasarkan Islam dan berusaha mewujudkan syariat Islam dalam kehidupan masyarakat. Sebagai gerakan dakwah, muhamadiyah dlam memperjuangkan cita-citanya ditempuh melalui dakwah secara bijaksana. 

Sedangkan  sebgai gerakan tajdid muhamadiyah berusaha memperbarui dan meningkatkan  pemahaman islam secara rasional berdasarkan tuntutan msyarakat moderen. 

Organisasi ini di dirikan dengan tujuan: menyebarkan ajaran nabi Muhammad Saw kepadapenduduk bumi putra dan memajukan agama islam kepada para anggotanya yang kegiatan pokoknya adalah mengadakan tabligh yang dilaksanakan secara teratur setiap seminggu sekali.


Dalam bidang pendidikan,mohamadiyah melanjutkan model sekolah yang di gabungkan dengan sistm Gubermemen. Sehubungan dengan itu selain mendirikan sekolah dasar di kampungnya sendiri, K.H.Ahmad Dahlan juga mendirikan sekolah-sekolah yang sama di beberapa daerah lain. 

Sampai dengan tahun 1923 M, di Yogyakarta telah berdiri empat sekolah Dasar Muhammadiyah, sudah dipersiapkan mendirikan HIS dan sekolah Pendidikan Guru.Disamping itu Muhammadiyah juga sibuk mendirikan HIS di Jakarta.

Kemudian tahun 1925 M Muhammadiyah sudah mempunyai 29 cbang dengan 4000 anggota. Pada sisi lain bahwa berdirinya cabang baru adalah identik dengan berdirina sekolah baru.  Atas  dasar itulah maka tahun itu di bawah muhamadiyah telah tercatat, 8 HIS, 32 Sekolah  dasar ,14 madarasah,dan 1 sechekel school, dengan 119 guru dan  4.000 murid.

Menurut  catatan Majlis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Pusat, jumlah sekolah-sekolah yang di kelola oleh ekolah muhamadiyah ,sesuai dengan data mapendapu tahun 1982 lebih kurang berjumlah 21.101 sekolah yang terdiri dari: taman kanak-kanak sebnyak 3000 buah, perguruan tingkat dasar 6396. Tingkat Menengah sebanyak 1664 sekolah dan 41 perguruan tinggi.
  1. Al-Ishlah wa al-Irsyad

al-irsyad-syurkati
Organisasi ini didirikan pada tahun 1913 di Jakarta.Tokoh pendirinya ialah Syeikh Ahmad Syurkati. Beliau adalah seorang ulama yang dilahirkan di Dunggala Sudan pada tahun 1872 M. ia berasal dari keluarga yang taat beragama. Atas dasar itu Shurkati telah banyak memahami ayat-ayat Al-Qur’an sejak kecil. Kendati demikian ia tidak pernah terpenuhi keinginannya belajar di Mesir. 

Hal tersebut disebabkan karena setelah ayahnya meninggal dunia.Pada tahun 1906 Syurkati menerima sertifikat tertinggi Guru Agama dari pemerintahan Istambul.

Al-Irsyad sebagaimana organisasi Islam yang merumuskan tujuan organisasinya untuk memajukan agama islam yang murni di kalangan bangsa Arab Indonesia. Dalam kegiatan organisasi tersebut memusatkan perhatiannya di bidang pendidikan terutama pada masyarakat Arab.

Al-Irsyad juga mempunyai cita-cita memobilisasi tingkat kecerdasan bangsa Indonesia di bidang pendidikan tidak hanya terbatas di kalangan keturunan Arab saja, tapi juga seluruh bangsa Indonesia. Organisasi ini juga bekerja sama dengan Muhammadiyah dan Persatuan Islam. Mereka kemudian mendirikan sekolah-sekolah mulai dari dasar, menengah, dan keguruan.

Sebagaimana organisasi keagamaan yang lain, Al-Irsyad juga memanfaatkan media tabligh dan pertemuan-pertemuan sebagai sarana untuk menyebarkan faham keagamaannya. Ia juga meerbitkan buku-buku dan panflet-panflet, majalah al-Dzakirah yang dipimpin sendiri oleh Shurkati. Majalah ni berisi kupasan pertanyaan tentang maslah keagamaan.
  1. Persyarikatan Ulama

kh-Abdul-Halim-Majalengka
Persyarikatan Ulama adalah  perwujudan sebuah gerakan pembaharuan di daerah Majalengka Jawa Barat, yang dimulai pendirinya tahun 1911 atas inisiatif Kyai Haji Abdul Halim. Kyai Haji Abdul Halim memperoleh pendidikan agama dari pada masa kanak-kanak dari berbagai pesantren di daerah Majalengka. 

Setalah berumur 22 tahun pergi ke Makkah untuk menunaikan ibdah haji dan melanjutkan pendidikannya.Ia bermukim disana selama 3 tahun dan mengenal tulisan-tulisan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. 

Enam tahun setelah kembali dari Makkah, Abdul Halim mendirikan organisasi yang diberi nama :  Hayatul Qulub. Organisasi ini bergerak dibidang ekonomi dan pendidikan. Anggotanya semula berjumah 60 orng yang umunya tertidiri dari pedagang dan petani.

Dalam perkembangan berikutnya karena tuntutan kebutuhan masyarakat dirasa perlu untuk mendirikan lembaga pendidikan modern, maka didirikanlah sekolah yang diberi nama jam’iyah I’anah Al-Muta’alimin.K.H.Abdul Halim hubungan dengan organisasi al-jami’ah al-khairiyah dan al-Irsyad. 

Beliau mewajibkan kepada para murid yang telah mencapai tingkat tertentu untuk memahami bahas arab yang dijadikan sebagai bahasa pengantar pada kelas-kelas lanjutan. 

Organisasi Hayatul Qulub ini selanjutnya diganti dengan nama “Persyarikatan Ulama” dan diakui secara hokum oleh pemerintah Belanda pada tahun 1917 berkat bantuan HOS Cokro Aminoto. 

Organisasi ni juga dikenal dengan nama perikatan Ulama yang pada tahun 1952 difungsikan dengan organisasi islam lainnya yaitu : Al-Ittihadiyah al-Islamiyah(AAI) menjadi “Persatuan Umat Islam”.

Dalam konggres tahun 1932, kyai haji Abdul Halim mengusulkan kepada anggotanya agar mendirikan lembaga pendidikan yang tidak saja mengajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga kelengkapan-kelengkapan pekerjaan tangan, perdagangan dan pertanian sesuai dengan bakat, minat dan keinginan anak. Kemudian beliau mendirikan Santini Asrama yang terdiri dari tiga tingkatan yaitu: tingkat lanjutan, Dasar dan permulaan. 

Selain belajar seperti biasa, para santri juga dilatih dalam bidang pertanian, pekerjaan tangan (kayu dan besi), menenun dan mengolah berbagai bahan.Sebagaiman organisasi yang lain, Persyarikatan Ulama juga menyelengggarakan tabligh dan menerbitan brosur-brosur sebagai media memperluas program organisasinya. 

Sayangnya program organisasi ini tidak berkembang sebagai mana yang diharapkan, kemungkinan sebabnya adalah karena tenaga-tenaga yang dihasilkan untuk suatu lapangan kerja yang prestise dan menjanikan penghasilan besar, tetapi hanyalah para pekerja yang mencerminkan kelas bawah.
  1. Sumatera Tawalib

buya-hamka-Prof.-DR.-H.-Abdul-Malik-Karim-Amrullah
Organisasi ini didirikan di Sumatera Barat tahun 1918 oleh Syeikh Abdul Karim Amrullah yang dikenal dengan nama Haji Rasul padang panjang. Sumatera Tawalib adalah organisasi yang merupakan perwujudan dari kebangkitan surau-surau dari sistem pendidikan agama tradisioanal untuk dikembangkan menjdi lembaga pendidikan madrasah yang berkelas dan diberi mata pelajaran umum.

Dalam perkembangan berikutya juga banyak surau-surau yang mengikuti jeja Sumatera Tawalib dan bergabung dengan organisasi ini, seperti surau Parabek, Surau Maninjau dan lain sebagainya.

Ciri khas dari lembaga  pendidikan Sumatera Tawalib adalah menggantikan kitab-kitab karya ulama abad pertengahan dengan kitab-kitab baru karangan ulama Mesir modern, semisal tafsir al-manar, nahwul wadhi dan lain sebagainya. Madrasah Tawalib semuanya mempunyai jenjang kelas satu samapai tujuh yang seluruhnya dibrikan 12 mata pelajaran agama dan bahasa Arab.

Tamatan Tawalib biasanya diangkat sebagai guru di kelas yang terendah di Madrasah Tawalib dan sekolah-sekolah yang sederajat.Sedabg mereka yang mengajar di kelas tujuh adalah para kyai dan guru besar Tawalib.

