statistik-dalam-filsafat-ilmu

Statistik Dalam Filsafat Ilmu


Pengertian Statistik 


Pada mulanya kata “statistik” diartikan sebagai “kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu negara”. Namun pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif) saja.

Ditinjau dari segi terminologi, dewasa ini istilah statistik terkandung berbagai macam pengertian :

Pertama, istilah statistik kadang diberi pengertian sebagai data statistik, yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan.
Kedua, sebagai kegiatan statistik atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan.

Ketiga, kadang juga dimaksudkan sebagai metode statistik, yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan, menganalisis, dan memberikan interprestasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat berbicara atau dapat memberikan makna tertentu.

Keempat, istilah dewasa ini juga dapat diberi pengertian sebagai “ilmu statistik”. Ilmu statistik tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik.

Dalam kamus ilmiah populer, kata statistik berarti tabel, grafik, daftar informasi, angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistika berarti ilmu pengumpulan, analisis, klasifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi.
Jadi, statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.


Sejarah Perkembangan Statistik


Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika, merupakan konsep baru yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno, Romawi, dan bahkan Eropa dalam Abad Pertengahan. Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang dikembangkan oleh sarjana Muslim, namun bukan dalam lingkup teori peluang. Begitu dasar-dasar peluang ini di rumuskan, maka dengan cepat bidang telaahan ini berkembang.

Statistika yang relatif sangat muda dibandingkan dengan matematika berkembang dengan sangat cepat terutama dalam dasawarsa lima puluh tahun belakangan ini. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survei maupun eksperimen, dilakukan lebih cermat dan teliti dengan mempergunakan teknik-teknik statistika yang di perkembangkan sesuai dengan kebutuhan. 

Di indonesia sendiri kegiatan dalam bidang penelitian sangat meningkat, baik kegiatan akademik maupun pengambilan keputusan telah memberikan keputusan telah memberikan momentum yang baik untuk pendidikan statistika. Dengan memasyarakatnya berfikir secara ilmiah tidak terlalu berlebihan apa yang dikatakan oleh HLM. G. Welles bahwa setiap hari berfikir statistik akan merupakan keharusan bagi manusia seperti juga membaca dan menulis.


Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika, Dan Statistika


Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, agar dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik, diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain.

Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir “deduktif” dan berpikir “induktif”. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Jadi kempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.

Bahasa merupakan sarana komunikasi, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa. Seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, maka seseorang tidak dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan teratur.

Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan dari penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, proses berpikir itu harus dilakukan dengan dengan cara tertentu. 

Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap valid kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpuln ini disebut logika, dimana logika dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Terdapat bermaca-macam cara penarikan kesimpulan. Di antaranya, penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif dan logika deduktif.

Logika induktif  erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata/khusus menjadi kesimpulan umum. Sedangkan logika deduktif  membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat individual.

Penalaran secara induktif  dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas untuk menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. 

Umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kerbau mempunyai mata, lembu mempunyai mata, harimau mempunyai mata, dan gajah mempunyai mata. Dari kenyataan-kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum bahwa semua binatang mempunyai mata. 

Ada dua keuntungan dari kesimpulan ini. Keuntungan pertama, bersifat ekonomis. Dan keuntungan kedua, adalah dimungkinkannya proses penalaran baik secara induktif maupun cara deduktif. 

Statistika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir induktif tersebut.
Deduksi adalah sebaliknya, cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. 

Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor. Contohnya, semua binatang mampunyai mata (premis mayor), gajah adalah seekor hewan (premis minor), jadi gajah mempunyai mata (kesimpulan). 

Kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif. Matematika juga merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan.


Tujuan Pengumpulan Data Statistik


Tujuan dari pengumpulan data statistik dapat dibagi ke dalam dua golongan besar, yang secara kasar dapat dirumuskan sebagai tujuan kegiatan praktis dan kegiatan keilmuan. 

