ilmu kasyaf pdf, ilmu kasyaf mata batin, ilmu kasyaf tingkat tinggi, ilmu kasyaf laduni, ilmu kasyaf menurut islam, ilmu kasyaf nabi khidir, ilmu kasyaf mata, ilmu kasyaf batin, ilmu kasyaf sufi muda, ilmu kasyaf hati, ilmu kasyaf adalah, ayat ilmu kasyaf, apa ilmu kasyaf, ilmu kasyaf dalam islam, ilmu kasyaf dan laduni, doa ilmu kasyaf, dzikir ilmu kasyaf, ilmu kasyaf hissi, hakikat ilmu kasyaf, maksud ilmu kasyaf, makna ilmu kasyaf, ilmu membuka kasyaf, ilmu hikmah mata khasaf, manfaat ilmu kasyaf, ilmu pembuka kasyaf, ilmu pembuka pintu kasyaf, pengertian ilmu kasyaf, rahasia ilmu kasyaf, tentang ilmu kasyaf

Pengertian Ilmu

 

Asal Kata


Ilmu dalam terminologi bahasa Arab adalah pengetahuan yang mendalam atau pengetahuan hakekat sesuatu. Sedangkan akar katanya ‘alima-ya‘lamu-‘ilman yang artinya pengetahuan, informasi, kognisi, persepsi, pelajaran. Ibn Manzhûr mengartikan ilmu dengan lawan dari kebodohan dan diri sendiri (nafs). 

Ilmu juga dapat diartikan sebagai suatu cabang studi yang berkenaan dengan pengamatan dan pengklasifikasian fakta, dan khususnya dengan penetapan kaidah umum yang bisa diuji. Kata ‘ilmu bisa juga disepadankan dengan kata Arab lainnya, yaitu ma`rifat (pengetahuan), Fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu‘ur (perasan). Sedangkan ma`rifat adalah padanan kata yang sering digunakan. Baca Juga: Ilmu Hikmah (Supranatural dalam pandangan Ulama)

Dalam bahasa Inggris ilmu dipadankan dengan science, bahasa latinnya scientia (pengetahuan)- scire (mengetahui), yang sinonim yang lebih akurat dalam bahasa Yunani adalah episteme

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu secara definitif diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu. 
Ilmu juga didefinisikan sebagai pengetahuan atau kepandaian (tentang soal, akhirat, dunia, lahir, bathin, dan sebagainya), sehingga kata ilmu selalu dirangkaikan dengan sesuatu saeperti ilmu akhirat, ilmu hitam, ilmu akhlak dan lain-lain.

Definisi


Fazlur Rahman mengemukakan bahwa al-Qur`ân sering mengemukakan perkataan ilmu, kata jadianya yang umum, dan pengertiannya sebagai “pengetahuan” melalui belajar, berfikir, pengalaman dan lain sebagainya. Dengan pengertian seperti inilah perkataan ilmu dipergunakan pada zaman Nabi Muhammad saw., tetapi setelah generasi para sahabat, Islam mulai berkembang sebagai sebuah “tradisi.” Ada bukti perkataan ilmu mulai dipergunakan dengan pengertian pengetahuan yang diperoleh melalui belajar terutama sekali dari generasi yang lampau (Nabi, para sahabat dan lain lainnya).

Quraish Shihab ketika menerangkan kata ‘ilm mengartikannya sebagai menjangkau sesuatu sesuai keadaan sebenarnya atau sesuatu pengenalan yang sangat jelas terhadap suatu objek. Karena itu seseorang yang menjangkau sesuatu dengan benaknya tetapi jangkauannya itu masih dibarengi dengan sedikit keraguan, maka ia tidak dapat dinamai mengetahui apa yang dijangkaunya itu. 

Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan bahwa bahasa menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf-huruf ‘ain, lam dan mim dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedimikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. 