Calon-calon guru lulusan Tawalib banyak yang mendirikan Madrasah sendiri, diantaranya juga ada yang melanjutkan pelajaran ke Makkah, India, Mesir dan lain-lainnya.Selain itu ada juga yang langsung terjun sebgai Mubaligh, pengarang buku dan penulis di Majalah.
  1. Persatuan Islam ( PERSIS )

persatuan-islam-persis
Persatuan Islam (persis) didirikan di Bandung pada permulaan tahun 1923 oleh K.H. zam-zam selama tiga tahun setengah, kyai haji Zam-zam menghabiskan masa mudanya dengan belajar di darul Ulum Makkah. Sepulang dari Makkah ia mengajar di Darul Muta’alimin Bandung. Selain Zam-zam tokoh persis lainnya ialah Muhammad Yunus yang memperoleh pendidikan secara tradisioanal dan menguasai bahasa Arab, sekalipun ia tidak pernah mengajar di persis. Organisasi ini didirikan dari pertemuan yang bersifat kenduri dan dilanjutkan dengan berbincang-bincang msalah agama karena masalah pertikaian antara Al-Khairiyah dan Al-Irsyad dan masalah komunisme.
ahmad-hasan-persis

Sebagaimana halnya organisasi islam lainnya, persis memberikan perhatian besar pada kegiatan pendidikannya, tabligh dan publikasi. Dalam bidang pendidikan persis mendirikan madrasah yang mulanya diperuntukan khusus bagi putra-putri anggota persis.

Keberadaan persis semakin kokoh setelah mendapat dukungan dari para tokoh penting yaitu Ahmad Hasan dan Muhammad Natsir. Suatu kegiatan lain yang penting dalam ranga kegiatan pendidkan di persis adalah lembaga pendidikan islam, sebuah obyek yang dikembangkan oleh Natsir, terdiri dari beberapa sekolah : taman kanak-kanak, HIS(keduanya tahun 1930) dan sekolah Guru (1932).

Disamping itu persis juga mendirikan pesantren di Bandung pada bulan Maret tahun 1936 untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan untuk menyebarakan agama.Usaha ini terutama atas inisiatif Ahmad Hasan dan juga masih bersifat percobaan-percobaan eksperimen. Pesantren persis dipindahkan ke Bangil Jawa Timur setelah tokoh-tokohnya seperti Ahmad dan Muhammad Ali al-Hamidy pindah ke sana. Pada bulan Februari tahun 1941 didirikan pesanteren putri.

Dilihat dari jumlah pengikutnya, organisasi persis tergolong kecil, tetapi jika dilihat dari pengaruh ajaran-ajarannya ternyta persis memberikan andil yang besar dalam memberikan pemahaman agama kepada masyarakat.Selain itu buku-buku yang ditulis Ahmad Hasan banyak dibaca dan dipelajari oleh masyarakat yang berpandangan mpdern dan membebaskan dri dari keharus taklid terhadap pendapat ulama tertentu.
  1. Nahdhatul Ulama (NU)

nahdlatul-ulama-nu
Nahdhatul Ulama didirikan pada tanggal 16 rajab 1344 H atau bertepatan dengan tangal 31 Januari tahun 1926 M di Surabaya. Para Ulama pendiri organisasi ini antara lain: K.H. hasyim Asy’ari, K.H Wahab Hasbullah, K.H. Bisri, K.H ridwan, K.H Nawawi, K.H.R.Asnawi, K.H.R Hambali, Kyai Nahrawi, K.H DoroMuntaha, dan K.H. Alwi Abdul Aziz. 

Organisasi ini melancarkan sebagai reaksi terhadap gerakan penbaharuan untuk membebaskan diri dari madzab, NU bermaksud memegang salah satu madzab dari imam empat yaitu: Hanafi, Syafi’I, Maliki, dan Hambali. 

Sedangkan dalam bidang aqidah NU memegang pada aliran Ahlu Sunnah Wa al-Jama’ah sebagai ajaran islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya.
kh-hasyim-asyari-pendiri-nu-tebu-ireng-mbah-hasyim-gus-dur-kyai-hasyim

Usaha-usaha NU dalam mencapai tujuannya yaitu:
  1. Mengadakan perhubungan di antara Ulama-ulama yang bermadzab tersebut di atas.
  2. Memeriksa kitab-kitab sebelum dipakai untuk mengajar supaya mengetahui apakah kitab tersebut, merupakan kitab Ahlu Sunnah Wa al-Jama’ah ataukah kitab ahlu bid’ah.
  3. Menyiarkan agama islam berasaskan pada imam empat madzab.
  4. Berikhtiar dengan memperbanyak madrasah-madrasah berdasarkan agama Islam.
  5. Memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan Masjid, surau-suarau, pondok-pondok, begitu juga dengan hal ihwalnya anak yatim dan orang fakir miskin.
  6. Mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan dan perusahaan yang tidak dilarang oleh syara’ agama Islam.
Berdasarkan rumusan maksud dan tujuan NU sebagaimana yang terdapat pada anggaran Dasar 1926, maka NU adalah perkumpulan yang mementingkan pendidikan dan pengajaran Islam. 

Sedangkan pada tahun 1938 komisi perguruan NU telah dapat mengeluarkan regliment tetang susunan Madrasah-Madrasah NU yang harus dijalankan mulai tanggal 2 Muharram 1357 dengan susunan sebagai berikut:
  1. Madrasah Awwaliyah, lama belajar 2 tahun.
  2. Madrasah Ibtidaiyah lama belajar 3 tahun.
  3. Madrasah Tsanawiyah, lama belajar 3 tahun.
  4. Madrasah Mu’alimin Wustha, lama belajar 2 tahun.
  5. Madrasah Mu’alimin Ulya, lama belajar 3 tahun.
Sedangkan pendidikana NU di atas dikelola oleh lembaga Pendidikan Ma’arif, juga disesuaikan dengan system pendidikan yang berlaku di masyarakat. 

Sementara lembaga yang tidak secara langsung di bawah organisasi NU lembaganya diberi nama tokoh-tokoh yang mendirikan seperti Hasyim Asy’ari, Wachid Hasyim dan sebagainya. Lembaga pendidikan yang dimiliki NU dalah pondok pesantren.
  1. Persatuan Tarbiyah Islam (PERTI)

persatuaan-tarbiyah-islam-perti
Organisasi ini didirikan di Sumatera Barat oleh Ulama-ulama pesantren yang menganut madzab Syafi’i pada tahun 1928. Diantara tokoh-tokohnya ialah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dari Bukit Tinggi, Syeikh Abbas Ladang Lawan dari Bukit Tinggi, dan Syeikh Jamil Jaho dari Padang Panjang. 

Sama halnya dengan Nu di Jawa, PERTI adalah sebagai perimbangan terhadap gerakan pembaharuan non madzab yang dikumandangkan oleh Sumatera Thawalib. Di antara tujuan-tujuan Tarbiyah Islamiyah yang terpenting ialah:
  1. Mengembangkan pendidikan dan pengajaran Islam di tengah-tengah masyarakat dengan memperhebat penyiaran agama, baik dengan lisan (tabligh) atau dengan tulisan (menerbitkan buku-buku, majalah-majalah) dan lain sebagainya.
  2. Memajukan amal-amal social dan ibadah dengan membangunkan langgar-langgar, mushalla-mushalla, dan masjid-masjid.
  3. Mendirikan Madrasah-madrasah mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

syekh-sulaiman-ar-rasuli-tengah
Pada tahun 1930 PERTI berkembang menjadi organisasi social yang lebih luas dan tidak terbatas pada masalah pendidikan dan pondok pesantren saja, tetapi dapat menghimpun faham Ahl - al - Sunnah yang bermadzab Syafi’I di daerah Sumatera Barat, serta kurang lebih mendirikan 300 madrasah di daerah tersebut. 

Kemudian pada tanggal 3 November 1945 setelah Indonesia merdeka dan setelah keluar maklumat pemerintah RI, maka PERTI dengan suara bulat memutuskan untuk berubah menjadi partai politik Islam dan memindahkan pusat kepemimpinan ke Jakarta.
  1. Jami’ah Al-Washliyah
Organisasi ini didirikan di Medan pada tahun 1930 oleh tokoh-tokoh pelajar islam dari Maktab Islamiyah pimpinan Syeikh Muhammad Yunus dan Syeikh Ja’far Hasan, juga para pelajar dari Madrasah Al-Hasaniyah pimpinan Hasan Makmun. Asas organisasi ini adalah Ahlu Sunnah madzab Syafi’i.tokoh-tokoh Jami’ah ini antara lain: H. Abdurrahman Syihab, Arsyad Lubis, Udin Syamsudin, H. Adnan Lubis dan Ismail Bunda. 

