ilmu firasat wajah, ilmu firasat batin, ilmu firasat dalam islam, ilmu firasat tubuh, amalan ilmu firasat, belajar ilmu firasat, definisi ilmu firasat, ilmu firasat sumber isyarat, kelebihan ilmu firasat, kitab ilmu firasat, mempelajari ilmu firasat, pengertian ilmu firasat, sejarah ilmu firasat

Dalam sebuah episode Mata Najwa di trans7 yang berjudul Gus Mus dan Negeri Teka Teki, Gus Mus sempat menyinggung ilmu firasat yang dulu pernah di pelajarinya. Menarik untuk di cari lebih lanjut, apa dan bagaimana ilmu firasat itu. Ilmu membahas mengenai ciri khas dan perilaku manusia berdasarkan perangai yang ada di dalam muka seseorang.

Pengertian Ilmu Firasat

Firasat secara bahasa adalah mempunyai arti memastikan dan mempertimbangkan. Adapula yang mengartikan firasat dengan ilmu yang hanya Allah-lah mengetahui.

Dalam kamus bahasa Indonesia firasat diartikan dengan:

1. keadaan yang dirasakan (diketahui) akan terjadi sesudah melihat gelagat: rupanya dia sudah mendapat -firasat- bahwa tidak lama lagi polisi akan membekuknya;

2. kecakapan mengetahui (meramalkan) sesuatu dengan melihat keadaan (muka dan sebagainya): menurut -firasat- ku, ia adalah orang yang bijaksana; 

3. pengetahuan tentang tanda-tanda pada badan (tangan dan sebagainya) untuk mengetahui tabiat (untung malang dan sebagainya) orang: setengah orang percaya benar kepada ilmu -firasat-; 

4. keadaan muka (mata, bibir, dan sebagainya) yang dihubung-hubungkan dengan tabiat orangnya (untuk mengetahui tabiat orang): menilik -firasat- nya orang itu keras hati sebab rambutnya tebal dan kaku.

Para ahli berbeda pendapat mengenai firasat ini. akan tetapi perbedaan tersebut mempunyai satu pengertian yang sama yaitu, prasangka yang benar yang didasarkan atas fenomena zahir untuk memahami fenomena batin. 

Pemahaman fenomena ini bukan didasarkan dari petunjuk syetan. akan tetapi, menggunakan kerangka dan metode ‘ilmiah’  (artinya: firasat merupakan ilmu, bukan yang lain). Firasat sebagai bagian dari ilmu tidak dapat difahami oleh setiap manusia, akan tetapi hanya bagi hamba Allah yang suci yang mampu mendaki pendakian ilmu tersebut. Jika dibandingkan dengan kedokteran, maka ilmu kedokteran juga tidak dapat difahami oleh setiap orang, kecuali hanya oleh orang yang mengkaji khusus mengenai kedokteran.

Ibn Atsir mengartikan firasat dengan dua arti yaitu: 

Pertama, pemahaman yang didasarkan suatu hadits “takutlah atas firasat orang mukmin. Sebab diperoleh dari cahaya Allah.”(ittaq├╗ firasat al-mu’min fa innahu yanzhuru bi nur Allah). Artinya, bahwa firasat orang mukmin yang menjadi kekasih Allah adalah benar. Sebab hal itu merupakan bagian dari karomah yang diberikan Allah kepada hambanya yang dicintai.

Kedua, semacam kemampuan seseorang yang mampu membaca sifat, akhlak dan lainnya orang lain melalui petunjuk, percobaan dan lain sebagainya. Akan tetapi hal ini yang memperolehnya adalah tetap yang bersih hatinya dan merupakan salah satu karamah Allah swt.

Salah satu contoh tokoh yang dijadikan prototype seperti ini adalah nabi Khidir as yang berperilaku aneh di depan Nabi Musa as. (QS: al-Kahfi: 65)

Al-Zabidi mengartikan firasah dengan "tawassum". Firasat menurut al-Harawi (396-481 H) dalam Manazil al-Sairin dinyatakan bahwa fisarat merupakan suatu ilmu yang disandarkan dalam surat al-Hijr ayat 75 yang artinya: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda".

Dalam ayat di atas dijelaskan mengenai "tawasum". Term ini oleh al-Harawi disamakan "tafarus". Sedangkan pengertiannya adalah menyingkap suatu hikmah yang ghaib tanpa menggunakan metode trial dan error atau penelitian ilmiah terlebih dahulu.

Perbedaan tersebut, ketika dilihat dari aspek bahasa asilnya (bahasa Arab) maka ditemukan bahwa "firasah" merupakan akar kata dari "farasa" yang arti aslinya adalah kuda. Oleh karena adalah wajar ketika K.H. Umar Samarani menulis ilmu firasah dalam salah satu kitabnya dikenal dengan istilah ilmu katuranggan (kuda).

Al-Zajjaj sebagaimana yang dikutip oleh Ibn Manzur dalam Lisan al-Arab menyatakan bahwa orang yang hebat dari firasat ada tiga yaitu: Istrinya Aziz mengenai keberadaan atau masa depan Nabi Yusuf, Anak perempuan Nabi Syu’aib mengenai keberadaan Nabi Musa, dan Abu Bakar yang memprediksi kepemimpinan Umar Ibn Khaththab.

Al-Kamasykhanawiy dalam kitab Jami’ al-Ushul fi al-Awliya menyebutkan bahwa firasat mempunyai arti bahasa tatsabbut dan nazhr. Sedangkan menurut istilah adalah terbukanya keyakinan dan tertolongnya hati. Firasat juga dapat diartikan dengan kemampuan melihat beberapa hal yang ghaib dengan cahaya pancaran Allah atas hati seseorang. Firasat dapat pula diartikan dengan ingatan yang tertancap dalam hati yang mampu menafikan yang berlawanan.

Ibn Arabi dalam futuh al-Makiyyah memandang firasat berasal dari "iftirah" yaitu suatu sifat ilahi yang hukumnya menjadi pemaksaan dalam aspek-aspek yang di luar nalar biasa. 

Firasat oleh Ibn Arabi dibagi menjadi dua yaitu firasah hikmiyyah dan nafsiniyyah. Firasah hikmiyyah adalah firasah yang terjadi pada seseorang yang diketahui tanda-tanda yang dapat diamati secara alami (natural). Sedangkan firasah imaniyah atau disebut pula dengan firasat ilahiyah adalah firasat cahaya (nur) ilahi dalam mata hati (‘ain bashirah) orang mukmin yang dapat memahami suatu yang akan terjadi.