Misalnya kata ‘alamât yang berarti tanda yang jelas bagi sesuatu atau nama jalan yang mengantar seseorang menuju tujuan yang pasti. A`lam yang berarti bendera menjadi tanda yang jelas bagi suatu bangsa atau kelompok, atau dapat berarti gunung yang karena ketinggiannya menjadi sedemikian jelas dibandingkan dengan dataran disekelilingnya. Atas dasar itu pula Allah swt. Dinamai `Alim adalah karena pengetahuannya yang amat jelas sehingga terungakap bagi-Nya hal-hal yang paling kecil sekalipun.

Pengertian Kasyaf


Sedangkan term kasyf dalam bahasa Inggris dipadankan dengan unveiling (pembukaan), manifestation (manifestasi). Dalam bahasa Arab istilah ini dapat dibaca dengan fathah fa’nya atau dibaca sukun fa’nya (Kasyaf atau Kasyf), yang tentunya mempunyai makna yang berbeda. 

Dalam Lisan al-Arab, Ibn Manzhur menyebutkan bahwa kasyf (dibaca sukun) berarti terbukanya tirai yang menutupi anda. Sementara itu, al-Jauhari mengartikan kasyafah dengan dibaca berharakat dengan sesuatu yang botak dibagian kepala. 

Berdasarkan dua makna tersebut, maka kasyf adalah sesuatu yang terbuka. Kasyf juga dapat diartikan suatu genus yang dibawahnya ada spesies. Kasyf ini merupakan bagian dari pengetahuan syariah dan pengetahuan tentang alam, seperti melihat Rasulullah saw setelah beliau wafat, bertemu Nabi Hidhir, isra’ mi’raj dan lain sebagaianya.

Kasyf dalam istilah diartikan dengan sebagian karamah bagi orang mukmin yang shaleh yang selalu menjalankan al-Quran, Sunnah tanpa melakukan penyelewengan terhadap ajaran tersebut. Adapula yang mendefinisikan dengan keberadaan tentang terbukanya ruh manusia beriman sehingga mampu mengetahui beberapa hal yang ghaib. Sedangkan Imam al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat mendefiniskan Kasyaf dengan tersingkapnya hijab.

Dalam term tasawuf istilah kasyaf juga didefinisikan dengan tersingkapnya penghalang dari hati dan mata bashirah, seorang sufi setelah mampu menyatu (ittihad) dengan Allah swt, sehingga orang yang kasyf mengetahui sebagian kejadian yang ada di alam atau mampu memahami makna yang baru mengenai isi al-Quran dan Hadits yang dikenal dengan ilmu Haqiqah yang tidak diketahui oleh ulama syariah dan ulama zhahir. 

Imam al-Thusi dalam kitab al-Luma menyebutkan Kasyf sebagai tersikap jelasnya sesuatu yang masih menjadi rahasia dalam memahami sesuatu, sehingga seseorang dibuka tirainya, seakan-akan mampu melihat dengan pandangan mata. Hal ini berkaitan dengan ungkapan Imam Abu Muhammad al-Hariri yang menyatakan “orang yang tidak beramal antara dia dan Allah dengan taqwa dan muraqabah, maka ia tidak akan sampai pada kasyf dan musyahadah. Sementara itu, Imam al-Nuri menyatakan bahwa tersingkapnya mata lahir dengan penglihatan dan tersingkapnya mata batin dengan ittishal.

Berdasarkan term kasyf ini, Ibn Arabi dalam kitab Insya al-Dawa’ir membagi kasyf menjadi beberapa bagian:

Pertama, kasyf ‘Aqli, yaitu sesuatu yang akal mampu menemukan dengan menggunakan pemikiran dan perenungan. 

Kedua, kasyf nafsani, yaitu sesuatu yang terbentuk dalam jiwa imajinatif secara mutlak berdasarkan penggunaan perenungan dengan melalui beberapa riyadhah dan mujahadah setelah terbukan tirai penjelas dan pembeda. 

Ketiga, kasyf ruhani, yaitu setelah terbukanya penutup akal dan nafs (jiwa) dan diperlihatkannya munculnya jiwa rahmani (nafs rahmani). 

