Kata falak berarti lintasan, orbit, madaar al-nujum (lintasan bintang-bintang/ benda-benda langit 1. Dalam al-Qur’an, kata falak ditemukan pada dua tempat, pada QS. Al-Anbiya’ (33) dan Q.S. Yasin (40): “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al-Anbiya’ : 33) “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin : 40).

Pengertian Ilmu Falak


Secara terminologi, definisi ilmu falak, antara lain;
  1. Ilmu Falak didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari benda-benda langit, tentang fisik, gerak, ukuran, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
  2. Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit seperti matahari, bulan, bintang, dan benda-benda langit lainnya, dengan tujuan mengetahui posisi dan kedudukan benda-benda langit lainnya.

Menentukan batasan ilmu falak yang memenuhi kreteria jami’ dan mani’, tentunya tidak dapat dilepaskan dari dua aspek, teori dan praktik. Ilmu falak yang bersifat teoritis (theoretical astronomy) atau ilmu falak ilmy adalah ilmu falak umum, yang didefinisikan sebagai berikut :
“Ilmu Pengetahuan yang mempelajari berbagai keadaan (hal) dan gerakan-gerakan benda-benda langit baik planet- planet (sayyaraat) maupun bintang-bintang (tsawabit)."

Sedangkan yang kedua adalah ilmu falak bersifat praktis (practical astronomy) atau ilmu falak amali yaitu ilmu falak yang mempelajari lintasan/orbit benda-benda langit dengan tujuan dapat diketahui posisi benda langit antara satu dengan yang lainnya sehingga dapat membantu dalam pelaksanan ibadah yang terkait dengan arah dan waktu.

Di kalangan umat Islam, ilmu falak juga dikenaldengansebutanIlmuHisab (Arithmatic), sebab kegiatan yang paling menonjol pada ilmu tersebut adalah melakukan “perhitungan-perhitungan.” gerakan benda-benda langit. Dari perhitungan tersebut didapatkan posisi benda langit, ketinggian, kerendahan, terjadinya waktu malam dan siang, awal waktu sholat, bilangan bulan, tahun, hilal, awal bulan Qamariyah, gerhana dan lain sebagainya.

Obyek dan ruang lingkup pembahasan Ilmu Falak dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu meliputi :
  1. Ilmu falak ilmy, yaitu ilmu yang membahas teori dan konsep benda-benda langit, yang kemudian dikenal sebagai ilmu Astronomi. Obyek dan ruang lingkup pembahasan ilmu falak yang bersifat teori ini secara mendalam tidak dibahas dalam buku ini. Adapun cakupan ilmu Astronomi ini lebih lanjut dapat dilihat pada pembahasan Cabang-Cabang Ilmu Falak.
  2. Ilmu falak amaly yaitu ilmu yang melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi dan kedudukan benda-benda langit antara satu dengan yang lain. Pengetahuan posisi dan kedudukan benda-benda langit tersebut kemudian dikaitkan dengan waktu-waktu pelaksanaan ibadah bagi umat Islam. Ilmu falak inilah yang kemudian dikenal dengan ilmu hisab praktis.

Selanjutnya pembahasan ilmu falak amaly meliputi mempunyai ruang lingkup pembahasan:
  1. Penentuan arah kiblat dan bayangan arah kiblat
  2. Penentuan waktu shalat
  3. Penentuan awal bulan (khususnya bulan Qamariyah)
  4. Penentuan gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan.

 

Cabang-Cabang Ilmu Falak


Kemajuan IPTEK yang semakin pesat menambah berkembangnya obyek materiil penelitian ilmu falak, selanjutnya melahirkan berbagai obyek formal yang menandai makin beragam cabang-cabang ilmu falak. Cabang-cabang ilmu falak, antara lain sebagai berikut:
  1. Astronomi; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit secara umum.
  2. Astrologi; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit yang dihubungkan dengan tujuan mengetahui nasib dan keberuntungan manusia.
  3. Astrofisika; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit dan menerangkan dengan cara, hukum-hukum, alat dan teori ilmu fisika.
  4. Astrometrik;Ilmu yang menekankan pada kegiatan pengukuran terhadap benda-benda langit, dengan tujuan antara lain untuk mengetahui ukurannya dan jarak antara satu benda langit dengan lainnya.
  5. Astromekanik; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit yang menekankan pada gerak dan gaya tarik benda-benda tersebut dengan cara, hukum-hukum dan teori mekanika.
  6. Cosmographi; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan mengetahui data-data dari seluruh benda-benda langit tersebut.
  7. Cosmogoni ; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan untuk mengetahui latar belakang kejadian dan perkembangan selanjutnya.
  8. Cosmologi; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan menekankan pada bentuk, tata himpunan, sifat-sifat dan perluasan benda-benda langit tersebut.

 

Kedudukan dan Hukum Mempelajari Ilmu Falak


Ilmu Falak memiliki kedudukan yang sangat penting dan strategis dalam pelaksanaan ibadah. Ilmu Falak dapat digunakan sebagai sarana mencari dan menetapkan arah kiblat, waktu shalat, waktu berpuasa ramadhan, menunaikan ibadah haji, berhari raya dan lain-lain.