Organisasi ini mempunyai madrasah-madrasah yang  tersebar luas di Sumatera Timur dan Utara. Gerakan dakwahnya terutama ditujukan untuk mengimbangi gerakan Missi dan Zending Kristen di tanah Batak. Bagian dakwahnya diberi nama: “Yayasan Zending Islam yang dipimpin oleh H. Sabrani.

Sampai dengan tahun 1958 Al-Washliyah telah mampu mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Medan dan Jakarta.Untuk yang di Medan selanjutnya menjadi Universitas Sumatera Utara dengan beberapa cabang seperti Sibolga, Kebon Jahe, Rantau Prapat, Lansa (Aceh) dan lain-lain.Bahkan da yang di Kalimantan.
  1. Nahdhatul Wathan (NW)

logo-nw-nahdlatul-wathan
Nahdhatul Wathan didirikan pada tahun 1936 oleh tuan guru H.M. Zainuddin di Pancor Lombok Timur. Organisasi ini juga menganut madzab Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan menganut madzab Syafi’i.adapun tujuan organisasi ini adalah: mempertinggi kalimah Allah Izzul Islam Wal Muslimin dan kebahagiaan hidup dunia akhirat. 

Sebagaimana halnya organisasi yang lain, Nahdhatul Wathan juga bergerak di bidang social keagamaan, dan untuk mencapai tujuan tersebut NW mengadakan usaha-usaha sebagai berikut:
  1. Mempertinggi dan menyempurnakan mutu pendidikan, pengajaran dan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam.
  2. Mendirikan madrasah-madrasah, sekolah-sekolah, asrama pelajar, rumah yatim piatu, rumah pribadatan serta penyediaan tenaga pengajar.
  3. Menyiarkan agama Islam dengan jalan tabligh, penerbitan dan lain-lain.
  4. Mengadakan kursus-kursus, perpustakaan dan taman bacaan.
  5. Memelihara Ukhuwah al-Islamiyah dan perdamaian masyarakat.
  6. Menghidup suburkan masyarakat dan saling tolong menolong, mempertinggi amal social serta amal jariah.
  7. Mengadakan kerja sama dengan golongan lainnya dalam mencapai tujuan organisasi dengan ketentuan tidak merugikan NW.
  8. Serta usaha lain yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, semuanya dengan mengindahkan pemerintah RI mengenai hal-hal tersebut di atas.
Adapun jenis-jenis lembaga pendidikan yang dimiliki Nahdhatul Wathan ialah:
  1. Nahdhatul Barat Diniyah Islamiyah
  2. Madrasah Ibtidaiyah
  3. Sekolah menengah Atas
  4. Mualimin dan Mualimat NW
  5. Madrasah Menengah Atas
  6. Ma’had Dar Al-Qur’an Wa al-Hadits
  7. Sekolah tinggi Agama Islam.
Sebagai salah satu organisasi kegamaan yang mempunyai andil dalam pembinaan umat, lemabaga-lembaga Nahdhatul Wathan banyak tersebar luas hampir di seluruh kepulauan Lombok.


Pendidikan Islam Masa Awal Kemerdekaan


Setelah Indonesia merdeka, penyelenggaraan pendidikan Islam mulai mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Keadaan tersebut tidak terlepas dari peranan para tokoh  Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan. 

Perhatian tersebut sebagaimana dibuktikan oleh keputusan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) tangal 27 Desember 1945 yang menyebutkan bahwa: Madrasah dan Pesantren pada hakekatnya adalah salah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat berakar dalam masyarakat Indonesia umumnya hendaklah pula mendapat perhatian dan bantuan nyata dari pemerintah.

Atas dasar itulah, maka dalam laporan BPKNIP tanggal 2 Juni 1946 antara lain dikemukakan bahwa; Pengajaran yang bersifat Pondok Pesantren dan Madrasah dipandang perlu untuk dipertinggi, dimodernisasi dan diberi bantuan. Sebagai tindak lanjut dari laporan tersebut, maka selanjutnya segera keluar beberapa peraturan Menteri Agama yang mengatur pelaksanaan pemberi bantuan kepada Perguruan-perguruan Agama. 

Baca juga: Definisi Kurikulum dan Sejarahnya

Adapun system pendidikan Islam yang berkembang pada masa awal kemerdekaan pada prinsipnya adalah sama dengan apa yang ada pada masa sebelumnya yang secara umum berbentuk:

Langgar, Mushalla, dan Masjid


Istilah langgar sering dipandang dengan surau, atau juga mushalla adalah lembaga Pendidikan Islam tingkat dasar atau juga disebut pengajian Al-Qur’an untuk anak-anak wanita dan laki-laki.Pendidikan agama di langgar atau di mushalla ini merupakan system elementer.

Anak diajar mengenal huruf hijaiyah atau kadang-kadang anak harus membaca dengan mengikuti ustadznya membaca Al-Qur’an. Cara mengjar di mushalla dilaksanakan dengan cara anak duduk dilantai dengan bersila tanpa bangku dan meja, demikian juga guru mengaji.

Mereka belajar seorang demi seorang, system materi ajar ini sangat tergantung dengan kemampuan anak, tetapi ada juga yang menerapkan cara pengelompokan dengan ditunjuk secara acak siapa yang harus membaca. 

Baru setelah anak mampu membaca kalimat secara benar panjang pendeknya, fasih melafadzkan huruf baru diperkenalkan memulai membaca Al-Qur’an mulai dari surat al-fatihah dan seterusnya. 

Materi lain yang diajarkan dalam Pendidikan surau adalah pelajaran ibadah yang dimulai dengan menghafal do’a-do’a wudhu dan shalat, selanjutnya diajarkan gerakan-gerakan shalat secara demontratif. Sedang pendidikan keimanan diwujudkan melalui pujin-pujian dan cerita-cerita kegamaan.

Mereka yang cerdas dan rajin biasanya dapat menamatkan Al-Qur’an selama 2 sampai 3 tahun. Setelah tamat diadakan khataman dengan cara membaca surat-surat pendek yang terdapat dalam juz amma. 

Dengan menjadikan lembaga Pendidikan Islam dalam masjid akan terlihat hidupnya sunnah-sunnah Islam, menghilangkan bid’ah, mengembangkan hokum-hukum Tuhan, serta menghilangkan strafikasi sosial dan ekonomi dalam pendidikan. Dalam lembaga pendidikan ini akan menimbulkan Implikasi kepada kejiwaan anak terutama:
  1. Mendidik anak untuk tetap beribadah kepada Allah.
  2. Menanamkan cinta kepada ilmu pengetahuan dan menanamkan solidaritas social, serta menyadarkan hak-hak dan kewajiban sebagai insan pribadi, social dan warga Negara.
  3. Memberi rasa ketentraman, kekuatan dan kemakmuran potensi-potensi rohani manusia melalui pendidikan, kesabaran, keberanian, kesadaran, renungan, optimism dan pengadaan penelitian.
Dengan demikian maka Masjid adalah lembaga pendidikan non formal yang utama setelah keluarga dan langgar.Keberadaan Masjid sebagai embaga pendidikan memang sudah melalui perjalanan dan sejarah yang panjang mulai dari zaman Rsulullah SAW.

Pondok Pesantren


Pondok pesantren sering digunakan secara terpisah yakni Pondok, yang diambil dari tempat pemondokan dan Pesantren.Yang dikembangkan dari kata santri. Orang jawa sering menggunakan kata pondok, atau pesantren, dan sering juga disebut keduanya.

Pengertian dasar pesantren adalah tempat belajar santri, sementara pondok berarti rumah atau tempat tinggal sedrhana yang terbuat dari bamboo dan kayu. Di samping pengertian tersebut ada yang menganggap bahwa kata pondok bersal dari bahasa Arab Funduq yang berarti hotel atau asrama.

Ciri khas pesantren yang sekaligus menunjukkan unsur-unsur pokoknya dan membedakan dengan lembaga pendidikan lain adalah: pondok sebagai tempat kyai bersama santri, adanya masjid sebagai pusat tempat ibadah dan belajar mengajar, adanya santri yang berdomisili di pondok, dan Kiyai yang menjadi tokoh sentral dalam pesantren serta mengajarkan kitab-kitab. 

Cara mengajar yang digunakan dalam pesantren pada garis besarnya dapat dibedakan dengan metode Sorogan dan Bandongan.

Dengan sistem sorogan, santri memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari Kiyai atau Ustadz. Sedangkan cara Bandongan, sering juga disebut system wetonan, Khalaqah, atau lingkaran. Dalam system ini santri duduk di sekeliling Kyai dengan membentuk suatu lingkaran. 