Keempat, kasyf rabbani, yaitu dengan jalan tajalli yang perolehannya adakalanya melalui tanazzul atau ta’azruj.

Dalam kitab Futuh al-Makiyyah, Ibn Arabi menjelaskan bahwa kasyf juga dapat digolongkan ke dalam 2 bagian:

Pertama, kasyf al-Haqaiq yaitu yaitu terbuka hakekat yang ditemukan bagian-bagiannya secara akal, dan adakalanya ditemukan dengan wujudnya susunan yang ada seperti adanya langit, alam, manusia dan batu. 

Kedua, kasyf al-Ilmu al-shahih yaitu ilmu yang ditancapkan oleh Allah dalam hati seorang alim. Ilmu ini merupakan nur ilahi yang diberikan kepada yang telah ditentukan oleh Allah seperti malaikat, para rasul, wali, orang-orang mukmin. Oleh karena itu, orang yang tidak mempunyai kasyf maka ia tidak mempunyai ilmu.

Al-Yasyruthiyyah dalam kitab Nafahât al-Ins menyebutkan bahwa kasyf merupakan istilah yang digunakan oleh para wali dalam tiga martabat, yaitu pertama, wali yang kasyf mengenai bentuknya para Nabi. Kedua, wali yang kasyf mengenai ruhnya para Nabi, dan ketiga, yang kasyf mengenai sifat ruhaniyyah Nabi Muhammad saw., yang kemudian, dalam hati mereka terpantri nur tauhid dzati.

Al-Jilli dalam kitab al-Isfar yang merupakan syarh dari karya Ibn Arabi yang berjudul al-Isfar ‘An risalah al-Anwar membedakan antara al-kasyf al-khayyali dan al-kasyf al Hissi

Kasyf khayyali adalah jika seseorang matanya ditutup dan orang tersebut masih mampu membayangkan bentuk seseorang atau perbuatan seseorang. Sedangkan kasyf al-Hissi adalah terbukanya seluruh alam material yang gaib dari aspek kebiasaan karena jauhnya benda tersebut atau tertutupnya. Jika Kasyf ini telah tercapai maka tidak ada yang menghalangi pandangan mata dari semua benda yang hendak dilihat oleh indera.

Ilmu Kasyaf


Ilmu Kasyf menjadi bagian dari kajian dalam tasawuf yang kemudian dikenal dengan term mukasyafah. Mukasyafah adalah terangkatnya hijab yang ada antara ruh jasmani yang tidak mungkin ditemukan dengan panca indera. Mukasyafah terkadang juga digunakan dengan musyahadah.

Imam al-Ghazali mengartikan ilmu mukasyafah dengan ilmu yang membahas mengenai Allah dan sifat-Nya, atau ilmu ini biasanya disebut dengan ilmu ma’rifat. Pembicaraan al-Ghazali mengenai ilmu Mukasyafah ini berkaitan dengan pembagian ilmu yang memberi manfaat di akhirat yaitu menjadi ilmu mu’amalah dan ilmu Mukasyafah. 

Syekh Ihsan al-Jampesi dalam Siraj al-Thalibin mendefinisikan ilmu mukasyafah dengan nur yang nampak dalam dalam hati ketika seseorang sudah membersihkan diri, sehingga akan muncul dalam dirinya makna-makna yang indah. Orang yang sudah membersihkan diri juga akan memperoleh ma’rifah Allah, asma, sifat, kitab, para rasul. Ia juga akan menemukan berbagai rahasia yang tidak dimiliki oleh orang lain. Perolehan ilmu ghaib ini minimal adalah mempercayai dan menyerahkan kepada ahli dibidangnya.