Dalam bidang statistika, perbedaan yang penting dari kedua kegiatan ini dibentuk oleh kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat alternatif yang sedang di pertimbangkan telah di ketahui, paling tidak secara prinsip, dimana konsekuensi dalam memilih salah satu dari alternatif tersebut dapat di evaluasi berdasarkan serangkaian perkembangan yang akan terjadi. 


Di pihak lain, kegiatan statistika dalam bidang keilmuan di terapkan pada pengambilan suatu keputusan yang konsekuensinya sama sekali belum di ketahui.

Dengan demikian, konsekuensi dalam melakukan kesalahan (yang merupakan pertimbangan penting dalam mengambil suatu kesimpulan) dapat diketahui secara lebih pasti dalam kegiatan praktis dibandingkan dengan kegiatan keilmuan. Walaupun begitu, kegiatan perbedaan ini hanya bersifat relatif dan bukan merupakan suatu perbedaan yang hakiki.


Statistika Dan Cara Berpikir Induktif


Ilmu secara secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah sesuai faktual, di mana konsekuensinya dapat di uji dengan baik dengan jalan mempergunakan panca indera, maupun dengan alat-alat yang membantu pancaindera tersebut. 

Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Kalau kita telaah lebih dalam, pengujian merupakan suatu proses pengumpulan data yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Sekiranya hipotesis itu didukung oleh fakta-fakta empiris maka pernyataan hipotesis tersebut di terima atau disahkan kebenarannya.

Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Umpamanya, jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur sepuluh tahun di sebuah tempat, nilai tinggi rata-rata yang dimaksudkan itu merupakan sebuah kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur sepuluh tahun di tempat itu. 

Jadi dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif. Di pihak lain, penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan mempergunakan deduksi. Kedua penarikan kesimpulan ini tidak sama dan tidak boleh dicampur adukkan. 

Logika deduktif berpaling kepada matematika sebagai sarana penalaran penarikan kesimpulan, sedangkan logika induktif berpaling kepada statistika. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.

Kesimpulan yang ditarik dalam penalaran deduktif adalah benar jika premis-premis yang dipergunakannya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah. Sedangkan dalam penalaran induktif meskipun premis-premisnya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah, maka kesimpulan itu belum tentu benar. 

Pengambilan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang kita hadapi. Dalam hal ini statistika memberikan jalan keluar untuk dapa menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. 

Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yakni makin besar contoh yang diambil, maka makin tinggi pula tingkat ketilitian kesimpulan tersebut. Sebaliknya makin sedikit contoh yang diambil, makin rendah pula tingkat ketelitiannya.

Statistika juga memberikan contoh kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalitas antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. 

Dalam hal ini statistika berfungsi meningkatkan ketelitian pengamatan kita dalam menarik kesimpulan dengan jalan menghindarkan semua yang bersifat kebetulan. Terlepas dari itu semua dalam hal penarikan kesimpulan secara induktif kekeliruan memang tidak bisa dihindarkan.

Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.


Peranan Statistika Dalam Tahap-Tahap Metode Keilmuan


Statistika bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. 

Metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikirannya, tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya. Walaupun begitu, sangat menolong untuk mengenal langkah-langkah yang lazim dipergunakan dalam kegiatan keilmuan yang dapat dirinci sebagai berikut: 
  1. Observasi. ilmuan melakukan observasi mengenai apa yang terjadi, mengumpulkan dan mempelajari fakta yang berhubungan dengan masalah yang sedang di selidikinya. Peranan statistika dalam hal ini, statistika dapat mengemukakan secara terperinci tentang analisis mana yang akan di pakai dalam observasi dan tafsiran apa yang dihasilkan dari observasi tersebut. Tafsiran ini akan menitikberatkan pada tingkat kepercayaan kesimpulan yang ditarik dari berbagai kemungkinan dalam membuat kesalahan.
  2. Hipotesis. untuk menerangkan fakta yang di observasi, dugaan yang sudah ada dirumuskan dalam sebuah hipotesis, atau teori, yang menggambarkan sebuah pola, yang menurut anggapan ditemukan dalam data tersebut. Dalam tahap kedua ini, statistika membantu kita dalam mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, dan menyajikan hasil observasi dalam bentuk yang bisa dipahami dan memudahkan kita dalam mengembangkan hipotesis. Cabang statistika yang berhubungan dalam hal ini dinamakan statistika deskriptif (yang berlainan dengan statistika analitis), yakni cabang statistika yang mencakup berbagai metode dalam merencanakan observasi, analisis, dan penarikan kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah.
  3. Ramalan. Dari hipotesis atau teori dikembangkanlah deduksi. Jika teori yang dikemukakan itu memenuhi syarat deduksi akan merupakan sesuatu pengetahuan baru, yang belum diketahui sebelumnya secara empiris, tetapi dideduksikan dari teori. Nilai dari suatu teori tergantung dari kemampuan ilmuan untuk menghasilkan pengetahuan baru tersebut. Fakta baru ini disebut ramalan, bukan dalam pengertian menuju hari depan, namun menduga apa yang akan terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu.
  4. Pengujian kebenaran. Ilmuan lalu mengumpulkan fakta untuk menguji kebenaran ramalan yang dikembangkan dari teori. Mulai dari tahap ini, keseluruhan tahap-tahap sebelumnya berulang seperti sebuah siklus. Jika teorinya didukung sebuah data, teori tersebut mengalami pengujian dengan lebih berat, dengan jalan membuat ramalan yang lebih spesifik dan mempunyai jangkauan lebih jauh, dimana ramalan ini kebenarannya diuji kembali sampai akhirnya ilmuan tersebut menemukan beberapa penyimpangan yang memerlukan beberapa perubahan dalam teorinya. Sebaliknya, jika dikemukakan bertentangan dengan fakta, ilmuan tersebut menyusun hipotesis baru yang sesuai dengan fakta-fakta yang telah dia kumpulkan. Kemudian hipotesis baru tersebut kembali diuji kebenarannya lewat “langkah perjanjian” seterusnya. Tidak ada kebenaran yang bersifat akhir dalam ilmu. Kegagalan dalam menolak hipotesis akan mempertebal keyakinan kita pada hipotesis tersebut, sebab tak ada dengan proses pengujian berapapun jumlahnya justru membuktikan bahwa hipotesis itu akan selalu benar.
Dalam tahap ini sebuah hipotesis dianggap teruji kebenarannya jika ramalan yang dihasilkan berupa fakta. Kadang-kadang dalam ilmu-ilmu alam, proses pengujian dapat dipercepat dengan jalan melakukan percobaan. Walaupun begitu, sering terjadi bahwa suatu ramalan baru teruji setelah lama menunggu, apakah ramalan itu memang terjadi. 

Misalnya, ramalan tentang kejadian dalam ilmu astronomi atau kejadian medis yang akan menimpa manusia andai kata terjadi malapetaka. Statistika adalah relevan dalam kedua keadaan tersebut karena masalah yang pokok adalah menentukan apakah data yang di observasi itu sesuai dengan ramalan atau tidak.

Dalam kegiatan keilmuan yang sebenarnya, keempat langkah ini jalin-menjalin sedemikian eratnya, sehingga sukar untuk menggambarkan perkembangan suatu penyelidikan keilmuan dengan skema kita yang kaku tersebut. 

Untuk mengetahui fakta apa yang harus dikumpulkan, seseorang harus mempunyai hipotesis tentang fakta apa yang ada hubungannya dengan masalah yang sedang di telaah. Hipotesis semacam ini didasarkan pada pengetahuan yang bersifat empiris, demikian seterusnya. Walaupun begitu, keempat tahap ini sangat membantu dalam memfokuskan diskusi tentang metode keilmuan.