Dalam hadits Rasulullah saw bersabda :
“Pelajarilah keadaan bintang-bintang supaya kamu mendapat petunjuk dalam kegelapan darat dan lautan, lalu berhenti”. (HR. Ibnu Sunni)
“Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang selalu memperhatikan matahari dan bulan untuk mengingat Allah. (HR. Ath-Thabrani)

Allah SWT berfirman QS. Al-Isra’, 78 :

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا [١٧:٧٨]
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al-Isra’, 78).

Ayat Ini menerangkan waktu-waktu shalat yang lima. Saat matahari tergelincir (zawal) untuk waktu shalat Zhuhur dan Ashar, saat gelap malam untuk waktu Magrib dan Isya, kemudian ditambah lagi dengan waktu shalat shubuh.

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا وَأَفْطِرُوا

Berpuasalah kamu karena melihat hilal, dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Bila hilal tertutup debu atasmu maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh”. (H.R. Mutafaq Alaih)

Secara khusus Sayidina Ali bin Abi Thalib ra menyatakan:
“Barang siapa yang mempelajari ilmu tentang bintang-bintang, sedangkan ia dari orang yang sudah memahami al-Qur’an, niscaya bertambahlahiman dan keyakinannya.”

Demikian juga para ulama telah memberikan justivikasi tentang pentingnya dan mulianya ilmu falak, antara lain Syekh al-Ahdhariy pernah menyatakan dalam syairnya 8 :
 “Ketahuilah, bahwasanya ilmu perbintangan adalah ilmu yang mulia tidak terlarang. Oleh karena dengan ilmu itu dapat diketahui waktu umpama fajar, sahur dan jam. Begitulah dengan ilmu itu orang ‘abid dapat membagi waktu ibadahnya”.

Para ulama sepakat bahwa Ilmu falak secara fungsional menjadi wasilah atau lantaran atau alat untuk dapat menjalankan ibadah secara tepat, benar dan sah. Karena keberadaan ilmu falak sebagai wasilah atau alat atau sarana untuk tepat, benar dan sahnya suatu ibadah maka kedudukan hukumnya pun menjadi sepadan dengan hukum ibadah tersebut. 

Sebagaimana dalam sebuah Qaidah fiqhiyah :
مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Sesuatu yang perkara wajib itu bisa sempurna hanya dengannya maka sesuatu itupun menjadi perkara yang wajib pula.”

Kedudukan ilmu falak sangat urgen dalam hukum Islam terutama jika dikaitkan dengan hal keabsahan ibadah, maka mempelajari ilmu falak atau hisab hukumnya wajib.

sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Husain :
Hukum mempelajari ilmu falak adalah wajib bahkan diperintahkan mengetahuinya secara mendalam karena ilmu falak mencakup pengetahuan tentang kiblat dan hal-hal yang berhubungan dengan penanggalan misalnya puasa. Lebih-lebih pada masa sekarang ini karena ketidak tahuan para hakim tentang ilmu falak sikap mempermudah dan kecerobohan mereka sehingga mereka menerima kesaksian hilal seseorang yang seharusnya tidak dapat diterima.

Imam Ibn Hajar al-Haitami berpendapat belajar ilmu hisab, yakni belajar menentukan arah kibat, ketika hendak bepergian di mana sedikit orang yang mengetahui arah kiblat maka hukumnya fardhu ain. Atau pada waktu di rumah atau bepergian yang melintasi banyak negeri (desa) yang di dalamnya terdapat banyak petunjuk sehingga tidak sampai lewat waktu sebelum melintasi satu negeri (desa), atau terdapat banyak orang yang mengetahui sehingga mudah mencari rujukan yang dapat dipercaya sebelum lewat waktu shalat, maka hukumnya fardhu kifayah.

Lebih lanjut Imam Ibnu Hajar mengingatkan peminat ilmu falak/hisab untuk tetap dalam aqidah Islamiyah dan tidak mempercayai ramalan yang memastikan kejadian-kejadian yang akan datang dengan argumentasi bahwa kejadian itu disebabkan karena bertepatan dengan posisi dan gerakan benda-benda langit tertentu, maka orang tersebut telah Fasiq bahkan bisa sampai derajat kekufuran. 

Adapun orang yang berpendapat bahwa posisi dan gerakan benda benda langit tersebut itu dijadikan Allah SWT sebagai tanda-tanda (alamat) akan terjadi suatu peristiwa (kejadian) tertentu, dan itu sebagai adat ilahiyah yang dalam istilah lain dikenal sebagai sunnatullah dan kadang-kadang bisa berubah sesuai dengan kehendak dan kekuasaan Allah SWT., pendapat yang demikian adalah yang dibenarkan oleh syariat Islam. Dalam konteks inilah, secara dini dapat ditetapkan waktu-waktu shalat , arah kiblat, awal bulan Qomariah atau gerhana. Semuanya yang diperhitungkan berdasarkan posisi tempat-tempat di bumi, posisi dan gerakan benda-benda langit, terutama bumi (al-ardl), bulan (al-qomar) dan matahari (al-samsy).



Sejarah Ilmu Falak dalam Islam


Pada awal perkembangan Islam, ilmu falak tidak banyak dikenal, juga belum masyhur di kalangan umat Islam. Rasulullah SAW bersabda “Kami adalah umat yang tidak pandai menulis dan menghitung”. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW sendiri pernah menggunakan pijakan peristiwa Hijriyah, yakni ketika beliau menulis surat kepada kaum Nasrani bani Najran, tertulis ke-5 Hijriyah. Namun di dunia Arab lebih mengenal peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga ada istilah tahun gajah, tahun izin, tahun amar dan tahun zilzal. 