Imam al-Qashthalani menyebutkan jika seseorang tidak memiliki ilmu kasyf dikhawatirkan akan meninggal dalam keadaan su’ul khatimah (akhir yang tidak baik). Ilmu mukasyafah merupakan ilmu yang tertulis dalam kitab dan keadaanya menjadi misteri. Sebab ilmu ini adalah ilmu dzauqiyah kasyfiyah yang hanya difahami melalu musyahadah bukan melalui dalil ataupun logika demonstrative. 

Adapula yang mendefinisikan mukasyafah dengan suatu tahapan dalam tasawuf untuk mencapai makrifat. Tahapan tersebut adalah muhadlarat, mukasyafat dan dilanjutkan dengan musyahadah.

Muhadlarah adalah hadirnya hati yang terkadang dapat diperoleh dengan menggunakan demonstrative (burhan). Setelah itu, muncul mukasyafah yang merupakan
Ilmu mukasyafah tidak dibukukan karena khawatir akan jatuh kepada orang yang bukan ahlinya justru akan menyebabkan kerusakan bagi pemiliknya. Ilmu hanya dipelajari melalui mudzakarah (diskusi) dan melalui jalan yang rahasia.

Ilmu mukasyafah jika dilihat dari aspek hadits maka menjadi bagian dari Isyarat hadits Nabi saw diungkapkan bahwa sebagian ilmu adalah bagaikan mutiara yang tidak dikenal kecuali oleh ahli ma’rifat kepada Allah. Jika hal itu dibicarakan secara jelas maka orang bodoh akan terbujuk.

Macam-macam mukasyafah


Dalam al-Luma’ disebutkan bahwa mukasyafah dapat dibagi menjadi beberapa macam. Pertama, mukasyafah penglihatan dengan mata pada hari kiamat, mukasyafah hati dengan memahami hakekah iman dengan pandangan keyakinan tanpa cara dan batasan, ketiga mukasyafah ayat al-Quran dengan cara mu’jizat, karamat dan ijabat.

Aspek-aspek ilmu mukasyafah


Aspek untuk mendapatkan kasyf adalah; pertama, Tauhid sebagai rahasia utama. Tauhid merupakan aspek utama ilmu mukasyafah. Dalam tauhid yang menjadi catatan adalah tauhid yang dipegang oleh Ulama ahl Sunnah wa al-Jamaah. Orang yang tidak mengikuti tauhid ahli Sunnah wa al-Jamaah maka secara otomatis tidak mampu memperoleh ilmu Kasyf. Hal ini berkaitan dengen kepercayaan mengenai adanya tasawuf yang benar dan lurus.

Dalam perspektif keislaman di Nusantara, ilmu kasyf merupakan salah satu ilmu yang menjadi tujuan dalam pencarian hakekat kebenaran. Mereka ada yang melakukannya dengan menggunakan metode tertentu seperti melakukan ritual puasa dalam waktu tertentu disertai dengan melakukan wirid tertentu. Adapula yang mereka lakukan dengan mempercaryai mendapatkannya dengan langsung pemberian Allah swt.

Tokoh-tokoh besar di kalangan pesantren hampir semuanya mempunyai kasyf. Hal ini dibuktikan dengan beberapa cerita yang tersebar di kalangan masyarakat Indonesia. Selain itu, mereka juga menjadi rujukan dalam menyelesaikan masalah terutama dengan permasalahan yang tidak dapat diselesaikan oleh masyarakat dengan cara meminta pandangan dari ulama yang dianggap mempunyai kasyf.

[Masyhar]

Sumber Bacaan

Muhammad Ali al-Tahanawi, Kasysyaf Ishtilahat al-Funun wa al-Ulum, Beirut: Maktabah Lubnan, 1996 Muhammmad Ibn Hamid al-Ghazali, Ihya al-Ulum al-Din, Abu Nashr al-Thusi, al-Luma fi tasawuf
Imam al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyah
Ibn Arab, Futuh al-Makiiyah
Ibn Arabi, al-Isfar
Al-Jilli, al-Insan al-Kamil
Ibn Qayyim, Madarij al-Salikin