Ibn Arabi dalam tadbirat al-ilahiyah menjelaskan mengenai firasat dengan mendasarkan pendapatnya dengan firman Allah surat al-Hijr ayat 75., dan hadits Nabi Muhammad saw mengenai perlunya takut atas firasat orang mukmin yang diriwayatkan oleh Imam al-Turmudzi, Imam al-Thabari dan lain sebagainya. Masih dalam kitab yang sama, Ibn Arabi menjelaskan bahwa firasat merupakan cahaya (nur) dari cahaya Allah yang dapat memberi petunjuk kepada hamba-Nya. Firasat ini dapat diketahui tanda-tanda dalam fenomena zhahir makhluk. 

Dalam kitab ini, Ibn Arabi membagi firasat menjadi dua yaitu, Syar’iyyah dan hikmiyyah. Firasat syar’iyah tidak akan melenceng dari kebiasan. Semua ini berjalan sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Kahfi 82 (dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri (wa ma fa’altuhu ‘an amri). Sedangkan firasat hikmiyyah adalah pengetahuan berdasar pemikiran dan perenungan dan percobaan. Firasat ini yang biasa terjadi dan dapat dikaji oleh seseorang.

Salah satu contoh mengenai firasat adalah seseorang ideal orang yang rambutnya berwarna blonde (merah kekuning-kuningan) adalah tanda sebagai orang khiyanat, fasiq dan kurang akalnya. Contoh ini adalah salah satu contoh yang diberikan oleh Ibn Arabi sebagai bentuk firasat hikmiyyah.

Dalam al-Quran firasat dapat difahami dalam surat Muhammad ayat 30 “Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.
Ayat di atas turun kepada Nabi Muhammad saw yang telah diberi kemampuan untuk memahami sikap batin seseorang berdasarkan sifat zhahirnya.

Ayat yang kedua adalah surat al-Hijr ayat 75 “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.

Ulama ahli firasat mendasarkan firman Allah swt terutama dalam kata ‘mutawassimin. Kata ini yang kemudian menjadi perdebatan. Al-Qusyairi sebagai salah satu tokoh sufi dalam tafsirnya memaknai mutawasimin dengan ahli firasat. Ahli firasat dalam pandangan al-Qusyairi ini adalah wali Allah yang diberi anugerah untuk mengetahui sesuatu yang masih rahasia bagi orang lain. Hanya saja ahli firasat tidak selalu mampu menggunakan pengetahuan setiap saat dan setiap waktu. Akan tetapi dalam waktu-waktu tertentu tidak mampu menggunakannya. Al-Tustari dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat itu diartikan dengan ahli firasat dengan mengambil contoh ketika Amirul Mukminin Umar khutbah di atas mimbar tiba-tiba berkata “Hai Sariyah musuh ada di atas gunung, musuh ada di atas gunung", dan pasukan Sariyahpun pergi dan menghindari dari gunung tersebut.

Zamakhsyari dengan pemikiran secara rasionya menyatakan bahwa mutawassimin merupakan proses perenungan sehingga mampu memahami tanda-tanda. Artinya, dalam pandangan Zamakhsyari hal ini merupakan proses nalar murni, bukan karomah dari Allah sebagaimana kelompok sufi.

Sementara itu, tawasum sendiri jika dilihat dari aspek bahasa mempunyai arti menetapkan dan memikirkan. Hal ini dapat terjadi jika proses tersebut disertai dengan ketajaman hati dan kebersihan dalam berfikir.

Berdasarkan ayat di atas maka firasah akan terjadi hanyak pada orang-orang yang sholeh. Pola kesolehan ini diakui oleh Syah ibn Syuja’ al-Kirmani yang menyatakan, “ orang yang meramaikan zhahirnya dengan mengikuti sunnah dan bathinnya dengan melanggengkan muraqabah dan menjaga pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan serta mencegah dari perbuatan syahwat, membiasakan makan makanan yang halal, maka firasatnya tidak akan meleset. Ungkapan seperti ini juga disepakati oleh Ibn Taymiyyah.

Firasat seperti ini adalah berbeda dengan prasangka (zhann). Sebab zhan terkadang salah dan terkadang pula benar. Oleh karena itu dalam al-Quran dan Hadis Nabi, zhan adalah sesuatu yang dilarang. Sedangkan firasah dalah suatu kepastian dari Allah.

Firasat menurut Ibn Qayyim dalam kitab Madarij al-Salikin tingkatanya berada di bawah ilham. Ilham mempunyai kedudukan lebih tinggi dibandingkan firasat. Ibn Qayyim juga menjelaskan bahwa sebab terjadinya firasat ada dua yaitu; cerdas dan bersihnya hati serta baiknya perilaku seseorang. Kedua, nampaknya tanda dan petunjuk atas orang yang diberi firasat. Tanda yang nampak ini dapat terjadi pada sesuatu yang berlainan. Akan tetapi sebenarnya jika berlainan hakekatnya keduanya dapat terjadi.

Tahapan mencapai firasat

Firasat dapat dicapai dengan tahapan-tahapan yang harus dilakukan yaitu:
Iman yang dalam kepada Allah, mempunyai sikap ikhlas kepada Allah baik ketika sendiri atau bersama orang lain, memperbanyak zikir kepada Allah, bersihnya pola fikir dan cerdasnya perasaan, bersihnya hati dari syahwah dan hal subhat, mengosongkan hati dari aspek duniawi. Menjauhi perbuatan maksiat dan dosa, berakhlak baik dhahir batin, selalu makan yang halal, mencegah pandangan dari perbuatan yang diharamkan, mengisi bathin dengan muraqabah dan zhahir dengan mengikuti sunnah, berbuat jujur bukan berbuat bohong.

Derajat-derajat firasat

Ibn Qayyim dalam madarij al-Salikin membagi firasat menjadi tiga derajat.
Pertama, firasat yang muncul, langka dan hanya terjadi sekali dalam hidup seseorang. Firasat seperti ini terjadi dan tidak mungkin salah dan bukan bagian dari perdukunan firasat ini terjadi karena adanya hajat dari yang menginginkan dengan cara melakukan banyak zikir sehingga mendapatkan petunjuk dari Allah secara langsung.