Orang Arab mengenal tahun kelahiran Nabi Muhammad saw sebagai Tahun Gajah karena pada tahun itu terjadi penyerangan tentara dari negeri Habasah (sekarang bernama etiopia) yang mengendarai gajah ingin menghancurkan Ka’bah. Disebut Tahun Izin, tahun diizinkannya hijrah Ke Madinah. Disebut Tahun Amar, tahun diperintahkannya diri dengan menggunakan senjata. Disebut Tahun Zilzal, karena terjadi gonjang-ganjing pada tahun Ke-4 Hijriyyah.

Pada abad III Hijriyah, masa kejayaan daulah Abasiyah, perkembangan ilmu falak mengalami kemajuan yang ditandai dengan proses penerjemahan karya-karya di bidang astronomi ke dalam bahasa Arab. Pada tahun 773 M, terdapat seorang pengembara India menyerahkan sebuah buku data astronomi berjudul Sindhid (Sidhanta) kepada kerajaan Islam di Bagdad. Kemudian oleh kholifah Abu Ja’far al-Manshur (719–775 M) memerintahkan Muhammad Ibn Ibrahim al-Fazari (w.796 M) untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Arab. Atas usaha inilah al-Fazari dikenal sebagai ahli ilmu falak yang pertama di dunia Islam.

Pada masa kholifah al-Makmun, ilmu falak mengalami perkembangan pesat, yaitu sejak al-Makmun mendirikan Observatorium di Sinyar dan Junde Shahfur Bagdad, dengan meninggalkan teori Yunani kuno dan membuat teori sendiri dalam menghitung kulminasi matahari.

Perkembang berikutnya, banyak tokoh dari muslim yang ikut membangun dan mengembangkan Ilmu Falak, antara lain :

Abu Ja’far bin Musa Al-Khawarizmi (780-847 M)


Seorang ketua observatorium al-Makmun, mempelajari karya al-Fazari (Sidhanta), al-Khawarizmi berhasil mengolah sistem penomoran India menjadi dasar operasional ilmu hitung (ilmu hisab). Karya monumental al- Khawarizmi, antara lain: (1) penemuan angka 0 (nol) India, sistem pecahan decimal sebagai kunci terpenting dalam pengembangan ilmu hisab, (2) tabel trigonometri Daftar algoritma, (3) Penemuan kemiringan zodiac sebesar 23,5 º atas ekuator. Kitab al-Khawarizmi yang terkenal Al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah dan Suratul Ardl diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Robert Chester tahun 535 H. dengan judul Liber algebras et almucabala, dan pada tahun 1247 H. diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Frederic Rosen.

Ibn Jabir al-Battany atau Albatenius (858-929 M)


Melakukan penelitian di Observatorium Al-Raqqah, di hulu sungai al-Furat Baghdad. Dia melakukan perhitungan jalan bintang, garis edar dan gerhana, menetapkan garis kemiringan perjalanan matahari, tahun sideris, tahun tropis, musim-musim serta lintasan matahari semu dan sebenarnya, adanya bulan mati, dan fungsi sinus, tangens, cotanges. al-Battany mengkoreksi buku Syntasis Ptolomeus, dengan memperbaiki perhitungan-perhitungan mengenai peredaran bulan dan planet-planet tertentu dalam judul barunya Tabril al-Maghesti, di-samping bukunya sendiri yang berjudul Tamhid al-Musthafa li Ma’na al-Mamar. Buku ini berpengaruh di Barat dan Timur abad modern, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Nallino tahun 1905 M.

Abul Raihan al-Biruni (973 – 1048 M) dari Paris,


Ia sangat termasyhur dalam sejarah pertumbuhan ilmu falak, sehingga beliau diberi gelar al-Ustad fi al-’Ulum (maha guru). Di era keemasan Islam (golden era of Islam), beliau juga dikenal sebagai ahli filsafat, matematika, geografi, dan fisika. Beliau telah membentangkan teori perputaran bumi pada porosnya dan menentukan bujur dan lintang setiap kota di atas bumi dengan teliti. Karya beliau Al-Atsar Baqiyyat min al-Qurun al-Kholiyat, diterjemahkan ke bahasa Inggris The Chronology of Ancient Nations dan kitab Al-Qanun al-Mas’udiy fi al-Haiat wa al-Nujumi yang ditulis pada tahun 421 H. / 1030 M. Menurut Prof. Ahmad Baiquni, al-Biruni adalah orang yang pertama menolak teori geosentris Ptolomeus. Oleh karena itu, al-Baruni dipandang sebagai peletak dasar teori heliosentris.

Muhammad Turghay Ulughbeik (1394-1449 M)


lahir di Salatin, Iskandaria, dan pada tahun 823 H. berhasil membangun observatorium di Samarkad. Jadwal Ulughbeik (zij sulthani), menjadi rujukan pada perkembangan ilmu hisab selanjutnya, terutama di Indonesia. Misalnya, kitab klasik Sullam al-Naiyyirain menggunakan tabel dari Ulughbek.