Ilmu Kasyaf (Menyingkap Tabir): Ilmunya Para Orang Sholih


ilmu kasyaf pdf, ilmu kasyaf mata batin, ilmu kasyaf tingkat tinggi, ilmu kasyaf laduni, ilmu kasyaf menurut islam, ilmu kasyaf nabi khidir, ilmu kasyaf mata, ilmu kasyaf batin, ilmu kasyaf sufi muda, ilmu kasyaf hati, ilmu kasyaf adalah, ayat ilmu kasyaf, apa ilmu kasyaf, ilmu kasyaf dalam islam, ilmu kasyaf dan laduni, doa ilmu kasyaf, dzikir ilmu kasyaf, ilmu kasyaf hissi, hakikat ilmu kasyaf, maksud ilmu kasyaf, makna ilmu kasyaf, ilmu membuka kasyaf, ilmu hikmah mata khasaf, manfaat ilmu kasyaf, ilmu pembuka kasyaf, ilmu pembuka pintu kasyaf, pengertian ilmu kasyaf, rahasia ilmu kasyaf, tentang ilmu kasyaf

Pengertian Ilmu

 

Asal Kata


Ilmu dalam terminologi bahasa Arab adalah pengetahuan yang mendalam atau pengetahuan hakekat sesuatu. Sedangkan akar katanya ‘alima-ya‘lamu-‘ilman yang artinya pengetahuan, informasi, kognisi, persepsi, pelajaran. Ibn Manzhûr mengartikan ilmu dengan lawan dari kebodohan dan diri sendiri (nafs). 

Ilmu juga dapat diartikan sebagai suatu cabang studi yang berkenaan dengan pengamatan dan pengklasifikasian fakta, dan khususnya dengan penetapan kaidah umum yang bisa diuji. Kata ‘ilmu bisa juga disepadankan dengan kata Arab lainnya, yaitu ma`rifat (pengetahuan), Fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu‘ur (perasan). Sedangkan ma`rifat adalah padanan kata yang sering digunakan. Baca Juga: Ilmu Hikmah (Supranatural dalam pandangan Ulama)

Dalam bahasa Inggris ilmu dipadankan dengan science, bahasa latinnya scientia (pengetahuan)- scire (mengetahui), yang sinonim yang lebih akurat dalam bahasa Yunani adalah episteme

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu secara definitif diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu. 
Ilmu juga didefinisikan sebagai pengetahuan atau kepandaian (tentang soal, akhirat, dunia, lahir, bathin, dan sebagainya), sehingga kata ilmu selalu dirangkaikan dengan sesuatu saeperti ilmu akhirat, ilmu hitam, ilmu akhlak dan lain-lain.

Definisi


Fazlur Rahman mengemukakan bahwa al-Qur`ân sering mengemukakan perkataan ilmu, kata jadianya yang umum, dan pengertiannya sebagai “pengetahuan” melalui belajar, berfikir, pengalaman dan lain sebagainya. Dengan pengertian seperti inilah perkataan ilmu dipergunakan pada zaman Nabi Muhammad saw., tetapi setelah generasi para sahabat, Islam mulai berkembang sebagai sebuah “tradisi.” Ada bukti perkataan ilmu mulai dipergunakan dengan pengertian pengetahuan yang diperoleh melalui belajar terutama sekali dari generasi yang lampau (Nabi, para sahabat dan lain lainnya).

Quraish Shihab ketika menerangkan kata ‘ilm mengartikannya sebagai menjangkau sesuatu sesuai keadaan sebenarnya atau sesuatu pengenalan yang sangat jelas terhadap suatu objek. Karena itu seseorang yang menjangkau sesuatu dengan benaknya tetapi jangkauannya itu masih dibarengi dengan sedikit keraguan, maka ia tidak dapat dinamai mengetahui apa yang dijangkaunya itu. 

Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan bahwa bahasa menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf-huruf ‘ain, lam dan mim dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedimikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. 