Statistik Dalam Filsafat Ilmu

statistik-dalam-filsafat-ilmu

Statistik Dalam Filsafat Ilmu


Pengertian Statistik 


Pada mulanya kata “statistik” diartikan sebagai “kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu negara”. Namun pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif) saja.

Ditinjau dari segi terminologi, dewasa ini istilah statistik terkandung berbagai macam pengertian :

Pertama, istilah statistik kadang diberi pengertian sebagai data statistik, yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan.
Kedua, sebagai kegiatan statistik atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan.

Ketiga, kadang juga dimaksudkan sebagai metode statistik, yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan, menganalisis, dan memberikan interprestasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat berbicara atau dapat memberikan makna tertentu.

Keempat, istilah dewasa ini juga dapat diberi pengertian sebagai “ilmu statistik”. Ilmu statistik tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik.

Dalam kamus ilmiah populer, kata statistik berarti tabel, grafik, daftar informasi, angka-angka, informasi. Sedangkan kata statistika berarti ilmu pengumpulan, analisis, klasifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi.
Jadi, statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.


Sejarah Perkembangan Statistik


Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika, merupakan konsep baru yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno, Romawi, dan bahkan Eropa dalam Abad Pertengahan. Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang dikembangkan oleh sarjana Muslim, namun bukan dalam lingkup teori peluang. Begitu dasar-dasar peluang ini di rumuskan, maka dengan cepat bidang telaahan ini berkembang.

Statistika yang relatif sangat muda dibandingkan dengan matematika berkembang dengan sangat cepat terutama dalam dasawarsa lima puluh tahun belakangan ini. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survei maupun eksperimen, dilakukan lebih cermat dan teliti dengan mempergunakan teknik-teknik statistika yang di perkembangkan sesuai dengan kebutuhan. 

Di indonesia sendiri kegiatan dalam bidang penelitian sangat meningkat, baik kegiatan akademik maupun pengambilan keputusan telah memberikan keputusan telah memberikan momentum yang baik untuk pendidikan statistika. Dengan memasyarakatnya berfikir secara ilmiah tidak terlalu berlebihan apa yang dikatakan oleh HLM. G. Welles bahwa setiap hari berfikir statistik akan merupakan keharusan bagi manusia seperti juga membaca dan menulis.


Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika, Dan Statistika


Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, agar dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik, diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berfikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain.

Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir “deduktif” dan berpikir “induktif”. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Jadi kempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.

Bahasa merupakan sarana komunikasi, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa. Seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, maka seseorang tidak dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan teratur.

Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan dari penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, proses berpikir itu harus dilakukan dengan dengan cara tertentu. 

Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap valid kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpuln ini disebut logika, dimana logika dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Terdapat bermaca-macam cara penarikan kesimpulan. Di antaranya, penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif dan logika deduktif.

Logika induktif  erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata/khusus menjadi kesimpulan umum. Sedangkan logika deduktif  membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat individual.

Penalaran secara induktif  dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas untuk menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. 

Umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kerbau mempunyai mata, lembu mempunyai mata, harimau mempunyai mata, dan gajah mempunyai mata. Dari kenyataan-kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum bahwa semua binatang mempunyai mata. 

Ada dua keuntungan dari kesimpulan ini. Keuntungan pertama, bersifat ekonomis. Dan keuntungan kedua, adalah dimungkinkannya proses penalaran baik secara induktif maupun cara deduktif. 

Statistika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir induktif tersebut.
Deduksi adalah sebaliknya, cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. 

Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor. Contohnya, semua binatang mampunyai mata (premis mayor), gajah adalah seekor hewan (premis minor), jadi gajah mempunyai mata (kesimpulan). 

Kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif. Matematika juga merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan.


Tujuan Pengumpulan Data Statistik


Tujuan dari pengumpulan data statistik dapat dibagi ke dalam dua golongan besar, yang secara kasar dapat dirumuskan sebagai tujuan kegiatan praktis dan kegiatan keilmuan. 