Kyai membaca kitab kemudian menterjemahkan kata demi kata dan menerangkan maksudnya. Santri menyimak, mencatat yang dianggap penting dan mempelajari kembali secara sendiri-sendiri di kamarnya dan mempelajari terlebih dahulu bagian-bagian kitab yang akan diajarkan Kyai. 

Dengan cara ini para santri didorong untuk belajar dengan kesadaran sendiri, dan santri yang rajin akan segera mencapai tingkatan “Alim, yakni suatu tingkatan yang mengarah pada peluang untuk menduduki sebagai badal atau wakil Kyai.

Madrasah


Istilah Madrasah (bahasa Arab) adalah berarti tempat belajar dan pengertian menurut bahasa Indonesia adalah sekolah. Hanya saja istilah madrasah di Indonesia selalu berkonotasi dengan sekolah yang mengajarakan agama Islam. Madrasah dalam bentuk sebagai lembaga pendidikan formal muncul dalam masyarakat muslim sekitar abad ke V Hijriyah pada saat ajaran Islam sudah berkembang secara luas menjadi berbagai disiplin ilmu. 

Di Indonesia sekitar abad 19 M pemerintah Belanda mulai memperkenalkan sekolah-sekolah modern. Madrasah dalam bentuk sebagai lembaga formal, yang pertama kali didirikn ialah Madrasah Adabiyah di Padang pada tahun 1905 M oleh syeikh Abdullah Ahmad.

Sistem pendidikan dan pengajaran yang diterapakan di madrasah-madrasah di Indonesia adalah perpaduan antara system pendidikan pondok pesantren dan sistem sekolah modern. 

Perpaduan tersebut belangsung secara berangsur-angsur mulai dari mengikuti system klasikal, system pengajaran kitab, digani dengan pelajaran tertentu, sampai pada adanya kenaikan tingkat berdasarkan atas kemampuan siswa menguasai sejumlah bidang studi tertentu.Bahkan daam perkembangannya madrasah mengikuti penjejangan sekolah umum menjadi tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah.

Kurikulumnya masih mempertahankan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok dengan persentasi yang berbeda-beda. Untuk tulah akhirnya Kementrian Agama memberikan kriteria untuk madrasah-madrasah yang berada di bawah wewenangnya harus memberikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok paling sedikit 6 jam dalam seminggu. 

Pemerintah mengarahkan agar madrasah-madrasah yang ada diakui sebagaimana yang dikehendaki Udang-Undang No. 4 Tahun 1950.Undang-uandang tersebut mengahruskan Madrasah terdaftar dalam Kementrian Agama. Dan hasil pendaftaran madrasah di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 13.849 madrasah.

Pada tahun 1951 pemerintah mendirikan madrasah tingkat tinggi yang dikenal dengan nama Perguruan Tinggi Aganma Islam (PTAIN) di Yogyakarta. Kemudian pada tanggal 17 Juli 1957 pemerintah mendirikan Akademi Dinas Ilmu Agama (AIDA). 

Kedua lembaga pendidikan tinggi tersebut selanjutnya digabungkan melalui Peraturan Presiden No.11 tahun 1960 menjadi “Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah atau Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Pada awalnya IAIN ini mempunyai 4 fakultas, masing-masing: Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Syari’ah di Yogyakarta, Fakultas Dakwah dan Tarbiyah di Jakarta. 

Selanjutnya berkembang menjadi 14 IAIN di seluruh Indonesi. Yaitu:
  1. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  2. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  3. IAIN Ar-Raniry Banda Aceh
  4. IAIN Raden Fatah Palembang
  5. IAIN Antasari Banjarmasin
  6. IAIN Sunan Ampel Surabaya
  7. IAIN Alaudin Ujung Pandang
  8. IAIN Imam Bonjol Padang
  9. IAIN Sultan Taha Syaifuddin Jmabi
  10. IAIN Raden Intan Lampung
  11. IAIN Sunan Gunung Jati Bandung
  12. IAIN Walisongo Semarang
  13. IAIN Sultan Syarif Qosim Riau
  14. IAIN Sumatera Utara.
Tentang pelaksanaan pendidikan agama disekolah-sekolah umum ini sejak awal-awal kemerdekaan telah diatur melalui peraturan bersama antara Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dengan Menteri Agama No. 1142/Bhg.A (Pendidikan) tanggal 2 Desember 1946. 

Menurut peraturan tersebut Pendidikan Agama di sekolah-sekolah Negeri diberikan mulai kelas IV samapai kelas VI sekolah rakyat, terhitung mulai tanggal 1 Januari 1947.Karena situasi yang berbeda, maka peraturan tersebut tidak berjalan seperti yang dimaksudkan. 

Dalam UU Pendidikan dan Pengajaran UUPP No.4 tahun 1950, Pasal 20 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa: sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran agama tersebut atau tidak.

Berdasarkan atas peraturan perundangan ini, maka dikeluarkanlah keputusan bersama antara Menteri PP dan K dan Menteri Agama No: 1432/Kab. (Pendidikan), dan No.K/1/651 (Agama) tanggal 20 Januari 1951. Peraturan ini disempurnakan lagi dengan keluarnya peraturan bersema menteri PP dan K dan Menteri Agama RI No: 17678/Kab. Tanggal 16 Juli 1951 (Pendidikan), dan No.K/1/9180 tanggal 6 Juli 1951 (Agama) tentang peraturan pendidikan agama di sekolah negeri.

Dengan keluarnya peraturan tersebut, maka secara resmi pendidikan agama telah dimasukan ke dalam kurikulum sekolah-sekolah Negeri maupun swasta mulai dari tingkat dasar sampai sekolah menengah tingkat atas, juga sekolah-sekolah kejuruan.

Pada tahun 1960 Pendidikan Agama di sekolah mendapat status yang agak kuat dengan dimasikkannya dalam ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 bab 2 pasal 2 ayat 3 yang di dalamnya disebutkan: Menetapkan pendidikan Agama menjadi mata pelajran du sekolah-sekolah mulai dari sekolah rakyat sampai dengan Universitas-Universitas Negari dengan pengertian bahwa murid-murid berhak tidak ikut serta apabila wali murid/murid dewasa menyatakan keberatannya.

Mengenai dasar Operasional pelaksanaan pendidikan agama diperguruan tinggi ditetapkan dalam UU No.22 tahun 1961 tentang perguruan tinggi. Dalam Bab 3 pasal 9 ayat 2 Sub b sebagai berikut: pada pergruan tinggi Negeri diberukan pendidikan agama sebagai mata pelajaran drngan pengertian bahwa mahasiswa berhak tidak ikut serta apabila menyatakan keberatannya.


Referensi
Abdullah, Taufik, Sejarah Umat Islam Indonesia, Jakarta: Majlis Ulama Indonesia, 1991.

Ahmad, Zainal Abidin, Memperkembangkan dan Mempertahankan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

Aceh, Abu Bakar, Sejarah K.H.A. Wachid Hasyim, Jakarta: Panitia Peringatan, 1957.

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990.

Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta; Ditbinperta, 1986.
Zuhri, Saifuddin, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Bandung: Al-Ma’arif, 1979.

Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia

sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia-setelah-masa-kemerdekaansejarah-pendidikan-islam-di-indonesia-pada-masa-orde-baru

Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia

Pendidikan Islam Masa Kebangkitan


Pada permulaan abad ke-20 terjadi beberapa perubahan di dunia Islam yang pada prinsipnya adalah suatu gerakan untuk merespon penjajahan yang dilakukan oleh dunia Barat.Gerakan tersebut bermula dari gerakan pembaharuan yang muncul di Timur Tengah. Pemerintah Belanda susah berusaha membendung imbas gerakan tersebut baik yang berkaitan dengan perjalanan ibadah Haji, maupun buku-buku terbitan Timur Tengah. 

Hanya saja para tokoh muslim di Indonesia masih mendapatkan brosur-brosur atau majalah yang berisi pemikiran pembaharuan Islam di Timur Tengah. Berikut akan dikemukakan beberapa jumlah organisasi yang berkembang pada masa kebangkitan yang diantara sebagian dari usahanya itu ialah mengupayakan perbaikan dan pengembangan Pendidikan Islam dengan tujuan membebaskan umat Islam dari kebodohan dan keterbelakangan. 

  1. Al Jami’ah al-Khairiyah

Organisasi ini didirikan di Jakarta oeh tokoh-tokoh Islam keturunan Arab pada tahun 1901 Medan baru diakui oleh Belanda pada tanggal 17 Juli 1905 M. Al-Jami’ah Al-Khairiyah adalah organisasi Islam pertama di Indonesia yang aktivitasorganisasi diselenggarakan dengn system Barat. Diantara program kegiatan organsasi al-Jam’iyah ialah mendirikan sekolah-sekolah dan mengirimkan para pelajar ke Turki untuk melanjutkan studi.