Misalnya kata ‘alamât yang berarti tanda yang jelas bagi sesuatu atau nama jalan yang mengantar seseorang menuju tujuan yang pasti. A`lam yang berarti bendera menjadi tanda yang jelas bagi suatu bangsa atau kelompok, atau dapat berarti gunung yang karena ketinggiannya menjadi sedemikian jelas dibandingkan dengan dataran disekelilingnya. Atas dasar itu pula Allah swt. Dinamai `Alim adalah karena pengetahuannya yang amat jelas sehingga terungakap bagi-Nya hal-hal yang paling kecil sekalipun.

Pengertian Kasyaf


Sedangkan term kasyf dalam bahasa Inggris dipadankan dengan unveiling (pembukaan), manifestation (manifestasi). Dalam bahasa Arab istilah ini dapat dibaca dengan fathah fa’nya atau dibaca sukun fa’nya (Kasyaf atau Kasyf), yang tentunya mempunyai makna yang berbeda. 

Dalam Lisan al-Arab, Ibn Manzhur menyebutkan bahwa kasyf (dibaca sukun) berarti terbukanya tirai yang menutupi anda. Sementara itu, al-Jauhari mengartikan kasyafah dengan dibaca berharakat dengan sesuatu yang botak dibagian kepala. 

Berdasarkan dua makna tersebut, maka kasyf adalah sesuatu yang terbuka. Kasyf juga dapat diartikan suatu genus yang dibawahnya ada spesies. Kasyf ini merupakan bagian dari pengetahuan syariah dan pengetahuan tentang alam, seperti melihat Rasulullah saw setelah beliau wafat, bertemu Nabi Hidhir, isra’ mi’raj dan lain sebagaianya.

Kasyf dalam istilah diartikan dengan sebagian karamah bagi orang mukmin yang shaleh yang selalu menjalankan al-Quran, Sunnah tanpa melakukan penyelewengan terhadap ajaran tersebut. Adapula yang mendefinisikan dengan keberadaan tentang terbukanya ruh manusia beriman sehingga mampu mengetahui beberapa hal yang ghaib. Sedangkan Imam al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat mendefiniskan Kasyaf dengan tersingkapnya hijab.

Dalam term tasawuf istilah kasyaf juga didefinisikan dengan tersingkapnya penghalang dari hati dan mata bashirah, seorang sufi setelah mampu menyatu (ittihad) dengan Allah swt, sehingga orang yang kasyf mengetahui sebagian kejadian yang ada di alam atau mampu memahami makna yang baru mengenai isi al-Quran dan Hadits yang dikenal dengan ilmu Haqiqah yang tidak diketahui oleh ulama syariah dan ulama zhahir. 

Imam al-Thusi dalam kitab al-Luma menyebutkan Kasyf sebagai tersikap jelasnya sesuatu yang masih menjadi rahasia dalam memahami sesuatu, sehingga seseorang dibuka tirainya, seakan-akan mampu melihat dengan pandangan mata. Hal ini berkaitan dengan ungkapan Imam Abu Muhammad al-Hariri yang menyatakan “orang yang tidak beramal antara dia dan Allah dengan taqwa dan muraqabah, maka ia tidak akan sampai pada kasyf dan musyahadah. Sementara itu, Imam al-Nuri menyatakan bahwa tersingkapnya mata lahir dengan penglihatan dan tersingkapnya mata batin dengan ittishal.

Berdasarkan term kasyf ini, Ibn Arabi dalam kitab Insya al-Dawa’ir membagi kasyf menjadi beberapa bagian:

Pertama, kasyf ‘Aqli, yaitu sesuatu yang akal mampu menemukan dengan menggunakan pemikiran dan perenungan. 

Kedua, kasyf nafsani, yaitu sesuatu yang terbentuk dalam jiwa imajinatif secara mutlak berdasarkan penggunaan perenungan dengan melalui beberapa riyadhah dan mujahadah setelah terbukan tirai penjelas dan pembeda. 