Kedua, firasat yang muncul karena dalamnya iman seseorang, sehingga mampu melihat kebenaran hakiki. Firasat ini hanya terjadi bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dengan imam yang sebenarnya, bukan iman karena suatu aspek yang lain. Aspek kedua ini merupakan bagian dari kasyf dari Allah swt. Tingkat akuritas firasat ini tergantung atas kekuatan iman dan kasyf yang diberikan oleh Allah swt.

Ketiga, firasat yang terjadi atas orang-orang mulia untuk melakukan suatu hal dan bukan untuk diucapkan. Hal sebagaimana terjadi pada Maryam ketika akan melahirkan anak, ibunya Nabi Musa yang menghayutkan bayinya. Semua itu adalah firasat yang diberikan oleh Allah tanpa harus diucapkan akan tetapi dilakukan saja demi keselamatan meraka.

Macam-macam firasat

Firasat dilihat dari aspek yang mendapatkannya dibagi menjadi dua yaitu firasat agung mulia dan firasat rendah. Firasat rendah adalah firasat yang didapatkan baik orang mukmin atau orang kafir. Firasat ini dapat terjadi oleh semua orang yang melakukan ritual tertentu seperti riyadhah, tidak makan makanan terntu, tidak tidur malam, menyendiri, dan membersihkan batin dari hal yang menyebabkan orang tersibukkan dari keinginan mendapatkan fitasat. Sedangkan firasat agung mulia adalah firasat yang terjadi hanya bagi orang yang beriman dan selalu jujur dalam kehidupannya. Firasat seperti ini dapat diperoleh dengan cara cukup beriman kepada Allah secara utuh dan selalu berlaku jujur secara zhahir dan bathin.

Firasat jika dilihat dari aspek cara memperolehnya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pertama, firasat imaniyah, yaitu cahaya Allah yang menghunjam dalam hati orang mukmin yang dapat memahami dan membedakan tanda-tanda yang hak dan batil. Semakin kuat iman seseorang, maka akan semakin baik firasatnya dalam membedakan hal yang hak dan batil. 

Firasat seperti ini adalah firasat yang terjadi pada para wali Allah dengan mendapatkan karamah Allah sebagaimana yang difahami masyarakat Indonesia atas para wali Allah yang mendapatkan karomah. Hal ini terjadi misalnya dalam KH Khalil Madura yang mendapatkan karomah sehingga mampu untuk membaca kondisi santrinya yang kelak akan terjadi.

Kedua, firasat riyadhah, yaitu firasat yang dapat diperoleh oleh seseorang dengan menjalan olah badan seperti puasa tertentu, tidak tidur malam dalam waktu tertentu dan menyendiri (khalwat dalam waktu tertentu). Firasat ini dapat terjadi untuk setiap orang yang melakukan suatu ritual tertentu dan tidak membedakan agama atau keyakinan. Firasat ini jika dilihat di Indonesia, dapat dilihat dari beberapa ahli kejawen, para tokoh di suku dayak yang dianggap mempunyai kesaktian, dan tokoh lainnya yang tidak menjalankan syariat Islam akan tetapi mempunyai kemampuan di atas kemampuan manusia biasa.

Ketiga, firasat khalqiyah. Firasat ini dibuat oleh ilmuan yang meneliti suatu kondisi zhahir seseorang untuk melihat kondisi perilaku (khalq) seseorang. Misalnya ketika ada orang yang dahinya lebar, maka orang itu dianggap sebagai penyabar dan lain sebagainya.

Manusia-manusia yang mendapatkan Firasat

Dalam tradisi masyarakat kita, ada seseorang yang menjadi rujukan dalam mempertanyakan sesuatu yang akan terjadi, atau sesuatu yang lain. Orang dianggap mempunyai firasat dapat mengaplikasikan firasatnya. caranya adalah dengan mengheningkan cipta memanfaatkan pandangan, pendengaran dan hati secara bersamaan.

Orang-orang yang mendapatkan firasat dalam al-Quran

Data mengenai orang yang mendapat firasat dalam al-Quran didasarkan pada pendapat Ibn Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Sufyan al-Tsauri: “ahli firasat ada tiga yaitu Aziz ketika mengambil Nabi Yusuf sebagai anak, anak Syuaib meminta ayahnya agar menjadikan Nabi Musa sebagai pengembala yang kuat lagi dapat dipercaya, dan terakhir adalah Abu Bakar yang meminta Umar sebagai khalifah setelah beliau.

Berdasarkan pendapat Ibn Abbas tersebut, setidaknya dalam al-Quran adalah dua tokoh yang dianggap mampunyai firasat kuat yaitu Aziz dan anaknya Nabi Syuaib. Kisah Aziz disebutkan dalam surat Yusuf ayat 21. “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.”

Aziz yang membeli Yusuf menjadi perdebatan para ahli tafsir mengenai status agamanya, kafir atau muslim. Imam Alusi menyatakan bahwa ia adalah kafir sedangkan Imam Mujahid mengenai adalah mukmin. Akan tetapi para mufasir sepakat bahwa firasatnya Aziz adalah benar, bahwa Yusuf benar-benar menjadi orang yang mulia dan menjadi Nabi yang membantu membebaskan masyarakatnya dari belenggu kemiskinan.

Sementara itu, anaknya Nabi Syu’aib ketika melihat perilaku Nabi Musa yang tidak dikenal dan peduli untuk membantunya dalam mencarikan minuman untuk ternaknya, menganggap bahwa perilaku itu menunjukkan perilaku firasat akan kebaikan Nabi Musa. Aspek lain yang menjadi perhatian para mufassir sehingga menganggap sebagai firasat baik adalah ketika dalam perjalanan menuju pulang dari tempat pengembala sampai rumah dengan sikap yang baik pula.

Hal ini yang menjadi salah satu indikasi bahwa ada tabiat baik dalam diri Musa as.
Bentuk firasat lain yang hanya diketahui oleh orang baik adalah firasat yang dirasakan oleh istrinya FIraun, sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Qashash ayat 9. “Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari”

Dalam rangkaian cerita mengenai Musa dan istrinya Firaun ini ada beberapa bentuk firasat yang muncul yaitu firasat riyadhah yang dimiliki oleh tukang sihirnya raja Firaun yang menyatakan bahwa akan ada anak laki-laki yang dapat menggulingkan kekuasannya. 