Kurikulum sekolah-sekolah al-Khairiyah terdiri dari mata pelajaran umum dan agama, bahasa Arab dan Melayu sebagai bahasa pengantar, sementara bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Dalam hal pemenuhan tenaga pengajar, organisasi ini merekrut beberapa tenaga dari Indonesia dengan kriteria tertentu, misalnya Muhammad Manshur yang pernah mengajar di lembaga tersebut tahun 1907 M, selain itu para pengajar banyak didatangkan dari Luar Negeri, seperti Al-Hasyimi dri Tunis, Ahmad Syurkati dari Sudan dan Syeikh Abu Hamid dari Makkah.


Sesudah tahun 1910 M, dalam organisasi ini timbul perselisihan yang bermula dari kasus yang ditimbulkan dari sikap feodalistik yang meminta hak istimewa dalam hidup bermasyarakat. Permintaan tersebut muncul dari mereka yang mengaku sebagai keturunan nabi, juga masalah larangan perkawinan antara anak sayid dengan non sayid. Pro kontra tentang berbagai persoalan tersebut berakhir dengan perpecahan dalam tubuh organisasi. Mereka yang tidak sefaham dengan permintaan menghormati sayyid dikelompokan sebagai kelompok reformis dan selanjutnya mendirikan organisasi sendiri yang bernama Al-Irsyad.

  1. Muhammadiyah


muhammadiyah
Salah satu organisasi Islam yang mempunyai peran penting dalam pendidikan Islam di Indonesia adalah Muhammadiyah. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 M, atau bertepatan dengan tanggal 6 dhulhijjah 1330 H. oleh kyai Haji Ahmad Dahlan. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah mempunyai beberapa ciri :

  1. Sebagai gerakan Islam
  2. Sebagai gerakan dakwah
  3. Sebagai gerakan Tajdid

kh-ahmad-dahlan
Sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah memperjuangkan organisasinya berdasarkan Islam dan berusaha mewujudkan syariat Islam dalam kehidupan masyarakat. Sebagai gerakan dakwah, muhamadiyah dlam memperjuangkan cita-citanya ditempuh melalui dakwah secara bijaksana. 

Sedangkan  sebgai gerakan tajdid muhamadiyah berusaha memperbarui dan meningkatkan  pemahaman islam secara rasional berdasarkan tuntutan msyarakat moderen. 

Organisasi ini di dirikan dengan tujuan: menyebarkan ajaran nabi Muhammad Saw kepadapenduduk bumi putra dan memajukan agama islam kepada para anggotanya yang kegiatan pokoknya adalah mengadakan tabligh yang dilaksanakan secara teratur setiap seminggu sekali.


Dalam bidang pendidikan,mohamadiyah melanjutkan model sekolah yang di gabungkan dengan sistm Gubermemen. Sehubungan dengan itu selain mendirikan sekolah dasar di kampungnya sendiri, K.H.Ahmad Dahlan juga mendirikan sekolah-sekolah yang sama di beberapa daerah lain. 

Sampai dengan tahun 1923 M, di Yogyakarta telah berdiri empat sekolah Dasar Muhammadiyah, sudah dipersiapkan mendirikan HIS dan sekolah Pendidikan Guru.Disamping itu Muhammadiyah juga sibuk mendirikan HIS di Jakarta.

Kemudian tahun 1925 M Muhammadiyah sudah mempunyai 29 cbang dengan 4000 anggota. Pada sisi lain bahwa berdirinya cabang baru adalah identik dengan berdirina sekolah baru.  Atas  dasar itulah maka tahun itu di bawah muhamadiyah telah tercatat, 8 HIS, 32 Sekolah  dasar ,14 madarasah,dan 1 sechekel school, dengan 119 guru dan  4.000 murid.

Menurut  catatan Majlis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Pusat, jumlah sekolah-sekolah yang di kelola oleh ekolah muhamadiyah ,sesuai dengan data mapendapu tahun 1982 lebih kurang berjumlah 21.101 sekolah yang terdiri dari: taman kanak-kanak sebnyak 3000 buah, perguruan tingkat dasar 6396. Tingkat Menengah sebanyak 1664 sekolah dan 41 perguruan tinggi.
  1. Al-Ishlah wa al-Irsyad

al-irsyad-syurkati
Organisasi ini didirikan pada tahun 1913 di Jakarta.Tokoh pendirinya ialah Syeikh Ahmad Syurkati. Beliau adalah seorang ulama yang dilahirkan di Dunggala Sudan pada tahun 1872 M. ia berasal dari keluarga yang taat beragama. Atas dasar itu Shurkati telah banyak memahami ayat-ayat Al-Qur’an sejak kecil. Kendati demikian ia tidak pernah terpenuhi keinginannya belajar di Mesir. 

Hal tersebut disebabkan karena setelah ayahnya meninggal dunia.Pada tahun 1906 Syurkati menerima sertifikat tertinggi Guru Agama dari pemerintahan Istambul.

Al-Irsyad sebagaimana organisasi Islam yang merumuskan tujuan organisasinya untuk memajukan agama islam yang murni di kalangan bangsa Arab Indonesia. Dalam kegiatan organisasi tersebut memusatkan perhatiannya di bidang pendidikan terutama pada masyarakat Arab.

Al-Irsyad juga mempunyai cita-cita memobilisasi tingkat kecerdasan bangsa Indonesia di bidang pendidikan tidak hanya terbatas di kalangan keturunan Arab saja, tapi juga seluruh bangsa Indonesia. Organisasi ini juga bekerja sama dengan Muhammadiyah dan Persatuan Islam. Mereka kemudian mendirikan sekolah-sekolah mulai dari dasar, menengah, dan keguruan.

Sebagaimana organisasi keagamaan yang lain, Al-Irsyad juga memanfaatkan media tabligh dan pertemuan-pertemuan sebagai sarana untuk menyebarkan faham keagamaannya. Ia juga meerbitkan buku-buku dan panflet-panflet, majalah al-Dzakirah yang dipimpin sendiri oleh Shurkati. Majalah ni berisi kupasan pertanyaan tentang maslah keagamaan.
  1. Persyarikatan Ulama

kh-Abdul-Halim-Majalengka
Persyarikatan Ulama adalah  perwujudan sebuah gerakan pembaharuan di daerah Majalengka Jawa Barat, yang dimulai pendirinya tahun 1911 atas inisiatif Kyai Haji Abdul Halim. Kyai Haji Abdul Halim memperoleh pendidikan agama dari pada masa kanak-kanak dari berbagai pesantren di daerah Majalengka. 

Setalah berumur 22 tahun pergi ke Makkah untuk menunaikan ibdah haji dan melanjutkan pendidikannya.Ia bermukim disana selama 3 tahun dan mengenal tulisan-tulisan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. 

Enam tahun setelah kembali dari Makkah, Abdul Halim mendirikan organisasi yang diberi nama :  Hayatul Qulub. Organisasi ini bergerak dibidang ekonomi dan pendidikan. Anggotanya semula berjumah 60 orng yang umunya tertidiri dari pedagang dan petani.

Dalam perkembangan berikutnya karena tuntutan kebutuhan masyarakat dirasa perlu untuk mendirikan lembaga pendidikan modern, maka didirikanlah sekolah yang diberi nama jam’iyah I’anah Al-Muta’alimin.K.H.Abdul Halim hubungan dengan organisasi al-jami’ah al-khairiyah dan al-Irsyad. 

Beliau mewajibkan kepada para murid yang telah mencapai tingkat tertentu untuk memahami bahas arab yang dijadikan sebagai bahasa pengantar pada kelas-kelas lanjutan. 

Organisasi Hayatul Qulub ini selanjutnya diganti dengan nama “Persyarikatan Ulama” dan diakui secara hokum oleh pemerintah Belanda pada tahun 1917 berkat bantuan HOS Cokro Aminoto. 

Organisasi ni juga dikenal dengan nama perikatan Ulama yang pada tahun 1952 difungsikan dengan organisasi islam lainnya yaitu : Al-Ittihadiyah al-Islamiyah(AAI) menjadi “Persatuan Umat Islam”.

Dalam konggres tahun 1932, kyai haji Abdul Halim mengusulkan kepada anggotanya agar mendirikan lembaga pendidikan yang tidak saja mengajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga kelengkapan-kelengkapan pekerjaan tangan, perdagangan dan pertanian sesuai dengan bakat, minat dan keinginan anak. Kemudian beliau mendirikan Santini Asrama yang terdiri dari tiga tingkatan yaitu: tingkat lanjutan, Dasar dan permulaan. 

Selain belajar seperti biasa, para santri juga dilatih dalam bidang pertanian, pekerjaan tangan (kayu dan besi), menenun dan mengolah berbagai bahan.Sebagaiman organisasi yang lain, Persyarikatan Ulama juga menyelengggarakan tabligh dan menerbitan brosur-brosur sebagai media memperluas program organisasinya. 