Ketiga, kasyf ruhani, yaitu setelah terbukanya penutup akal dan nafs (jiwa) dan diperlihatkannya munculnya jiwa rahmani (nafs rahmani). 

Keempat, kasyf rabbani, yaitu dengan jalan tajalli yang perolehannya adakalanya melalui tanazzul atau ta’azruj.

Dalam kitab Futuh al-Makiyyah, Ibn Arabi menjelaskan bahwa kasyf juga dapat digolongkan ke dalam 2 bagian:

Pertama, kasyf al-Haqaiq yaitu yaitu terbuka hakekat yang ditemukan bagian-bagiannya secara akal, dan adakalanya ditemukan dengan wujudnya susunan yang ada seperti adanya langit, alam, manusia dan batu. 

Kedua, kasyf al-Ilmu al-shahih yaitu ilmu yang ditancapkan oleh Allah dalam hati seorang alim. Ilmu ini merupakan nur ilahi yang diberikan kepada yang telah ditentukan oleh Allah seperti malaikat, para rasul, wali, orang-orang mukmin. Oleh karena itu, orang yang tidak mempunyai kasyf maka ia tidak mempunyai ilmu.

Al-Yasyruthiyyah dalam kitab Nafahât al-Ins menyebutkan bahwa kasyf merupakan istilah yang digunakan oleh para wali dalam tiga martabat, yaitu pertama, wali yang kasyf mengenai bentuknya para Nabi. Kedua, wali yang kasyf mengenai ruhnya para Nabi, dan ketiga, yang kasyf mengenai sifat ruhaniyyah Nabi Muhammad saw., yang kemudian, dalam hati mereka terpantri nur tauhid dzati.

Al-Jilli dalam kitab al-Isfar yang merupakan syarh dari karya Ibn Arabi yang berjudul al-Isfar ‘An risalah al-Anwar membedakan antara al-kasyf al-khayyali dan al-kasyf al Hissi

Kasyf khayyali adalah jika seseorang matanya ditutup dan orang tersebut masih mampu membayangkan bentuk seseorang atau perbuatan seseorang. Sedangkan kasyf al-Hissi adalah terbukanya seluruh alam material yang gaib dari aspek kebiasaan karena jauhnya benda tersebut atau tertutupnya. Jika Kasyf ini telah tercapai maka tidak ada yang menghalangi pandangan mata dari semua benda yang hendak dilihat oleh indera.

Ilmu Kasyaf


Ilmu Kasyf menjadi bagian dari kajian dalam tasawuf yang kemudian dikenal dengan term mukasyafah. Mukasyafah adalah terangkatnya hijab yang ada antara ruh jasmani yang tidak mungkin ditemukan dengan panca indera. Mukasyafah terkadang juga digunakan dengan musyahadah.

Imam al-Ghazali mengartikan ilmu mukasyafah dengan ilmu yang membahas mengenai Allah dan sifat-Nya, atau ilmu ini biasanya disebut dengan ilmu ma’rifat. Pembicaraan al-Ghazali mengenai ilmu Mukasyafah ini berkaitan dengan pembagian ilmu yang memberi manfaat di akhirat yaitu menjadi ilmu mu’amalah dan ilmu Mukasyafah. 

Syekh Ihsan al-Jampesi dalam Siraj al-Thalibin mendefinisikan ilmu mukasyafah dengan nur yang nampak dalam dalam hati ketika seseorang sudah membersihkan diri, sehingga akan muncul dalam dirinya makna-makna yang indah. Orang yang sudah membersihkan diri juga akan memperoleh ma’rifah Allah, asma, sifat, kitab, para rasul. Ia juga akan menemukan berbagai rahasia yang tidak dimiliki oleh orang lain. Perolehan ilmu ghaib ini minimal adalah mempercayai dan menyerahkan kepada ahli dibidangnya.