Dalam bidang statistika, perbedaan yang penting dari kedua kegiatan ini dibentuk oleh kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat alternatif yang sedang di pertimbangkan telah di ketahui, paling tidak secara prinsip, dimana konsekuensi dalam memilih salah satu dari alternatif tersebut dapat di evaluasi berdasarkan serangkaian perkembangan yang akan terjadi. 


Di pihak lain, kegiatan statistika dalam bidang keilmuan di terapkan pada pengambilan suatu keputusan yang konsekuensinya sama sekali belum di ketahui.

Dengan demikian, konsekuensi dalam melakukan kesalahan (yang merupakan pertimbangan penting dalam mengambil suatu kesimpulan) dapat diketahui secara lebih pasti dalam kegiatan praktis dibandingkan dengan kegiatan keilmuan. Walaupun begitu, kegiatan perbedaan ini hanya bersifat relatif dan bukan merupakan suatu perbedaan yang hakiki.


Statistika Dan Cara Berpikir Induktif


Ilmu secara secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah sesuai faktual, di mana konsekuensinya dapat di uji dengan baik dengan jalan mempergunakan panca indera, maupun dengan alat-alat yang membantu pancaindera tersebut. 

Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. Kalau kita telaah lebih dalam, pengujian merupakan suatu proses pengumpulan data yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Sekiranya hipotesis itu didukung oleh fakta-fakta empiris maka pernyataan hipotesis tersebut di terima atau disahkan kebenarannya.

Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Umpamanya, jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur sepuluh tahun di sebuah tempat, nilai tinggi rata-rata yang dimaksudkan itu merupakan sebuah kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur sepuluh tahun di tempat itu. 

Jadi dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif. Di pihak lain, penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan mempergunakan deduksi. Kedua penarikan kesimpulan ini tidak sama dan tidak boleh dicampur adukkan. 

Logika deduktif berpaling kepada matematika sebagai sarana penalaran penarikan kesimpulan, sedangkan logika induktif berpaling kepada statistika. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.

Kesimpulan yang ditarik dalam penalaran deduktif adalah benar jika premis-premis yang dipergunakannya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah. Sedangkan dalam penalaran induktif meskipun premis-premisnya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah, maka kesimpulan itu belum tentu benar. 

Pengambilan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang kita hadapi. Dalam hal ini statistika memberikan jalan keluar untuk dapa menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. 

Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yakni makin besar contoh yang diambil, maka makin tinggi pula tingkat ketilitian kesimpulan tersebut. Sebaliknya makin sedikit contoh yang diambil, makin rendah pula tingkat ketelitiannya.

Statistika juga memberikan contoh kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalitas antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. 

Dalam hal ini statistika berfungsi meningkatkan ketelitian pengamatan kita dalam menarik kesimpulan dengan jalan menghindarkan semua yang bersifat kebetulan. Terlepas dari itu semua dalam hal penarikan kesimpulan secara induktif kekeliruan memang tidak bisa dihindarkan.

Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.


Peranan Statistika Dalam Tahap-Tahap Metode Keilmuan


Statistika bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. 