Namun kesalahan yang terjadi atas firasat tersebut adalah raja fir’aun memberlakukan peraturan tidak secara utuh. Ada tahun dimana anak laki-laki yang lahir dibolehkan. Dalam kesempatan tersebut, Harun saudara laki-laki Musa lahir, sedangkan pada waktu kelahiran Nabi Musa hukum membunuh anak laki-laki berlaku. Firaun juga mempunyai firasat bahwa anak itu bukanlah dari jauh akan tetapi dari suku Qibthi. Hal ini dilihat dari warna kulit dan perawakan anak tersebut. Namun, Firaun tidak dapat membunuh anak tersebut atas permintaan Asiah.

Firasat lain yang berkaitan dengan Musa adalah yang diperoleh oleh Khidr as yang melakukan perbuatan yang di luar batas manusia. Firasat inilah yang membuat Musa merasa kecil walaupun ia seorang Rasul.

Firasat pada sahabat

Sahabat Nabi Muhammad adalah generasi yang baik dan mempunyai banyak firasat yang diakui kebenarananya. Misalnya, Firasatnya Abu Bakar bahwa yang akan menjadi pemimpin setelah ia adalah Umar. Menurut Abu Bakar, Umar orangnya adalah keras dan tidak kenal kompromi, walaupun begitu jika menjadi pemimpin, Umar dapat memimpin dengan baik dan tegas. Ternyata firasat Abu Bakar benar. artinya, sepanjang kepemimpinan Umar, umat Islam mengalami kejayaan yang luar biasa. Keadilan dapat ditegakkan, kesejahteraan terwujud.

Umar merupakan sahabat yang mempunyai firasat yang kuat. Saking kuatnya firasatnya Umar. Ibn Qayyim menyatakan “Umar adalah guru besar dalam bidang firasat yang tidak ada kesalahan dalam menjalankannya. Umar dalam memimpin Negara menggunakan firasat yang dikuatkan dengan wahyu.” Untuk menulusuri mengenai firasat Umar ini dapat dilihat karyanya Imam Suyuthi, Qathfu al-Tsamar fi Mauqifi Sayyidina Umar.

Para sahabat lain juga masih banyak yang memiliki firasat seperti Umar, yaitu antara lain Ali, Utsman, Abdullah Ibn Umar dan lain sebagainya.

Sementara ulama lainnya juga memiliki firasat antara lain Imam Syafii bertemu gurunya Imam Malik bin Anas untuk yang pertamakali, Imam Malik berkata: “Hai Muhammad, Alloh telah meletakkan nur ilmu di dalam hatimu. Maka janganlah kamu memadamkannya dengan melakukan maksiat kepada-Nya”. Ucapan itu pertanda bahwa Imam Malik dengan firasatnya telah mengetahui bahwa Imam Syafii adalah calon ulama besar di masa yang akan datang. Dan firasatnya itu benar dan terbukti, satelah Imam Malik meninggal, Imam 
Syafii benar-benar menjadi kiblat bagi para ulama pada saat masih hidup dan sesudah wafat, hingga pengaruhnya menyebar ke seluruh pelosok dunia Islam.

Firasat di Nusantara


Tanah Nusantara ini mempunyai banyak tokoh yang memiliki firasat yang kuat. Firasat tersebut ada yang hanya menjadi cerita melegenda. Firasat yang ditulis antara lain dengan menggunakan bahasa Jawa oleh Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningkrat. Firasat yang dibukukan merupakan firasat khalqiyah berupa rajah tangan. Dalam tulisan tersebut, ia menulis beberapa tanda garis tangan yang berkaitan dengan watak dan sifat seseorang. Rajah tangan ini tidak dapat diaplikasikan oleh setiap orang, sebelum orang tersebut melakukan riyadhah tertentu.

Bentuk Syekh Umar Semarang salah satu ulama besar di Indonesia menulis kitab yang didalamnya berisi mengenai ilmu firasat yang bermanfaat untuk mengetahui sifat perempuan berdasarkan muka dan telapak tangan. Kitab tersebut berjudul Majmua’ah al-Syariah al-Kafiyah li al-‘Awam. Pokok bahasannya adalah dalam fash al-khitbah. Dalam kitab tersebut disebutkan dikutip menurut pendapat ahli firasah, namun tidak disebutkan dari mana sumber tersebut.

Dua buku ini merupakan salah satu sarana yang dapat dipakai oleh setiap orang yang akan menikah untuk melihat kebaikan dan ketidakbaikan dari jodoh yang akan dinikah.
Dalam kasus tertentu, firasat dapat terjadi dalam keadaan mendeteksi kejadian yang akan datang. Misalnya pernyataan KH Shonhaji menyatakan Gus Dur akan menjadi Presiden, padahal saat itu, gus Dur sedang sakit. Pernyataan KH Shonhaji ini adalah benar adanya. 

Masih dalam kasus Gus Dur misalnya ketika ziarah ke makam Kakeknya, lantas mengatakan besok tanggal 31 Desember saya akan ke sini lagi dan banyak tokoh yang datang ke sini. Aspek firasat ini menunjukkan bahwa ia meninggal dan dikuburkan pada tanggal tersebut.
Aspek firasat ini juga pernah ditulis oleh Ronggowarsito yang menulis tanda-tanda (firasat) orang yang akan meninggal. Firasat ini dimulai sejak setahun sebelum meninggal sampai beberapa jam sebelum meninggal.

Firasat lain misalnya yang dilakukan oleh KH Kholil ketika mendidikan muridnya dengan berbagai model dan cara. Firasat yang ia peroleh ditunjukkan dengan beberapa cara kepada santri dan calon santrinya. Sampai akhirnya, berdirinya NU juga atas firasat yang diberikan KH Kholil kepada KH Hasyim Asy’ari.
[Masyhar]

Sumber Bacaan
Ibnu Manzur, Lisan al-Arabi, Baerut : Dar al-Shadir, 2008
Ibn Qayyim, Siraj al-Salikin,
Ibn Arabi, Futuh al-Makiyyah
Ibn Arabi, Insya al-Dawair,
Al-Syaukani, Fath al-Qadir,
Al-Qusyairi, lathaif al- Isyarah
Al-Jurjani, al-Ta’rifat

Mengenal Ilmu Firasat Dalam Islam

ilmu firasat wajah, ilmu firasat batin, ilmu firasat dalam islam, ilmu firasat tubuh, amalan ilmu firasat, belajar ilmu firasat, definisi ilmu firasat, ilmu firasat sumber isyarat, kelebihan ilmu firasat, kitab ilmu firasat, mempelajari ilmu firasat, pengertian ilmu firasat, sejarah ilmu firasat

Dalam sebuah episode Mata Najwa di trans7 yang berjudul Gus Mus dan Negeri Teka Teki, Gus Mus sempat menyinggung ilmu firasat yang dulu pernah di pelajarinya. Menarik untuk di cari lebih lanjut, apa dan bagaimana ilmu firasat itu. Ilmu membahas mengenai ciri khas dan perilaku manusia berdasarkan perangai yang ada di dalam muka seseorang.