Imam al-Qashthalani menyebutkan jika seseorang tidak memiliki ilmu kasyf dikhawatirkan akan meninggal dalam keadaan su’ul khatimah (akhir yang tidak baik). Ilmu mukasyafah merupakan ilmu yang tertulis dalam kitab dan keadaanya menjadi misteri. Sebab ilmu ini adalah ilmu dzauqiyah kasyfiyah yang hanya difahami melalu musyahadah bukan melalui dalil ataupun logika demonstrative. 

Adapula yang mendefinisikan mukasyafah dengan suatu tahapan dalam tasawuf untuk mencapai makrifat. Tahapan tersebut adalah muhadlarat, mukasyafat dan dilanjutkan dengan musyahadah.

Muhadlarah adalah hadirnya hati yang terkadang dapat diperoleh dengan menggunakan demonstrative (burhan). Setelah itu, muncul mukasyafah yang merupakan
Ilmu mukasyafah tidak dibukukan karena khawatir akan jatuh kepada orang yang bukan ahlinya justru akan menyebabkan kerusakan bagi pemiliknya. Ilmu hanya dipelajari melalui mudzakarah (diskusi) dan melalui jalan yang rahasia.

Ilmu mukasyafah jika dilihat dari aspek hadits maka menjadi bagian dari Isyarat hadits Nabi saw diungkapkan bahwa sebagian ilmu adalah bagaikan mutiara yang tidak dikenal kecuali oleh ahli ma’rifat kepada Allah. Jika hal itu dibicarakan secara jelas maka orang bodoh akan terbujuk.

Macam-macam mukasyafah


Dalam al-Luma’ disebutkan bahwa mukasyafah dapat dibagi menjadi beberapa macam. Pertama, mukasyafah penglihatan dengan mata pada hari kiamat, mukasyafah hati dengan memahami hakekah iman dengan pandangan keyakinan tanpa cara dan batasan, ketiga mukasyafah ayat al-Quran dengan cara mu’jizat, karamat dan ijabat.

Aspek-aspek ilmu mukasyafah


Aspek untuk mendapatkan kasyf adalah; pertama, Tauhid sebagai rahasia utama. Tauhid merupakan aspek utama ilmu mukasyafah. Dalam tauhid yang menjadi catatan adalah tauhid yang dipegang oleh Ulama ahl Sunnah wa al-Jamaah. Orang yang tidak mengikuti tauhid ahli Sunnah wa al-Jamaah maka secara otomatis tidak mampu memperoleh ilmu Kasyf. Hal ini berkaitan dengen kepercayaan mengenai adanya tasawuf yang benar dan lurus.

Dalam perspektif keislaman di Nusantara, ilmu kasyf merupakan salah satu ilmu yang menjadi tujuan dalam pencarian hakekat kebenaran. Mereka ada yang melakukannya dengan menggunakan metode tertentu seperti melakukan ritual puasa dalam waktu tertentu disertai dengan melakukan wirid tertentu. Adapula yang mereka lakukan dengan mempercaryai mendapatkannya dengan langsung pemberian Allah swt.

Tokoh-tokoh besar di kalangan pesantren hampir semuanya mempunyai kasyf. Hal ini dibuktikan dengan beberapa cerita yang tersebar di kalangan masyarakat Indonesia. Selain itu, mereka juga menjadi rujukan dalam menyelesaikan masalah terutama dengan permasalahan yang tidak dapat diselesaikan oleh masyarakat dengan cara meminta pandangan dari ulama yang dianggap mempunyai kasyf.

[Masyhar]

Sumber Bacaan

Muhammad Ali al-Tahanawi, Kasysyaf Ishtilahat al-Funun wa al-Ulum, Beirut: Maktabah Lubnan, 1996 Muhammmad Ibn Hamid al-Ghazali, Ihya al-Ulum al-Din, Abu Nashr al-Thusi, al-Luma fi tasawuf
Imam al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyah
Ibn Arab, Futuh al-Makiiyah
Ibn Arabi, al-Isfar
Al-Jilli, al-Insan al-Kamil
Ibn Qayyim, Madarij al-Salikin

No comments