Karya dan temuan Ulugh Bek (1344-1449) yang berupa Jadwal Ulughbeik yang berupa data astronomi matahari, bumi dan bulan menjadi rujukan perkembangan Ilmu Falak di Indonesia. Pada tahun 1650 M diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh J. Greaves dan Thyde, dan oleh Saddilet disalin dalam bahasa Prancis. Di sisi lain adalah karya Simon New Comb (1835-1909 M), yang berupa jadwal astronomi baru ketika beliau berkantor di Nautical Al Manac Amerika (1857-1861). Kedua jadwal itulah yang mewarnai tipologi ilmu falak di Indonesia. Tipologi ilmu falak klasik diwakili oleh kitab Sullam al-Nayyirain yang memakai data jadwal bersumber pada data Ulugh Beik. 

Sedangkan tipologi hisab modern, sebagaimana yang berkembang dalam wacana ilmu falak dan tehnik hisab, bahwa Almanac Nautica, diklasifikasikan dalam tipologi hisab (hakiki) kontemporer. Pembagian ini berdasarkan pada pembagian sistem hisab yang berkembang di Indonesia yakni hisab hakiki taqribi, hisab hakiki tahkiki dan hisab hakiki kontemporer, sebagaimana hasil seminar nasional sehari Ilmu falak pada tanggal 27 April 1992 di Tugu Bogor Jawa Barat.

Pada dasarnya perkembangan ilmu falak di Indonesia dimulai sejak Raja Mataram II Sultan Agung (1613 – 1645 M) melakukan asismilasi tahun Soko dengan tahun Hijriyah. Yaitu sejak tahun 1043 H / 1633 M yang bertepatan dengan 1555 tahun Soko, dan merubahnya sistem penanggalan Soko dari solar system menjadi lunar system yang kemudian dikenal dengan Penanggalan Jawa.

Perkembangan ilmu falak di Indonesia cukup pesat ditandai dengan banyaknya kitab-kitab falak yang beredar di masyarakat. Pakar ilmu falak, misalnya Noor Ahmad SS. menyusun kitab Syamsul Hilal dan Nurul Anwar, kitab karya ini ditengarai merupakan pengembangan dari kitab al-Khulashatul Wafiyah. Syekh Abdurrahman bin Ahmad al-Misri (mertua Habib Usman) pada tahun (1314 H/1896 M) datang ke Jakarta membawa tabel astronomis Zaij Ulugh Bek (w. 1420 M) dan mengajarkanya kepada para ulama muda di Indonesia waktu itu. 

Di antaranya adalah Ahmad Dahlan as-Simarani atau at-Tarmasi (w. 1329 H/1911 M) beliau berasal dari Semarang, namun kemudian bertempat tinggal di Termas (Pacitan-Jawa Tengah) dan anak menantunya sendiri, yaitu Habib Usman bin Abdillah bin Aqil bin Yahya yang dikenal dengan julukan Mufti Betawi. Ahmad Dahlan as-Simarani mengajarkan ilmu falak di daerah Termas (Pacitan) dengan menyusun buku ilmu falak Tadzkiratul Ikhwan fi ba’dli Tawarikhi wal ‘amalil Falakiyati bi Semarang” yang naskahnya selesai ditulis tanggal 28 Jumadil Akhir 1321 H / 21 September 1903 M.

Kitab Tadzkiratul Ikhwan ini memuat perhitungan ijtima’ dan gerhana dengan mabda’ kota Semarang. Sedangkan Habib Usman mengajarkan ilmu falak di Jakarta, dan tahun 1321 H / 1903 M menyusun buku yang berkaitan dengan ilmu falak Iqadzun Niyam fi Mayata ‘Alaqohu bil Ahillah was Shiyam. Ilmu falak yang diajarkan oleh Habib Usman kemudian dibukukan oleh seorang muridnya, yaitu Muhammad Mansur bin Abdul Hamid Dumairi al-Batawi dalam kitab Sullamun Nayyirain fi Ma’rifati Ijtima’i Kusufain yang pertama kali dicetak tahun 1344 H / 1925 M oleh percetakan Borobudur, Batavia.

Masing-masing metode Ilmu Falak mempunyai pengikut dan pengamal yang secara istiqomah sebagai panduan ibadah. Praktis saat ini masih (terkadang) belum seragam, sebagai dampak adanya perbedaan pemahaman antara beberapa pemahaman yang ada dalam wacana ilmu Falak. Dimana hampir setiap organisasi masyarakat termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyyah selalu juga mengeluarkan “Ketetapannya” yang lain seperti fatwa dan ikhbar.
Kemudian mengenai eksistensi kitab-kitab Ilmu Falak di Indonesia sampai saat ini, nampak masih mewarnai diskursus Ilmu Falak di Indonesia.

Menurut Dr. Bambang Hidayat (2000) perkembangan ilmu astronomi di Indonesia sangat pesat, hal ini nampak dari banyaknya pakar astronomi yang muncul, bahkan juga memiliki perhatian besar terhadap fiqh ilmu falak, seperti Prof. DR. Bambang Hidayat, Prof. Ahmad Baiquni, MSc, PhD, DR. Djoni N. Dawanas, DR. Moedji Raharto dan DR. Thomas jamaluddin.
Baca Juga: Asal Usul Baju Koko
Masyhar

Sumber: Kemenag, Ensiklopedia Islam Nusantara (Jakarta: 2018)

Mengenal Ilmu Falak (Astronomi)


Kata falak berarti lintasan, orbit, madaar al-nujum (lintasan bintang-bintang/ benda-benda langit 1. Dalam al-Qur’an, kata falak ditemukan pada dua tempat, pada QS. Al-Anbiya’ (33) dan Q.S. Yasin (40): “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al-Anbiya’ : 33) “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin : 40).