Pengertian Ilmu Firasat

Firasat secara bahasa adalah mempunyai arti memastikan dan mempertimbangkan. Adapula yang mengartikan firasat dengan ilmu yang hanya Allah-lah mengetahui.

Dalam kamus bahasa Indonesia firasat diartikan dengan:

1. keadaan yang dirasakan (diketahui) akan terjadi sesudah melihat gelagat: rupanya dia sudah mendapat -firasat- bahwa tidak lama lagi polisi akan membekuknya;

2. kecakapan mengetahui (meramalkan) sesuatu dengan melihat keadaan (muka dan sebagainya): menurut -firasat- ku, ia adalah orang yang bijaksana; 

3. pengetahuan tentang tanda-tanda pada badan (tangan dan sebagainya) untuk mengetahui tabiat (untung malang dan sebagainya) orang: setengah orang percaya benar kepada ilmu -firasat-; 

4. keadaan muka (mata, bibir, dan sebagainya) yang dihubung-hubungkan dengan tabiat orangnya (untuk mengetahui tabiat orang): menilik -firasat- nya orang itu keras hati sebab rambutnya tebal dan kaku.

Para ahli berbeda pendapat mengenai firasat ini. akan tetapi perbedaan tersebut mempunyai satu pengertian yang sama yaitu, prasangka yang benar yang didasarkan atas fenomena zahir untuk memahami fenomena batin. 

Pemahaman fenomena ini bukan didasarkan dari petunjuk syetan. akan tetapi, menggunakan kerangka dan metode ‘ilmiah’  (artinya: firasat merupakan ilmu, bukan yang lain). Firasat sebagai bagian dari ilmu tidak dapat difahami oleh setiap manusia, akan tetapi hanya bagi hamba Allah yang suci yang mampu mendaki pendakian ilmu tersebut. Jika dibandingkan dengan kedokteran, maka ilmu kedokteran juga tidak dapat difahami oleh setiap orang, kecuali hanya oleh orang yang mengkaji khusus mengenai kedokteran.

Ibn Atsir mengartikan firasat dengan dua arti yaitu: 

Pertama, pemahaman yang didasarkan suatu hadits “takutlah atas firasat orang mukmin. Sebab diperoleh dari cahaya Allah.”(ittaq├╗ firasat al-mu’min fa innahu yanzhuru bi nur Allah). Artinya, bahwa firasat orang mukmin yang menjadi kekasih Allah adalah benar. Sebab hal itu merupakan bagian dari karomah yang diberikan Allah kepada hambanya yang dicintai.

Kedua, semacam kemampuan seseorang yang mampu membaca sifat, akhlak dan lainnya orang lain melalui petunjuk, percobaan dan lain sebagainya. Akan tetapi hal ini yang memperolehnya adalah tetap yang bersih hatinya dan merupakan salah satu karamah Allah swt.

Salah satu contoh tokoh yang dijadikan prototype seperti ini adalah nabi Khidir as yang berperilaku aneh di depan Nabi Musa as. (QS: al-Kahfi: 65)

Al-Zabidi mengartikan firasah dengan "tawassum". Firasat menurut al-Harawi (396-481 H) dalam Manazil al-Sairin dinyatakan bahwa fisarat merupakan suatu ilmu yang disandarkan dalam surat al-Hijr ayat 75 yang artinya: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda".

Dalam ayat di atas dijelaskan mengenai "tawasum". Term ini oleh al-Harawi disamakan "tafarus". Sedangkan pengertiannya adalah menyingkap suatu hikmah yang ghaib tanpa menggunakan metode trial dan error atau penelitian ilmiah terlebih dahulu.

Perbedaan tersebut, ketika dilihat dari aspek bahasa asilnya (bahasa Arab) maka ditemukan bahwa "firasah" merupakan akar kata dari "farasa" yang arti aslinya adalah kuda. Oleh karena adalah wajar ketika K.H. Umar Samarani menulis ilmu firasah dalam salah satu kitabnya dikenal dengan istilah ilmu katuranggan (kuda).

Al-Zajjaj sebagaimana yang dikutip oleh Ibn Manzur dalam Lisan al-Arab menyatakan bahwa orang yang hebat dari firasat ada tiga yaitu: Istrinya Aziz mengenai keberadaan atau masa depan Nabi Yusuf, Anak perempuan Nabi Syu’aib mengenai keberadaan Nabi Musa, dan Abu Bakar yang memprediksi kepemimpinan Umar Ibn Khaththab.

Al-Kamasykhanawiy dalam kitab Jami’ al-Ushul fi al-Awliya menyebutkan bahwa firasat mempunyai arti bahasa tatsabbut dan nazhr. Sedangkan menurut istilah adalah terbukanya keyakinan dan tertolongnya hati. Firasat juga dapat diartikan dengan kemampuan melihat beberapa hal yang ghaib dengan cahaya pancaran Allah atas hati seseorang. Firasat dapat pula diartikan dengan ingatan yang tertancap dalam hati yang mampu menafikan yang berlawanan.

Ibn Arabi dalam futuh al-Makiyyah memandang firasat berasal dari "iftirah" yaitu suatu sifat ilahi yang hukumnya menjadi pemaksaan dalam aspek-aspek yang di luar nalar biasa. 

Firasat oleh Ibn Arabi dibagi menjadi dua yaitu firasah hikmiyyah dan nafsiniyyah. Firasah hikmiyyah adalah firasah yang terjadi pada seseorang yang diketahui tanda-tanda yang dapat diamati secara alami (natural). Sedangkan firasah imaniyah atau disebut pula dengan firasat ilahiyah adalah firasat cahaya (nur) ilahi dalam mata hati (‘ain bashirah) orang mukmin yang dapat memahami suatu yang akan terjadi.