Sayangnya program organisasi ini tidak berkembang sebagai mana yang diharapkan, kemungkinan sebabnya adalah karena tenaga-tenaga yang dihasilkan untuk suatu lapangan kerja yang prestise dan menjanikan penghasilan besar, tetapi hanyalah para pekerja yang mencerminkan kelas bawah.
  1. Sumatera Tawalib

buya-hamka-Prof.-DR.-H.-Abdul-Malik-Karim-Amrullah
Organisasi ini didirikan di Sumatera Barat tahun 1918 oleh Syeikh Abdul Karim Amrullah yang dikenal dengan nama Haji Rasul padang panjang. Sumatera Tawalib adalah organisasi yang merupakan perwujudan dari kebangkitan surau-surau dari sistem pendidikan agama tradisioanal untuk dikembangkan menjdi lembaga pendidikan madrasah yang berkelas dan diberi mata pelajaran umum.

Dalam perkembangan berikutya juga banyak surau-surau yang mengikuti jeja Sumatera Tawalib dan bergabung dengan organisasi ini, seperti surau Parabek, Surau Maninjau dan lain sebagainya.

Ciri khas dari lembaga  pendidikan Sumatera Tawalib adalah menggantikan kitab-kitab karya ulama abad pertengahan dengan kitab-kitab baru karangan ulama Mesir modern, semisal tafsir al-manar, nahwul wadhi dan lain sebagainya. Madrasah Tawalib semuanya mempunyai jenjang kelas satu samapai tujuh yang seluruhnya dibrikan 12 mata pelajaran agama dan bahasa Arab.

Tamatan Tawalib biasanya diangkat sebagai guru di kelas yang terendah di Madrasah Tawalib dan sekolah-sekolah yang sederajat.Sedabg mereka yang mengajar di kelas tujuh adalah para kyai dan guru besar Tawalib.

Calon-calon guru lulusan Tawalib banyak yang mendirikan Madrasah sendiri, diantaranya juga ada yang melanjutkan pelajaran ke Makkah, India, Mesir dan lain-lainnya.Selain itu ada juga yang langsung terjun sebgai Mubaligh, pengarang buku dan penulis di Majalah.
  1. Persatuan Islam ( PERSIS )

persatuan-islam-persis
Persatuan Islam (persis) didirikan di Bandung pada permulaan tahun 1923 oleh K.H. zam-zam selama tiga tahun setengah, kyai haji Zam-zam menghabiskan masa mudanya dengan belajar di darul Ulum Makkah. Sepulang dari Makkah ia mengajar di Darul Muta’alimin Bandung. Selain Zam-zam tokoh persis lainnya ialah Muhammad Yunus yang memperoleh pendidikan secara tradisioanal dan menguasai bahasa Arab, sekalipun ia tidak pernah mengajar di persis. Organisasi ini didirikan dari pertemuan yang bersifat kenduri dan dilanjutkan dengan berbincang-bincang msalah agama karena masalah pertikaian antara Al-Khairiyah dan Al-Irsyad dan masalah komunisme.
ahmad-hasan-persis

Sebagaimana halnya organisasi islam lainnya, persis memberikan perhatian besar pada kegiatan pendidikannya, tabligh dan publikasi. Dalam bidang pendidikan persis mendirikan madrasah yang mulanya diperuntukan khusus bagi putra-putri anggota persis.

Keberadaan persis semakin kokoh setelah mendapat dukungan dari para tokoh penting yaitu Ahmad Hasan dan Muhammad Natsir. Suatu kegiatan lain yang penting dalam ranga kegiatan pendidkan di persis adalah lembaga pendidikan islam, sebuah obyek yang dikembangkan oleh Natsir, terdiri dari beberapa sekolah : taman kanak-kanak, HIS(keduanya tahun 1930) dan sekolah Guru (1932).

Disamping itu persis juga mendirikan pesantren di Bandung pada bulan Maret tahun 1936 untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan untuk menyebarakan agama.Usaha ini terutama atas inisiatif Ahmad Hasan dan juga masih bersifat percobaan-percobaan eksperimen. Pesantren persis dipindahkan ke Bangil Jawa Timur setelah tokoh-tokohnya seperti Ahmad dan Muhammad Ali al-Hamidy pindah ke sana. Pada bulan Februari tahun 1941 didirikan pesanteren putri.

Dilihat dari jumlah pengikutnya, organisasi persis tergolong kecil, tetapi jika dilihat dari pengaruh ajaran-ajarannya ternyta persis memberikan andil yang besar dalam memberikan pemahaman agama kepada masyarakat.Selain itu buku-buku yang ditulis Ahmad Hasan banyak dibaca dan dipelajari oleh masyarakat yang berpandangan mpdern dan membebaskan dri dari keharus taklid terhadap pendapat ulama tertentu.
  1. Nahdhatul Ulama (NU)

nahdlatul-ulama-nu
Nahdhatul Ulama didirikan pada tanggal 16 rajab 1344 H atau bertepatan dengan tangal 31 Januari tahun 1926 M di Surabaya. Para Ulama pendiri organisasi ini antara lain: K.H. hasyim Asy’ari, K.H Wahab Hasbullah, K.H. Bisri, K.H ridwan, K.H Nawawi, K.H.R.Asnawi, K.H.R Hambali, Kyai Nahrawi, K.H DoroMuntaha, dan K.H. Alwi Abdul Aziz. 

Organisasi ini melancarkan sebagai reaksi terhadap gerakan penbaharuan untuk membebaskan diri dari madzab, NU bermaksud memegang salah satu madzab dari imam empat yaitu: Hanafi, Syafi’I, Maliki, dan Hambali. 

Sedangkan dalam bidang aqidah NU memegang pada aliran Ahlu Sunnah Wa al-Jama’ah sebagai ajaran islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya.
kh-hasyim-asyari-pendiri-nu-tebu-ireng-mbah-hasyim-gus-dur-kyai-hasyim

Usaha-usaha NU dalam mencapai tujuannya yaitu:
  1. Mengadakan perhubungan di antara Ulama-ulama yang bermadzab tersebut di atas.
  2. Memeriksa kitab-kitab sebelum dipakai untuk mengajar supaya mengetahui apakah kitab tersebut, merupakan kitab Ahlu Sunnah Wa al-Jama’ah ataukah kitab ahlu bid’ah.
  3. Menyiarkan agama islam berasaskan pada imam empat madzab.
  4. Berikhtiar dengan memperbanyak madrasah-madrasah berdasarkan agama Islam.
  5. Memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan Masjid, surau-suarau, pondok-pondok, begitu juga dengan hal ihwalnya anak yatim dan orang fakir miskin.
  6. Mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan dan perusahaan yang tidak dilarang oleh syara’ agama Islam.
Berdasarkan rumusan maksud dan tujuan NU sebagaimana yang terdapat pada anggaran Dasar 1926, maka NU adalah perkumpulan yang mementingkan pendidikan dan pengajaran Islam. 

Sedangkan pada tahun 1938 komisi perguruan NU telah dapat mengeluarkan regliment tetang susunan Madrasah-Madrasah NU yang harus dijalankan mulai tanggal 2 Muharram 1357 dengan susunan sebagai berikut:
  1. Madrasah Awwaliyah, lama belajar 2 tahun.
  2. Madrasah Ibtidaiyah lama belajar 3 tahun.
  3. Madrasah Tsanawiyah, lama belajar 3 tahun.
  4. Madrasah Mu’alimin Wustha, lama belajar 2 tahun.
  5. Madrasah Mu’alimin Ulya, lama belajar 3 tahun.
Sedangkan pendidikana NU di atas dikelola oleh lembaga Pendidikan Ma’arif, juga disesuaikan dengan system pendidikan yang berlaku di masyarakat. 

Sementara lembaga yang tidak secara langsung di bawah organisasi NU lembaganya diberi nama tokoh-tokoh yang mendirikan seperti Hasyim Asy’ari, Wachid Hasyim dan sebagainya. Lembaga pendidikan yang dimiliki NU dalah pondok pesantren.
  1. Persatuan Tarbiyah Islam (PERTI)

persatuaan-tarbiyah-islam-perti
Organisasi ini didirikan di Sumatera Barat oleh Ulama-ulama pesantren yang menganut madzab Syafi’i pada tahun 1928. Diantara tokoh-tokohnya ialah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dari Bukit Tinggi, Syeikh Abbas Ladang Lawan dari Bukit Tinggi, dan Syeikh Jamil Jaho dari Padang Panjang. 