Metode keilmuan, sejauh apa yang menyangkut metode, sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikirannya, tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya. Walaupun begitu, sangat menolong untuk mengenal langkah-langkah yang lazim dipergunakan dalam kegiatan keilmuan yang dapat dirinci sebagai berikut: 
  1. Observasi. ilmuan melakukan observasi mengenai apa yang terjadi, mengumpulkan dan mempelajari fakta yang berhubungan dengan masalah yang sedang di selidikinya. Peranan statistika dalam hal ini, statistika dapat mengemukakan secara terperinci tentang analisis mana yang akan di pakai dalam observasi dan tafsiran apa yang dihasilkan dari observasi tersebut. Tafsiran ini akan menitikberatkan pada tingkat kepercayaan kesimpulan yang ditarik dari berbagai kemungkinan dalam membuat kesalahan.
  2. Hipotesis. untuk menerangkan fakta yang di observasi, dugaan yang sudah ada dirumuskan dalam sebuah hipotesis, atau teori, yang menggambarkan sebuah pola, yang menurut anggapan ditemukan dalam data tersebut. Dalam tahap kedua ini, statistika membantu kita dalam mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, dan menyajikan hasil observasi dalam bentuk yang bisa dipahami dan memudahkan kita dalam mengembangkan hipotesis. Cabang statistika yang berhubungan dalam hal ini dinamakan statistika deskriptif (yang berlainan dengan statistika analitis), yakni cabang statistika yang mencakup berbagai metode dalam merencanakan observasi, analisis, dan penarikan kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah.
  3. Ramalan. Dari hipotesis atau teori dikembangkanlah deduksi. Jika teori yang dikemukakan itu memenuhi syarat deduksi akan merupakan sesuatu pengetahuan baru, yang belum diketahui sebelumnya secara empiris, tetapi dideduksikan dari teori. Nilai dari suatu teori tergantung dari kemampuan ilmuan untuk menghasilkan pengetahuan baru tersebut. Fakta baru ini disebut ramalan, bukan dalam pengertian menuju hari depan, namun menduga apa yang akan terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu.
  4. Pengujian kebenaran. Ilmuan lalu mengumpulkan fakta untuk menguji kebenaran ramalan yang dikembangkan dari teori. Mulai dari tahap ini, keseluruhan tahap-tahap sebelumnya berulang seperti sebuah siklus. Jika teorinya didukung sebuah data, teori tersebut mengalami pengujian dengan lebih berat, dengan jalan membuat ramalan yang lebih spesifik dan mempunyai jangkauan lebih jauh, dimana ramalan ini kebenarannya diuji kembali sampai akhirnya ilmuan tersebut menemukan beberapa penyimpangan yang memerlukan beberapa perubahan dalam teorinya. Sebaliknya, jika dikemukakan bertentangan dengan fakta, ilmuan tersebut menyusun hipotesis baru yang sesuai dengan fakta-fakta yang telah dia kumpulkan. Kemudian hipotesis baru tersebut kembali diuji kebenarannya lewat “langkah perjanjian” seterusnya. Tidak ada kebenaran yang bersifat akhir dalam ilmu. Kegagalan dalam menolak hipotesis akan mempertebal keyakinan kita pada hipotesis tersebut, sebab tak ada dengan proses pengujian berapapun jumlahnya justru membuktikan bahwa hipotesis itu akan selalu benar.
Dalam tahap ini sebuah hipotesis dianggap teruji kebenarannya jika ramalan yang dihasilkan berupa fakta. Kadang-kadang dalam ilmu-ilmu alam, proses pengujian dapat dipercepat dengan jalan melakukan percobaan. Walaupun begitu, sering terjadi bahwa suatu ramalan baru teruji setelah lama menunggu, apakah ramalan itu memang terjadi. 

Misalnya, ramalan tentang kejadian dalam ilmu astronomi atau kejadian medis yang akan menimpa manusia andai kata terjadi malapetaka. Statistika adalah relevan dalam kedua keadaan tersebut karena masalah yang pokok adalah menentukan apakah data yang di observasi itu sesuai dengan ramalan atau tidak.

Dalam kegiatan keilmuan yang sebenarnya, keempat langkah ini jalin-menjalin sedemikian eratnya, sehingga sukar untuk menggambarkan perkembangan suatu penyelidikan keilmuan dengan skema kita yang kaku tersebut. 

Untuk mengetahui fakta apa yang harus dikumpulkan, seseorang harus mempunyai hipotesis tentang fakta apa yang ada hubungannya dengan masalah yang sedang di telaah. Hipotesis semacam ini didasarkan pada pengetahuan yang bersifat empiris, demikian seterusnya. Walaupun begitu, keempat tahap ini sangat membantu dalam memfokuskan diskusi tentang metode keilmuan.

No comments