Pengertian Ilmu Falak


Secara terminologi, definisi ilmu falak, antara lain;
  1. Ilmu Falak didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari benda-benda langit, tentang fisik, gerak, ukuran, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
  2. Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit seperti matahari, bulan, bintang, dan benda-benda langit lainnya, dengan tujuan mengetahui posisi dan kedudukan benda-benda langit lainnya.

Menentukan batasan ilmu falak yang memenuhi kreteria jami’ dan mani’, tentunya tidak dapat dilepaskan dari dua aspek, teori dan praktik. Ilmu falak yang bersifat teoritis (theoretical astronomy) atau ilmu falak ilmy adalah ilmu falak umum, yang didefinisikan sebagai berikut :
“Ilmu Pengetahuan yang mempelajari berbagai keadaan (hal) dan gerakan-gerakan benda-benda langit baik planet- planet (sayyaraat) maupun bintang-bintang (tsawabit)."

Sedangkan yang kedua adalah ilmu falak bersifat praktis (practical astronomy) atau ilmu falak amali yaitu ilmu falak yang mempelajari lintasan/orbit benda-benda langit dengan tujuan dapat diketahui posisi benda langit antara satu dengan yang lainnya sehingga dapat membantu dalam pelaksanan ibadah yang terkait dengan arah dan waktu.

Di kalangan umat Islam, ilmu falak juga dikenaldengansebutanIlmuHisab (Arithmatic), sebab kegiatan yang paling menonjol pada ilmu tersebut adalah melakukan “perhitungan-perhitungan.” gerakan benda-benda langit. Dari perhitungan tersebut didapatkan posisi benda langit, ketinggian, kerendahan, terjadinya waktu malam dan siang, awal waktu sholat, bilangan bulan, tahun, hilal, awal bulan Qamariyah, gerhana dan lain sebagainya.

Obyek dan ruang lingkup pembahasan Ilmu Falak dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu meliputi :
  1. Ilmu falak ilmy, yaitu ilmu yang membahas teori dan konsep benda-benda langit, yang kemudian dikenal sebagai ilmu Astronomi. Obyek dan ruang lingkup pembahasan ilmu falak yang bersifat teori ini secara mendalam tidak dibahas dalam buku ini. Adapun cakupan ilmu Astronomi ini lebih lanjut dapat dilihat pada pembahasan Cabang-Cabang Ilmu Falak.
  2. Ilmu falak amaly yaitu ilmu yang melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi dan kedudukan benda-benda langit antara satu dengan yang lain. Pengetahuan posisi dan kedudukan benda-benda langit tersebut kemudian dikaitkan dengan waktu-waktu pelaksanaan ibadah bagi umat Islam. Ilmu falak inilah yang kemudian dikenal dengan ilmu hisab praktis.

Selanjutnya pembahasan ilmu falak amaly meliputi mempunyai ruang lingkup pembahasan:
  1. Penentuan arah kiblat dan bayangan arah kiblat
  2. Penentuan waktu shalat
  3. Penentuan awal bulan (khususnya bulan Qamariyah)
  4. Penentuan gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan.

 

Cabang-Cabang Ilmu Falak


Kemajuan IPTEK yang semakin pesat menambah berkembangnya obyek materiil penelitian ilmu falak, selanjutnya melahirkan berbagai obyek formal yang menandai makin beragam cabang-cabang ilmu falak. Cabang-cabang ilmu falak, antara lain sebagai berikut:
  1. Astronomi; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit secara umum.
  2. Astrologi; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit yang dihubungkan dengan tujuan mengetahui nasib dan keberuntungan manusia.
  3. Astrofisika; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit dan menerangkan dengan cara, hukum-hukum, alat dan teori ilmu fisika.
  4. Astrometrik;Ilmu yang menekankan pada kegiatan pengukuran terhadap benda-benda langit, dengan tujuan antara lain untuk mengetahui ukurannya dan jarak antara satu benda langit dengan lainnya.
  5. Astromekanik; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit yang menekankan pada gerak dan gaya tarik benda-benda tersebut dengan cara, hukum-hukum dan teori mekanika.
  6. Cosmographi; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan mengetahui data-data dari seluruh benda-benda langit tersebut.
  7. Cosmogoni ; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan untuk mengetahui latar belakang kejadian dan perkembangan selanjutnya.
  8. Cosmologi; Ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan menekankan pada bentuk, tata himpunan, sifat-sifat dan perluasan benda-benda langit tersebut.

 

Kedudukan dan Hukum Mempelajari Ilmu Falak


Ilmu Falak memiliki kedudukan yang sangat penting dan strategis dalam pelaksanaan ibadah. Ilmu Falak dapat digunakan sebagai sarana mencari dan menetapkan arah kiblat, waktu shalat, waktu berpuasa ramadhan, menunaikan ibadah haji, berhari raya dan lain-lain.