Ibn Arabi dalam tadbirat al-ilahiyah menjelaskan mengenai firasat dengan mendasarkan pendapatnya dengan firman Allah surat al-Hijr ayat 75., dan hadits Nabi Muhammad saw mengenai perlunya takut atas firasat orang mukmin yang diriwayatkan oleh Imam al-Turmudzi, Imam al-Thabari dan lain sebagainya. Masih dalam kitab yang sama, Ibn Arabi menjelaskan bahwa firasat merupakan cahaya (nur) dari cahaya Allah yang dapat memberi petunjuk kepada hamba-Nya. Firasat ini dapat diketahui tanda-tanda dalam fenomena zhahir makhluk. 

Dalam kitab ini, Ibn Arabi membagi firasat menjadi dua yaitu, Syar’iyyah dan hikmiyyah. Firasat syar’iyah tidak akan melenceng dari kebiasan. Semua ini berjalan sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Kahfi 82 (dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri (wa ma fa’altuhu ‘an amri). Sedangkan firasat hikmiyyah adalah pengetahuan berdasar pemikiran dan perenungan dan percobaan. Firasat ini yang biasa terjadi dan dapat dikaji oleh seseorang.

Salah satu contoh mengenai firasat adalah seseorang ideal orang yang rambutnya berwarna blonde (merah kekuning-kuningan) adalah tanda sebagai orang khiyanat, fasiq dan kurang akalnya. Contoh ini adalah salah satu contoh yang diberikan oleh Ibn Arabi sebagai bentuk firasat hikmiyyah.

Dalam al-Quran firasat dapat difahami dalam surat Muhammad ayat 30 “Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.
Ayat di atas turun kepada Nabi Muhammad saw yang telah diberi kemampuan untuk memahami sikap batin seseorang berdasarkan sifat zhahirnya.

Ayat yang kedua adalah surat al-Hijr ayat 75 “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.

Ulama ahli firasat mendasarkan firman Allah swt terutama dalam kata ‘mutawassimin. Kata ini yang kemudian menjadi perdebatan. Al-Qusyairi sebagai salah satu tokoh sufi dalam tafsirnya memaknai mutawasimin dengan ahli firasat. Ahli firasat dalam pandangan al-Qusyairi ini adalah wali Allah yang diberi anugerah untuk mengetahui sesuatu yang masih rahasia bagi orang lain. Hanya saja ahli firasat tidak selalu mampu menggunakan pengetahuan setiap saat dan setiap waktu. Akan tetapi dalam waktu-waktu tertentu tidak mampu menggunakannya. Al-Tustari dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat itu diartikan dengan ahli firasat dengan mengambil contoh ketika Amirul Mukminin Umar khutbah di atas mimbar tiba-tiba berkata “Hai Sariyah musuh ada di atas gunung, musuh ada di atas gunung", dan pasukan Sariyahpun pergi dan menghindari dari gunung tersebut.

Zamakhsyari dengan pemikiran secara rasionya menyatakan bahwa mutawassimin merupakan proses perenungan sehingga mampu memahami tanda-tanda. Artinya, dalam pandangan Zamakhsyari hal ini merupakan proses nalar murni, bukan karomah dari Allah sebagaimana kelompok sufi.

Sementara itu, tawasum sendiri jika dilihat dari aspek bahasa mempunyai arti menetapkan dan memikirkan. Hal ini dapat terjadi jika proses tersebut disertai dengan ketajaman hati dan kebersihan dalam berfikir.

Berdasarkan ayat di atas maka firasah akan terjadi hanyak pada orang-orang yang sholeh. Pola kesolehan ini diakui oleh Syah ibn Syuja’ al-Kirmani yang menyatakan, “ orang yang meramaikan zhahirnya dengan mengikuti sunnah dan bathinnya dengan melanggengkan muraqabah dan menjaga pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan serta mencegah dari perbuatan syahwat, membiasakan makan makanan yang halal, maka firasatnya tidak akan meleset. Ungkapan seperti ini juga disepakati oleh Ibn Taymiyyah.

Firasat seperti ini adalah berbeda dengan prasangka (zhann). Sebab zhan terkadang salah dan terkadang pula benar. Oleh karena itu dalam al-Quran dan Hadis Nabi, zhan adalah sesuatu yang dilarang. Sedangkan firasah dalah suatu kepastian dari Allah.

Firasat menurut Ibn Qayyim dalam kitab Madarij al-Salikin tingkatanya berada di bawah ilham. Ilham mempunyai kedudukan lebih tinggi dibandingkan firasat. Ibn Qayyim juga menjelaskan bahwa sebab terjadinya firasat ada dua yaitu; cerdas dan bersihnya hati serta baiknya perilaku seseorang. Kedua, nampaknya tanda dan petunjuk atas orang yang diberi firasat. Tanda yang nampak ini dapat terjadi pada sesuatu yang berlainan. Akan tetapi sebenarnya jika berlainan hakekatnya keduanya dapat terjadi.

Tahapan mencapai firasat

Firasat dapat dicapai dengan tahapan-tahapan yang harus dilakukan yaitu:
Iman yang dalam kepada Allah, mempunyai sikap ikhlas kepada Allah baik ketika sendiri atau bersama orang lain, memperbanyak zikir kepada Allah, bersihnya pola fikir dan cerdasnya perasaan, bersihnya hati dari syahwah dan hal subhat, mengosongkan hati dari aspek duniawi. Menjauhi perbuatan maksiat dan dosa, berakhlak baik dhahir batin, selalu makan yang halal, mencegah pandangan dari perbuatan yang diharamkan, mengisi bathin dengan muraqabah dan zhahir dengan mengikuti sunnah, berbuat jujur bukan berbuat bohong.

Derajat-derajat firasat

Ibn Qayyim dalam madarij al-Salikin membagi firasat menjadi tiga derajat.
Pertama, firasat yang muncul, langka dan hanya terjadi sekali dalam hidup seseorang. Firasat seperti ini terjadi dan tidak mungkin salah dan bukan bagian dari perdukunan firasat ini terjadi karena adanya hajat dari yang menginginkan dengan cara melakukan banyak zikir sehingga mendapatkan petunjuk dari Allah secara langsung.