Sama halnya dengan Nu di Jawa, PERTI adalah sebagai perimbangan terhadap gerakan pembaharuan non madzab yang dikumandangkan oleh Sumatera Thawalib. Di antara tujuan-tujuan Tarbiyah Islamiyah yang terpenting ialah:
  1. Mengembangkan pendidikan dan pengajaran Islam di tengah-tengah masyarakat dengan memperhebat penyiaran agama, baik dengan lisan (tabligh) atau dengan tulisan (menerbitkan buku-buku, majalah-majalah) dan lain sebagainya.
  2. Memajukan amal-amal social dan ibadah dengan membangunkan langgar-langgar, mushalla-mushalla, dan masjid-masjid.
  3. Mendirikan Madrasah-madrasah mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

syekh-sulaiman-ar-rasuli-tengah
Pada tahun 1930 PERTI berkembang menjadi organisasi social yang lebih luas dan tidak terbatas pada masalah pendidikan dan pondok pesantren saja, tetapi dapat menghimpun faham Ahl - al - Sunnah yang bermadzab Syafi’I di daerah Sumatera Barat, serta kurang lebih mendirikan 300 madrasah di daerah tersebut. 

Kemudian pada tanggal 3 November 1945 setelah Indonesia merdeka dan setelah keluar maklumat pemerintah RI, maka PERTI dengan suara bulat memutuskan untuk berubah menjadi partai politik Islam dan memindahkan pusat kepemimpinan ke Jakarta.
  1. Jami’ah Al-Washliyah
Organisasi ini didirikan di Medan pada tahun 1930 oleh tokoh-tokoh pelajar islam dari Maktab Islamiyah pimpinan Syeikh Muhammad Yunus dan Syeikh Ja’far Hasan, juga para pelajar dari Madrasah Al-Hasaniyah pimpinan Hasan Makmun. Asas organisasi ini adalah Ahlu Sunnah madzab Syafi’i.tokoh-tokoh Jami’ah ini antara lain: H. Abdurrahman Syihab, Arsyad Lubis, Udin Syamsudin, H. Adnan Lubis dan Ismail Bunda. 

Organisasi ini mempunyai madrasah-madrasah yang  tersebar luas di Sumatera Timur dan Utara. Gerakan dakwahnya terutama ditujukan untuk mengimbangi gerakan Missi dan Zending Kristen di tanah Batak. Bagian dakwahnya diberi nama: “Yayasan Zending Islam yang dipimpin oleh H. Sabrani.

Sampai dengan tahun 1958 Al-Washliyah telah mampu mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Medan dan Jakarta.Untuk yang di Medan selanjutnya menjadi Universitas Sumatera Utara dengan beberapa cabang seperti Sibolga, Kebon Jahe, Rantau Prapat, Lansa (Aceh) dan lain-lain.Bahkan da yang di Kalimantan.
  1. Nahdhatul Wathan (NW)

logo-nw-nahdlatul-wathan
Nahdhatul Wathan didirikan pada tahun 1936 oleh tuan guru H.M. Zainuddin di Pancor Lombok Timur. Organisasi ini juga menganut madzab Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan menganut madzab Syafi’i.adapun tujuan organisasi ini adalah: mempertinggi kalimah Allah Izzul Islam Wal Muslimin dan kebahagiaan hidup dunia akhirat. 

Sebagaimana halnya organisasi yang lain, Nahdhatul Wathan juga bergerak di bidang social keagamaan, dan untuk mencapai tujuan tersebut NW mengadakan usaha-usaha sebagai berikut:
  1. Mempertinggi dan menyempurnakan mutu pendidikan, pengajaran dan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam.
  2. Mendirikan madrasah-madrasah, sekolah-sekolah, asrama pelajar, rumah yatim piatu, rumah pribadatan serta penyediaan tenaga pengajar.
  3. Menyiarkan agama Islam dengan jalan tabligh, penerbitan dan lain-lain.
  4. Mengadakan kursus-kursus, perpustakaan dan taman bacaan.
  5. Memelihara Ukhuwah al-Islamiyah dan perdamaian masyarakat.
  6. Menghidup suburkan masyarakat dan saling tolong menolong, mempertinggi amal social serta amal jariah.
  7. Mengadakan kerja sama dengan golongan lainnya dalam mencapai tujuan organisasi dengan ketentuan tidak merugikan NW.
  8. Serta usaha lain yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, semuanya dengan mengindahkan pemerintah RI mengenai hal-hal tersebut di atas.
Adapun jenis-jenis lembaga pendidikan yang dimiliki Nahdhatul Wathan ialah:
  1. Nahdhatul Barat Diniyah Islamiyah
  2. Madrasah Ibtidaiyah
  3. Sekolah menengah Atas
  4. Mualimin dan Mualimat NW
  5. Madrasah Menengah Atas
  6. Ma’had Dar Al-Qur’an Wa al-Hadits
  7. Sekolah tinggi Agama Islam.
Sebagai salah satu organisasi kegamaan yang mempunyai andil dalam pembinaan umat, lemabaga-lembaga Nahdhatul Wathan banyak tersebar luas hampir di seluruh kepulauan Lombok.


Pendidikan Islam Masa Awal Kemerdekaan


Setelah Indonesia merdeka, penyelenggaraan pendidikan Islam mulai mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Keadaan tersebut tidak terlepas dari peranan para tokoh  Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan. 

Perhatian tersebut sebagaimana dibuktikan oleh keputusan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) tangal 27 Desember 1945 yang menyebutkan bahwa: Madrasah dan Pesantren pada hakekatnya adalah salah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat berakar dalam masyarakat Indonesia umumnya hendaklah pula mendapat perhatian dan bantuan nyata dari pemerintah.

Atas dasar itulah, maka dalam laporan BPKNIP tanggal 2 Juni 1946 antara lain dikemukakan bahwa; Pengajaran yang bersifat Pondok Pesantren dan Madrasah dipandang perlu untuk dipertinggi, dimodernisasi dan diberi bantuan. Sebagai tindak lanjut dari laporan tersebut, maka selanjutnya segera keluar beberapa peraturan Menteri Agama yang mengatur pelaksanaan pemberi bantuan kepada Perguruan-perguruan Agama. 

Baca juga: Definisi Kurikulum dan Sejarahnya

Adapun system pendidikan Islam yang berkembang pada masa awal kemerdekaan pada prinsipnya adalah sama dengan apa yang ada pada masa sebelumnya yang secara umum berbentuk:

Langgar, Mushalla, dan Masjid


Istilah langgar sering dipandang dengan surau, atau juga mushalla adalah lembaga Pendidikan Islam tingkat dasar atau juga disebut pengajian Al-Qur’an untuk anak-anak wanita dan laki-laki.Pendidikan agama di langgar atau di mushalla ini merupakan system elementer.

Anak diajar mengenal huruf hijaiyah atau kadang-kadang anak harus membaca dengan mengikuti ustadznya membaca Al-Qur’an. Cara mengjar di mushalla dilaksanakan dengan cara anak duduk dilantai dengan bersila tanpa bangku dan meja, demikian juga guru mengaji.

Mereka belajar seorang demi seorang, system materi ajar ini sangat tergantung dengan kemampuan anak, tetapi ada juga yang menerapkan cara pengelompokan dengan ditunjuk secara acak siapa yang harus membaca. 

Baru setelah anak mampu membaca kalimat secara benar panjang pendeknya, fasih melafadzkan huruf baru diperkenalkan memulai membaca Al-Qur’an mulai dari surat al-fatihah dan seterusnya. 

Materi lain yang diajarkan dalam Pendidikan surau adalah pelajaran ibadah yang dimulai dengan menghafal do’a-do’a wudhu dan shalat, selanjutnya diajarkan gerakan-gerakan shalat secara demontratif. Sedang pendidikan keimanan diwujudkan melalui pujin-pujian dan cerita-cerita kegamaan.

Mereka yang cerdas dan rajin biasanya dapat menamatkan Al-Qur’an selama 2 sampai 3 tahun. Setelah tamat diadakan khataman dengan cara membaca surat-surat pendek yang terdapat dalam juz amma. 

Dengan menjadikan lembaga Pendidikan Islam dalam masjid akan terlihat hidupnya sunnah-sunnah Islam, menghilangkan bid’ah, mengembangkan hokum-hukum Tuhan, serta menghilangkan strafikasi sosial dan ekonomi dalam pendidikan. Dalam lembaga pendidikan ini akan menimbulkan Implikasi kepada kejiwaan anak terutama:
  1. Mendidik anak untuk tetap beribadah kepada Allah.
  2. Menanamkan cinta kepada ilmu pengetahuan dan menanamkan solidaritas social, serta menyadarkan hak-hak dan kewajiban sebagai insan pribadi, social dan warga Negara.
  3. Memberi rasa ketentraman, kekuatan dan kemakmuran potensi-potensi rohani manusia melalui pendidikan, kesabaran, keberanian, kesadaran, renungan, optimism dan pengadaan penelitian.
Dengan demikian maka Masjid adalah lembaga pendidikan non formal yang utama setelah keluarga dan langgar.Keberadaan Masjid sebagai embaga pendidikan memang sudah melalui perjalanan dan sejarah yang panjang mulai dari zaman Rsulullah SAW.