Dalam hadits Rasulullah saw bersabda :
“Pelajarilah keadaan bintang-bintang supaya kamu mendapat petunjuk dalam kegelapan darat dan lautan, lalu berhenti”. (HR. Ibnu Sunni)
“Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang selalu memperhatikan matahari dan bulan untuk mengingat Allah. (HR. Ath-Thabrani)

Allah SWT berfirman QS. Al-Isra’, 78 :

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا [١٧:٧٨]
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al-Isra’, 78).

Ayat Ini menerangkan waktu-waktu shalat yang lima. Saat matahari tergelincir (zawal) untuk waktu shalat Zhuhur dan Ashar, saat gelap malam untuk waktu Magrib dan Isya, kemudian ditambah lagi dengan waktu shalat shubuh.

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا وَأَفْطِرُوا

Berpuasalah kamu karena melihat hilal, dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Bila hilal tertutup debu atasmu maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh”. (H.R. Mutafaq Alaih)

Secara khusus Sayidina Ali bin Abi Thalib ra menyatakan:
“Barang siapa yang mempelajari ilmu tentang bintang-bintang, sedangkan ia dari orang yang sudah memahami al-Qur’an, niscaya bertambahlahiman dan keyakinannya.”

Demikian juga para ulama telah memberikan justivikasi tentang pentingnya dan mulianya ilmu falak, antara lain Syekh al-Ahdhariy pernah menyatakan dalam syairnya 8 :
 “Ketahuilah, bahwasanya ilmu perbintangan adalah ilmu yang mulia tidak terlarang. Oleh karena dengan ilmu itu dapat diketahui waktu umpama fajar, sahur dan jam. Begitulah dengan ilmu itu orang ‘abid dapat membagi waktu ibadahnya”.

Para ulama sepakat bahwa Ilmu falak secara fungsional menjadi wasilah atau lantaran atau alat untuk dapat menjalankan ibadah secara tepat, benar dan sah. Karena keberadaan ilmu falak sebagai wasilah atau alat atau sarana untuk tepat, benar dan sahnya suatu ibadah maka kedudukan hukumnya pun menjadi sepadan dengan hukum ibadah tersebut. 

Sebagaimana dalam sebuah Qaidah fiqhiyah :
مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Sesuatu yang perkara wajib itu bisa sempurna hanya dengannya maka sesuatu itupun menjadi perkara yang wajib pula.”

Kedudukan ilmu falak sangat urgen dalam hukum Islam terutama jika dikaitkan dengan hal keabsahan ibadah, maka mempelajari ilmu falak atau hisab hukumnya wajib.

sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Husain :
Hukum mempelajari ilmu falak adalah wajib bahkan diperintahkan mengetahuinya secara mendalam karena ilmu falak mencakup pengetahuan tentang kiblat dan hal-hal yang berhubungan dengan penanggalan misalnya puasa. Lebih-lebih pada masa sekarang ini karena ketidak tahuan para hakim tentang ilmu falak sikap mempermudah dan kecerobohan mereka sehingga mereka menerima kesaksian hilal seseorang yang seharusnya tidak dapat diterima.

Imam Ibn Hajar al-Haitami berpendapat belajar ilmu hisab, yakni belajar menentukan arah kibat, ketika hendak bepergian di mana sedikit orang yang mengetahui arah kiblat maka hukumnya fardhu ain. Atau pada waktu di rumah atau bepergian yang melintasi banyak negeri (desa) yang di dalamnya terdapat banyak petunjuk sehingga tidak sampai lewat waktu sebelum melintasi satu negeri (desa), atau terdapat banyak orang yang mengetahui sehingga mudah mencari rujukan yang dapat dipercaya sebelum lewat waktu shalat, maka hukumnya fardhu kifayah.

Lebih lanjut Imam Ibnu Hajar mengingatkan peminat ilmu falak/hisab untuk tetap dalam aqidah Islamiyah dan tidak mempercayai ramalan yang memastikan kejadian-kejadian yang akan datang dengan argumentasi bahwa kejadian itu disebabkan karena bertepatan dengan posisi dan gerakan benda-benda langit tertentu, maka orang tersebut telah Fasiq bahkan bisa sampai derajat kekufuran. 

Adapun orang yang berpendapat bahwa posisi dan gerakan benda benda langit tersebut itu dijadikan Allah SWT sebagai tanda-tanda (alamat) akan terjadi suatu peristiwa (kejadian) tertentu, dan itu sebagai adat ilahiyah yang dalam istilah lain dikenal sebagai sunnatullah dan kadang-kadang bisa berubah sesuai dengan kehendak dan kekuasaan Allah SWT., pendapat yang demikian adalah yang dibenarkan oleh syariat Islam. Dalam konteks inilah, secara dini dapat ditetapkan waktu-waktu shalat , arah kiblat, awal bulan Qomariah atau gerhana. Semuanya yang diperhitungkan berdasarkan posisi tempat-tempat di bumi, posisi dan gerakan benda-benda langit, terutama bumi (al-ardl), bulan (al-qomar) dan matahari (al-samsy).



Sejarah Ilmu Falak dalam Islam


Pada awal perkembangan Islam, ilmu falak tidak banyak dikenal, juga belum masyhur di kalangan umat Islam. Rasulullah SAW bersabda “Kami adalah umat yang tidak pandai menulis dan menghitung”. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW sendiri pernah menggunakan pijakan peristiwa Hijriyah, yakni ketika beliau menulis surat kepada kaum Nasrani bani Najran, tertulis ke-5 Hijriyah. Namun di dunia Arab lebih mengenal peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga ada istilah tahun gajah, tahun izin, tahun amar dan tahun zilzal. 