Kedua, firasat yang muncul karena dalamnya iman seseorang, sehingga mampu melihat kebenaran hakiki. Firasat ini hanya terjadi bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dengan imam yang sebenarnya, bukan iman karena suatu aspek yang lain. Aspek kedua ini merupakan bagian dari kasyf dari Allah swt. Tingkat akuritas firasat ini tergantung atas kekuatan iman dan kasyf yang diberikan oleh Allah swt.

Ketiga, firasat yang terjadi atas orang-orang mulia untuk melakukan suatu hal dan bukan untuk diucapkan. Hal sebagaimana terjadi pada Maryam ketika akan melahirkan anak, ibunya Nabi Musa yang menghayutkan bayinya. Semua itu adalah firasat yang diberikan oleh Allah tanpa harus diucapkan akan tetapi dilakukan saja demi keselamatan meraka.

Macam-macam firasat

Firasat dilihat dari aspek yang mendapatkannya dibagi menjadi dua yaitu firasat agung mulia dan firasat rendah. Firasat rendah adalah firasat yang didapatkan baik orang mukmin atau orang kafir. Firasat ini dapat terjadi oleh semua orang yang melakukan ritual tertentu seperti riyadhah, tidak makan makanan terntu, tidak tidur malam, menyendiri, dan membersihkan batin dari hal yang menyebabkan orang tersibukkan dari keinginan mendapatkan fitasat. Sedangkan firasat agung mulia adalah firasat yang terjadi hanya bagi orang yang beriman dan selalu jujur dalam kehidupannya. Firasat seperti ini dapat diperoleh dengan cara cukup beriman kepada Allah secara utuh dan selalu berlaku jujur secara zhahir dan bathin.

Firasat jika dilihat dari aspek cara memperolehnya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pertama, firasat imaniyah, yaitu cahaya Allah yang menghunjam dalam hati orang mukmin yang dapat memahami dan membedakan tanda-tanda yang hak dan batil. Semakin kuat iman seseorang, maka akan semakin baik firasatnya dalam membedakan hal yang hak dan batil. 

Firasat seperti ini adalah firasat yang terjadi pada para wali Allah dengan mendapatkan karamah Allah sebagaimana yang difahami masyarakat Indonesia atas para wali Allah yang mendapatkan karomah. Hal ini terjadi misalnya dalam KH Khalil Madura yang mendapatkan karomah sehingga mampu untuk membaca kondisi santrinya yang kelak akan terjadi.

Kedua, firasat riyadhah, yaitu firasat yang dapat diperoleh oleh seseorang dengan menjalan olah badan seperti puasa tertentu, tidak tidur malam dalam waktu tertentu dan menyendiri (khalwat dalam waktu tertentu). Firasat ini dapat terjadi untuk setiap orang yang melakukan suatu ritual tertentu dan tidak membedakan agama atau keyakinan. Firasat ini jika dilihat di Indonesia, dapat dilihat dari beberapa ahli kejawen, para tokoh di suku dayak yang dianggap mempunyai kesaktian, dan tokoh lainnya yang tidak menjalankan syariat Islam akan tetapi mempunyai kemampuan di atas kemampuan manusia biasa.

Ketiga, firasat khalqiyah. Firasat ini dibuat oleh ilmuan yang meneliti suatu kondisi zhahir seseorang untuk melihat kondisi perilaku (khalq) seseorang. Misalnya ketika ada orang yang dahinya lebar, maka orang itu dianggap sebagai penyabar dan lain sebagainya.

Manusia-manusia yang mendapatkan Firasat

Dalam tradisi masyarakat kita, ada seseorang yang menjadi rujukan dalam mempertanyakan sesuatu yang akan terjadi, atau sesuatu yang lain. Orang dianggap mempunyai firasat dapat mengaplikasikan firasatnya. caranya adalah dengan mengheningkan cipta memanfaatkan pandangan, pendengaran dan hati secara bersamaan.

Orang-orang yang mendapatkan firasat dalam al-Quran

Data mengenai orang yang mendapat firasat dalam al-Quran didasarkan pada pendapat Ibn Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Sufyan al-Tsauri: “ahli firasat ada tiga yaitu Aziz ketika mengambil Nabi Yusuf sebagai anak, anak Syuaib meminta ayahnya agar menjadikan Nabi Musa sebagai pengembala yang kuat lagi dapat dipercaya, dan terakhir adalah Abu Bakar yang meminta Umar sebagai khalifah setelah beliau.

Berdasarkan pendapat Ibn Abbas tersebut, setidaknya dalam al-Quran adalah dua tokoh yang dianggap mampunyai firasat kuat yaitu Aziz dan anaknya Nabi Syuaib. Kisah Aziz disebutkan dalam surat Yusuf ayat 21. “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.”

Aziz yang membeli Yusuf menjadi perdebatan para ahli tafsir mengenai status agamanya, kafir atau muslim. Imam Alusi menyatakan bahwa ia adalah kafir sedangkan Imam Mujahid mengenai adalah mukmin. Akan tetapi para mufasir sepakat bahwa firasatnya Aziz adalah benar, bahwa Yusuf benar-benar menjadi orang yang mulia dan menjadi Nabi yang membantu membebaskan masyarakatnya dari belenggu kemiskinan.

Sementara itu, anaknya Nabi Syu’aib ketika melihat perilaku Nabi Musa yang tidak dikenal dan peduli untuk membantunya dalam mencarikan minuman untuk ternaknya, menganggap bahwa perilaku itu menunjukkan perilaku firasat akan kebaikan Nabi Musa. Aspek lain yang menjadi perhatian para mufassir sehingga menganggap sebagai firasat baik adalah ketika dalam perjalanan menuju pulang dari tempat pengembala sampai rumah dengan sikap yang baik pula.

Hal ini yang menjadi salah satu indikasi bahwa ada tabiat baik dalam diri Musa as.
Bentuk firasat lain yang hanya diketahui oleh orang baik adalah firasat yang dirasakan oleh istrinya FIraun, sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Qashash ayat 9. “Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari”

Dalam rangkaian cerita mengenai Musa dan istrinya Firaun ini ada beberapa bentuk firasat yang muncul yaitu firasat riyadhah yang dimiliki oleh tukang sihirnya raja Firaun yang menyatakan bahwa akan ada anak laki-laki yang dapat menggulingkan kekuasannya. 