Pondok Pesantren


Pondok pesantren sering digunakan secara terpisah yakni Pondok, yang diambil dari tempat pemondokan dan Pesantren.Yang dikembangkan dari kata santri. Orang jawa sering menggunakan kata pondok, atau pesantren, dan sering juga disebut keduanya.

Pengertian dasar pesantren adalah tempat belajar santri, sementara pondok berarti rumah atau tempat tinggal sedrhana yang terbuat dari bamboo dan kayu. Di samping pengertian tersebut ada yang menganggap bahwa kata pondok bersal dari bahasa Arab Funduq yang berarti hotel atau asrama.

Ciri khas pesantren yang sekaligus menunjukkan unsur-unsur pokoknya dan membedakan dengan lembaga pendidikan lain adalah: pondok sebagai tempat kyai bersama santri, adanya masjid sebagai pusat tempat ibadah dan belajar mengajar, adanya santri yang berdomisili di pondok, dan Kiyai yang menjadi tokoh sentral dalam pesantren serta mengajarkan kitab-kitab. 

Cara mengajar yang digunakan dalam pesantren pada garis besarnya dapat dibedakan dengan metode Sorogan dan Bandongan.

Dengan sistem sorogan, santri memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari Kiyai atau Ustadz. Sedangkan cara Bandongan, sering juga disebut system wetonan, Khalaqah, atau lingkaran. Dalam system ini santri duduk di sekeliling Kyai dengan membentuk suatu lingkaran. 

Kyai membaca kitab kemudian menterjemahkan kata demi kata dan menerangkan maksudnya. Santri menyimak, mencatat yang dianggap penting dan mempelajari kembali secara sendiri-sendiri di kamarnya dan mempelajari terlebih dahulu bagian-bagian kitab yang akan diajarkan Kyai. 

Dengan cara ini para santri didorong untuk belajar dengan kesadaran sendiri, dan santri yang rajin akan segera mencapai tingkatan “Alim, yakni suatu tingkatan yang mengarah pada peluang untuk menduduki sebagai badal atau wakil Kyai.

Madrasah


Istilah Madrasah (bahasa Arab) adalah berarti tempat belajar dan pengertian menurut bahasa Indonesia adalah sekolah. Hanya saja istilah madrasah di Indonesia selalu berkonotasi dengan sekolah yang mengajarakan agama Islam. Madrasah dalam bentuk sebagai lembaga pendidikan formal muncul dalam masyarakat muslim sekitar abad ke V Hijriyah pada saat ajaran Islam sudah berkembang secara luas menjadi berbagai disiplin ilmu. 

Di Indonesia sekitar abad 19 M pemerintah Belanda mulai memperkenalkan sekolah-sekolah modern. Madrasah dalam bentuk sebagai lembaga formal, yang pertama kali didirikn ialah Madrasah Adabiyah di Padang pada tahun 1905 M oleh syeikh Abdullah Ahmad.

Sistem pendidikan dan pengajaran yang diterapakan di madrasah-madrasah di Indonesia adalah perpaduan antara system pendidikan pondok pesantren dan sistem sekolah modern. 

Perpaduan tersebut belangsung secara berangsur-angsur mulai dari mengikuti system klasikal, system pengajaran kitab, digani dengan pelajaran tertentu, sampai pada adanya kenaikan tingkat berdasarkan atas kemampuan siswa menguasai sejumlah bidang studi tertentu.Bahkan daam perkembangannya madrasah mengikuti penjejangan sekolah umum menjadi tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah.

Kurikulumnya masih mempertahankan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok dengan persentasi yang berbeda-beda. Untuk tulah akhirnya Kementrian Agama memberikan kriteria untuk madrasah-madrasah yang berada di bawah wewenangnya harus memberikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok paling sedikit 6 jam dalam seminggu. 

Pemerintah mengarahkan agar madrasah-madrasah yang ada diakui sebagaimana yang dikehendaki Udang-Undang No. 4 Tahun 1950.Undang-uandang tersebut mengahruskan Madrasah terdaftar dalam Kementrian Agama. Dan hasil pendaftaran madrasah di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 13.849 madrasah.

Pada tahun 1951 pemerintah mendirikan madrasah tingkat tinggi yang dikenal dengan nama Perguruan Tinggi Aganma Islam (PTAIN) di Yogyakarta. Kemudian pada tanggal 17 Juli 1957 pemerintah mendirikan Akademi Dinas Ilmu Agama (AIDA). 

Kedua lembaga pendidikan tinggi tersebut selanjutnya digabungkan melalui Peraturan Presiden No.11 tahun 1960 menjadi “Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah atau Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Pada awalnya IAIN ini mempunyai 4 fakultas, masing-masing: Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Syari’ah di Yogyakarta, Fakultas Dakwah dan Tarbiyah di Jakarta. 

Selanjutnya berkembang menjadi 14 IAIN di seluruh Indonesi. Yaitu:
  1. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  2. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  3. IAIN Ar-Raniry Banda Aceh
  4. IAIN Raden Fatah Palembang
  5. IAIN Antasari Banjarmasin
  6. IAIN Sunan Ampel Surabaya
  7. IAIN Alaudin Ujung Pandang
  8. IAIN Imam Bonjol Padang
  9. IAIN Sultan Taha Syaifuddin Jmabi
  10. IAIN Raden Intan Lampung
  11. IAIN Sunan Gunung Jati Bandung
  12. IAIN Walisongo Semarang
  13. IAIN Sultan Syarif Qosim Riau
  14. IAIN Sumatera Utara.
Tentang pelaksanaan pendidikan agama disekolah-sekolah umum ini sejak awal-awal kemerdekaan telah diatur melalui peraturan bersama antara Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dengan Menteri Agama No. 1142/Bhg.A (Pendidikan) tanggal 2 Desember 1946. 

Menurut peraturan tersebut Pendidikan Agama di sekolah-sekolah Negeri diberikan mulai kelas IV samapai kelas VI sekolah rakyat, terhitung mulai tanggal 1 Januari 1947.Karena situasi yang berbeda, maka peraturan tersebut tidak berjalan seperti yang dimaksudkan. 

Dalam UU Pendidikan dan Pengajaran UUPP No.4 tahun 1950, Pasal 20 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa: sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran agama tersebut atau tidak.

Berdasarkan atas peraturan perundangan ini, maka dikeluarkanlah keputusan bersama antara Menteri PP dan K dan Menteri Agama No: 1432/Kab. (Pendidikan), dan No.K/1/651 (Agama) tanggal 20 Januari 1951. Peraturan ini disempurnakan lagi dengan keluarnya peraturan bersema menteri PP dan K dan Menteri Agama RI No: 17678/Kab. Tanggal 16 Juli 1951 (Pendidikan), dan No.K/1/9180 tanggal 6 Juli 1951 (Agama) tentang peraturan pendidikan agama di sekolah negeri.

Dengan keluarnya peraturan tersebut, maka secara resmi pendidikan agama telah dimasukan ke dalam kurikulum sekolah-sekolah Negeri maupun swasta mulai dari tingkat dasar sampai sekolah menengah tingkat atas, juga sekolah-sekolah kejuruan.

Pada tahun 1960 Pendidikan Agama di sekolah mendapat status yang agak kuat dengan dimasikkannya dalam ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 bab 2 pasal 2 ayat 3 yang di dalamnya disebutkan: Menetapkan pendidikan Agama menjadi mata pelajran du sekolah-sekolah mulai dari sekolah rakyat sampai dengan Universitas-Universitas Negari dengan pengertian bahwa murid-murid berhak tidak ikut serta apabila wali murid/murid dewasa menyatakan keberatannya.

Mengenai dasar Operasional pelaksanaan pendidikan agama diperguruan tinggi ditetapkan dalam UU No.22 tahun 1961 tentang perguruan tinggi. Dalam Bab 3 pasal 9 ayat 2 Sub b sebagai berikut: pada pergruan tinggi Negeri diberukan pendidikan agama sebagai mata pelajaran drngan pengertian bahwa mahasiswa berhak tidak ikut serta apabila menyatakan keberatannya.


Referensi
Abdullah, Taufik, Sejarah Umat Islam Indonesia, Jakarta: Majlis Ulama Indonesia, 1991.

Ahmad, Zainal Abidin, Memperkembangkan dan Mempertahankan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

Aceh, Abu Bakar, Sejarah K.H.A. Wachid Hasyim, Jakarta: Panitia Peringatan, 1957.

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1990.

Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam.Jakarta; Ditbinperta, 1986.
Zuhri, Saifuddin, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Bandung: Al-Ma’arif, 1979.

No comments