Orang Arab mengenal tahun kelahiran Nabi Muhammad saw sebagai Tahun Gajah karena pada tahun itu terjadi penyerangan tentara dari negeri Habasah (sekarang bernama etiopia) yang mengendarai gajah ingin menghancurkan Ka’bah. Disebut Tahun Izin, tahun diizinkannya hijrah Ke Madinah. Disebut Tahun Amar, tahun diperintahkannya diri dengan menggunakan senjata. Disebut Tahun Zilzal, karena terjadi gonjang-ganjing pada tahun Ke-4 Hijriyyah.

Pada abad III Hijriyah, masa kejayaan daulah Abasiyah, perkembangan ilmu falak mengalami kemajuan yang ditandai dengan proses penerjemahan karya-karya di bidang astronomi ke dalam bahasa Arab. Pada tahun 773 M, terdapat seorang pengembara India menyerahkan sebuah buku data astronomi berjudul Sindhid (Sidhanta) kepada kerajaan Islam di Bagdad. Kemudian oleh kholifah Abu Ja’far al-Manshur (719–775 M) memerintahkan Muhammad Ibn Ibrahim al-Fazari (w.796 M) untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Arab. Atas usaha inilah al-Fazari dikenal sebagai ahli ilmu falak yang pertama di dunia Islam.

Pada masa kholifah al-Makmun, ilmu falak mengalami perkembangan pesat, yaitu sejak al-Makmun mendirikan Observatorium di Sinyar dan Junde Shahfur Bagdad, dengan meninggalkan teori Yunani kuno dan membuat teori sendiri dalam menghitung kulminasi matahari.

Perkembang berikutnya, banyak tokoh dari muslim yang ikut membangun dan mengembangkan Ilmu Falak, antara lain :

Abu Ja’far bin Musa Al-Khawarizmi (780-847 M)


Seorang ketua observatorium al-Makmun, mempelajari karya al-Fazari (Sidhanta), al-Khawarizmi berhasil mengolah sistem penomoran India menjadi dasar operasional ilmu hitung (ilmu hisab). Karya monumental al- Khawarizmi, antara lain: (1) penemuan angka 0 (nol) India, sistem pecahan decimal sebagai kunci terpenting dalam pengembangan ilmu hisab, (2) tabel trigonometri Daftar algoritma, (3) Penemuan kemiringan zodiac sebesar 23,5 º atas ekuator. Kitab al-Khawarizmi yang terkenal Al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah dan Suratul Ardl diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Robert Chester tahun 535 H. dengan judul Liber algebras et almucabala, dan pada tahun 1247 H. diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Frederic Rosen.

Ibn Jabir al-Battany atau Albatenius (858-929 M)


Melakukan penelitian di Observatorium Al-Raqqah, di hulu sungai al-Furat Baghdad. Dia melakukan perhitungan jalan bintang, garis edar dan gerhana, menetapkan garis kemiringan perjalanan matahari, tahun sideris, tahun tropis, musim-musim serta lintasan matahari semu dan sebenarnya, adanya bulan mati, dan fungsi sinus, tangens, cotanges. al-Battany mengkoreksi buku Syntasis Ptolomeus, dengan memperbaiki perhitungan-perhitungan mengenai peredaran bulan dan planet-planet tertentu dalam judul barunya Tabril al-Maghesti, di-samping bukunya sendiri yang berjudul Tamhid al-Musthafa li Ma’na al-Mamar. Buku ini berpengaruh di Barat dan Timur abad modern, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Nallino tahun 1905 M.

Abul Raihan al-Biruni (973 – 1048 M) dari Paris,


Ia sangat termasyhur dalam sejarah pertumbuhan ilmu falak, sehingga beliau diberi gelar al-Ustad fi al-’Ulum (maha guru). Di era keemasan Islam (golden era of Islam), beliau juga dikenal sebagai ahli filsafat, matematika, geografi, dan fisika. Beliau telah membentangkan teori perputaran bumi pada porosnya dan menentukan bujur dan lintang setiap kota di atas bumi dengan teliti. Karya beliau Al-Atsar Baqiyyat min al-Qurun al-Kholiyat, diterjemahkan ke bahasa Inggris The Chronology of Ancient Nations dan kitab Al-Qanun al-Mas’udiy fi al-Haiat wa al-Nujumi yang ditulis pada tahun 421 H. / 1030 M. Menurut Prof. Ahmad Baiquni, al-Biruni adalah orang yang pertama menolak teori geosentris Ptolomeus. Oleh karena itu, al-Baruni dipandang sebagai peletak dasar teori heliosentris.

Muhammad Turghay Ulughbeik (1394-1449 M)


lahir di Salatin, Iskandaria, dan pada tahun 823 H. berhasil membangun observatorium di Samarkad. Jadwal Ulughbeik (zij sulthani), menjadi rujukan pada perkembangan ilmu hisab selanjutnya, terutama di Indonesia. Misalnya, kitab klasik Sullam al-Naiyyirain menggunakan tabel dari Ulughbek.