Namun kesalahan yang terjadi atas firasat tersebut adalah raja fir’aun memberlakukan peraturan tidak secara utuh. Ada tahun dimana anak laki-laki yang lahir dibolehkan. Dalam kesempatan tersebut, Harun saudara laki-laki Musa lahir, sedangkan pada waktu kelahiran Nabi Musa hukum membunuh anak laki-laki berlaku. Firaun juga mempunyai firasat bahwa anak itu bukanlah dari jauh akan tetapi dari suku Qibthi. Hal ini dilihat dari warna kulit dan perawakan anak tersebut. Namun, Firaun tidak dapat membunuh anak tersebut atas permintaan Asiah.

Firasat lain yang berkaitan dengan Musa adalah yang diperoleh oleh Khidr as yang melakukan perbuatan yang di luar batas manusia. Firasat inilah yang membuat Musa merasa kecil walaupun ia seorang Rasul.

Firasat pada sahabat

Sahabat Nabi Muhammad adalah generasi yang baik dan mempunyai banyak firasat yang diakui kebenarananya. Misalnya, Firasatnya Abu Bakar bahwa yang akan menjadi pemimpin setelah ia adalah Umar. Menurut Abu Bakar, Umar orangnya adalah keras dan tidak kenal kompromi, walaupun begitu jika menjadi pemimpin, Umar dapat memimpin dengan baik dan tegas. Ternyata firasat Abu Bakar benar. artinya, sepanjang kepemimpinan Umar, umat Islam mengalami kejayaan yang luar biasa. Keadilan dapat ditegakkan, kesejahteraan terwujud.

Umar merupakan sahabat yang mempunyai firasat yang kuat. Saking kuatnya firasatnya Umar. Ibn Qayyim menyatakan “Umar adalah guru besar dalam bidang firasat yang tidak ada kesalahan dalam menjalankannya. Umar dalam memimpin Negara menggunakan firasat yang dikuatkan dengan wahyu.” Untuk menulusuri mengenai firasat Umar ini dapat dilihat karyanya Imam Suyuthi, Qathfu al-Tsamar fi Mauqifi Sayyidina Umar.

Para sahabat lain juga masih banyak yang memiliki firasat seperti Umar, yaitu antara lain Ali, Utsman, Abdullah Ibn Umar dan lain sebagainya.

Sementara ulama lainnya juga memiliki firasat antara lain Imam Syafii bertemu gurunya Imam Malik bin Anas untuk yang pertamakali, Imam Malik berkata: “Hai Muhammad, Alloh telah meletakkan nur ilmu di dalam hatimu. Maka janganlah kamu memadamkannya dengan melakukan maksiat kepada-Nya”. Ucapan itu pertanda bahwa Imam Malik dengan firasatnya telah mengetahui bahwa Imam Syafii adalah calon ulama besar di masa yang akan datang. Dan firasatnya itu benar dan terbukti, satelah Imam Malik meninggal, Imam 
Syafii benar-benar menjadi kiblat bagi para ulama pada saat masih hidup dan sesudah wafat, hingga pengaruhnya menyebar ke seluruh pelosok dunia Islam.

Firasat di Nusantara


Tanah Nusantara ini mempunyai banyak tokoh yang memiliki firasat yang kuat. Firasat tersebut ada yang hanya menjadi cerita melegenda. Firasat yang ditulis antara lain dengan menggunakan bahasa Jawa oleh Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningkrat. Firasat yang dibukukan merupakan firasat khalqiyah berupa rajah tangan. Dalam tulisan tersebut, ia menulis beberapa tanda garis tangan yang berkaitan dengan watak dan sifat seseorang. Rajah tangan ini tidak dapat diaplikasikan oleh setiap orang, sebelum orang tersebut melakukan riyadhah tertentu.

Bentuk Syekh Umar Semarang salah satu ulama besar di Indonesia menulis kitab yang didalamnya berisi mengenai ilmu firasat yang bermanfaat untuk mengetahui sifat perempuan berdasarkan muka dan telapak tangan. Kitab tersebut berjudul Majmua’ah al-Syariah al-Kafiyah li al-‘Awam. Pokok bahasannya adalah dalam fash al-khitbah. Dalam kitab tersebut disebutkan dikutip menurut pendapat ahli firasah, namun tidak disebutkan dari mana sumber tersebut.

Dua buku ini merupakan salah satu sarana yang dapat dipakai oleh setiap orang yang akan menikah untuk melihat kebaikan dan ketidakbaikan dari jodoh yang akan dinikah.
Dalam kasus tertentu, firasat dapat terjadi dalam keadaan mendeteksi kejadian yang akan datang. Misalnya pernyataan KH Shonhaji menyatakan Gus Dur akan menjadi Presiden, padahal saat itu, gus Dur sedang sakit. Pernyataan KH Shonhaji ini adalah benar adanya. 

Masih dalam kasus Gus Dur misalnya ketika ziarah ke makam Kakeknya, lantas mengatakan besok tanggal 31 Desember saya akan ke sini lagi dan banyak tokoh yang datang ke sini. Aspek firasat ini menunjukkan bahwa ia meninggal dan dikuburkan pada tanggal tersebut.
Aspek firasat ini juga pernah ditulis oleh Ronggowarsito yang menulis tanda-tanda (firasat) orang yang akan meninggal. Firasat ini dimulai sejak setahun sebelum meninggal sampai beberapa jam sebelum meninggal.

Firasat lain misalnya yang dilakukan oleh KH Kholil ketika mendidikan muridnya dengan berbagai model dan cara. Firasat yang ia peroleh ditunjukkan dengan beberapa cara kepada santri dan calon santrinya. Sampai akhirnya, berdirinya NU juga atas firasat yang diberikan KH Kholil kepada KH Hasyim Asy’ari.
[Masyhar]

Sumber Bacaan
Ibnu Manzur, Lisan al-Arabi, Baerut : Dar al-Shadir, 2008
Ibn Qayyim, Siraj al-Salikin,
Ibn Arabi, Futuh al-Makiyyah
Ibn Arabi, Insya al-Dawair,
Al-Syaukani, Fath al-Qadir,
Al-Qusyairi, lathaif al- Isyarah
Al-Jurjani, al-Ta’rifat

No comments