Karya dan temuan Ulugh Bek (1344-1449) yang berupa Jadwal Ulughbeik yang berupa data astronomi matahari, bumi dan bulan menjadi rujukan perkembangan Ilmu Falak di Indonesia. Pada tahun 1650 M diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh J. Greaves dan Thyde, dan oleh Saddilet disalin dalam bahasa Prancis. Di sisi lain adalah karya Simon New Comb (1835-1909 M), yang berupa jadwal astronomi baru ketika beliau berkantor di Nautical Al Manac Amerika (1857-1861). Kedua jadwal itulah yang mewarnai tipologi ilmu falak di Indonesia. Tipologi ilmu falak klasik diwakili oleh kitab Sullam al-Nayyirain yang memakai data jadwal bersumber pada data Ulugh Beik. 

Sedangkan tipologi hisab modern, sebagaimana yang berkembang dalam wacana ilmu falak dan tehnik hisab, bahwa Almanac Nautica, diklasifikasikan dalam tipologi hisab (hakiki) kontemporer. Pembagian ini berdasarkan pada pembagian sistem hisab yang berkembang di Indonesia yakni hisab hakiki taqribi, hisab hakiki tahkiki dan hisab hakiki kontemporer, sebagaimana hasil seminar nasional sehari Ilmu falak pada tanggal 27 April 1992 di Tugu Bogor Jawa Barat.

Pada dasarnya perkembangan ilmu falak di Indonesia dimulai sejak Raja Mataram II Sultan Agung (1613 – 1645 M) melakukan asismilasi tahun Soko dengan tahun Hijriyah. Yaitu sejak tahun 1043 H / 1633 M yang bertepatan dengan 1555 tahun Soko, dan merubahnya sistem penanggalan Soko dari solar system menjadi lunar system yang kemudian dikenal dengan Penanggalan Jawa.

Perkembangan ilmu falak di Indonesia cukup pesat ditandai dengan banyaknya kitab-kitab falak yang beredar di masyarakat. Pakar ilmu falak, misalnya Noor Ahmad SS. menyusun kitab Syamsul Hilal dan Nurul Anwar, kitab karya ini ditengarai merupakan pengembangan dari kitab al-Khulashatul Wafiyah. Syekh Abdurrahman bin Ahmad al-Misri (mertua Habib Usman) pada tahun (1314 H/1896 M) datang ke Jakarta membawa tabel astronomis Zaij Ulugh Bek (w. 1420 M) dan mengajarkanya kepada para ulama muda di Indonesia waktu itu. 

Di antaranya adalah Ahmad Dahlan as-Simarani atau at-Tarmasi (w. 1329 H/1911 M) beliau berasal dari Semarang, namun kemudian bertempat tinggal di Termas (Pacitan-Jawa Tengah) dan anak menantunya sendiri, yaitu Habib Usman bin Abdillah bin Aqil bin Yahya yang dikenal dengan julukan Mufti Betawi. Ahmad Dahlan as-Simarani mengajarkan ilmu falak di daerah Termas (Pacitan) dengan menyusun buku ilmu falak Tadzkiratul Ikhwan fi ba’dli Tawarikhi wal ‘amalil Falakiyati bi Semarang” yang naskahnya selesai ditulis tanggal 28 Jumadil Akhir 1321 H / 21 September 1903 M.

Kitab Tadzkiratul Ikhwan ini memuat perhitungan ijtima’ dan gerhana dengan mabda’ kota Semarang. Sedangkan Habib Usman mengajarkan ilmu falak di Jakarta, dan tahun 1321 H / 1903 M menyusun buku yang berkaitan dengan ilmu falak Iqadzun Niyam fi Mayata ‘Alaqohu bil Ahillah was Shiyam. Ilmu falak yang diajarkan oleh Habib Usman kemudian dibukukan oleh seorang muridnya, yaitu Muhammad Mansur bin Abdul Hamid Dumairi al-Batawi dalam kitab Sullamun Nayyirain fi Ma’rifati Ijtima’i Kusufain yang pertama kali dicetak tahun 1344 H / 1925 M oleh percetakan Borobudur, Batavia.

Masing-masing metode Ilmu Falak mempunyai pengikut dan pengamal yang secara istiqomah sebagai panduan ibadah. Praktis saat ini masih (terkadang) belum seragam, sebagai dampak adanya perbedaan pemahaman antara beberapa pemahaman yang ada dalam wacana ilmu Falak. Dimana hampir setiap organisasi masyarakat termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyyah selalu juga mengeluarkan “Ketetapannya” yang lain seperti fatwa dan ikhbar.
Kemudian mengenai eksistensi kitab-kitab Ilmu Falak di Indonesia sampai saat ini, nampak masih mewarnai diskursus Ilmu Falak di Indonesia.

Menurut Dr. Bambang Hidayat (2000) perkembangan ilmu astronomi di Indonesia sangat pesat, hal ini nampak dari banyaknya pakar astronomi yang muncul, bahkan juga memiliki perhatian besar terhadap fiqh ilmu falak, seperti Prof. DR. Bambang Hidayat, Prof. Ahmad Baiquni, MSc, PhD, DR. Djoni N. Dawanas, DR. Moedji Raharto dan DR. Thomas jamaluddin.
Baca Juga: Asal Usul Baju Koko
Masyhar

Sumber: Kemenag, Ensiklopedia Islam Nusantara (Jakarta: 2018)

No comments